
Matahari sudah menyungsung perlahan ke arah barat, pekerjaan Arini di toko bunga Gardenia Floris sudah hampir selesai. Ia sedang bersiap-siap untuk pulang, karena jam 3 nanti ia harus bekerja lagi di restoran cepat saji.
Arini menghampiri Denia yang berada di ruang kerjanya. "Permisi, Bu Denia saya pulang dulu!" ucap Arini seraya mengetuk pintu.
"Masuklah dulu, Arini!" sahut Denia dari dalam.
Arini pun masuk. "Ada apa, Bu Denia?" tanya Arini.
"Arini, ini gaji kamu bulan ini ya!" menyerahkan amplop berwarna coklat pada Arini.
"Tapi ini baru dua minggu, Bu Denia. Saya sudah menerimanya bulan kemarin," jawab Arini sungkan.
"Tidak apa, ini bonus buat kamu, karena kamu sangat bekerja keras. Toko bungaku jadi makin rame karena kamu," ujar Denia.
"Ini semua juga karena Bu Denia yang mengajarkan saya, terimakasih banyak, Bu!"
"Jangan gitu dong, Ibu jadi malu! Hihi ...."
"Kalo gitu, saya pamit pulang, Bu!"
"Iya Arini, titip Aliya ya!"
"Pasti, Bu" Arini pun keluar dari ruangan Denia dan langsung pulang.
Sesampainya di rumah kostan, Arini mencari keberadaan Rizky yang ternyata anak remaja itu sedang melakukan sesuatu.
"Ki, kamu ngapain?" tanya Arini yang langsung mengagetkan Rizky.
"M–mbak Arini?" ucap Rizky yang terkejut.
"Kamu ngapain, dipanggil-panggil gak denger?"
"Oh ini Mbak, aku lagi cari minyak kayu putih."
"Kamu sakit?" tanya Arini khawatir.
"Enggak kok, Mbak," jawab Rizky, tiba-tiba matanya melirik paper bag yang Arini bawa. "Mbak Arini, habis gajian ya?"
"Oh iya, Mbak lupa. Ayo kita makan sama-sama!"
Arini dan Rizky pun memakan makanan yang Arini beli tadi ketika menuju pulang. Mereka berdua makan sambil bercerita, tak jarang mereka juga tertertawa bersama.
"Mbak Arini!"
"Hem," jawab Arini yang sedang mengunyah makanannya.
"Aku kemarin liat Kak Ardan," ucap Rizky.
Arini menghentikan kunyahannya dan langsung mengambil minum. "Di–dimana?" tanyanya.
__ADS_1
"Di dalam mobil, Kak. Dia bersama seorang wanita tua," jawab Rizky takut-takut.
Arini terdiam, ada rasa sesak di dalam hatinya. Sampai kapan dia harus digantung dengan statusnya ini, dia masih sah sebagai istri dari laki-laki itu. Tidak ada kata perpisahan ataupun surat cerai secara resmi.
Ingin rasanya Arini menemui laki-laki itu, untuk meminta penjelasan tentang semuanya, semua kejadian satu tahun yang lalu itu. Tapi, Arini harus mencari Ardan kemana? Rumahnya saja Arini tidak tahu. Arini hanya mengetahui kabar itu dari televisi yang menyiarkan berita tentang perusahaannya.
Beberapa bulan yang lalu, Ardan memang pergi ke Jerman untuk mengantar sang nenek menjalani pengobatan disana. Namun sekarang dia sudah kembali, pantas saja Rizky dan dirinya juga melihat Ardan, walaupun tidak terlalu jelas wajahnya karena jarak jauh.
Arini berdiri dari tempat duduknya. "Aku mau siap-siap berangkat kerja dulu, Ki."
"Iya Mbak."
**
Di tempatnya bekerja, Arini sangat tidak fokus. Beberapa kali ia melamun saat bekerja, hingga para pekerja lain menegurnya.
"Rin, di depan ramai tuh, bantuin sana!" suruh Eli.
Tanpa menjawab, Arini langsung menuju kasir untuk membantu pekerja lain. Entah mengapa hari ini begitu banyak pengunjung, padahal hari ini juga bukan hari libur.
Saat Arini sedang melayani pembeli, tiba-tiba seseorang menerobos antrian cukup panjang itu. Para pengunjung yang sedang mengantri pun dibuat kesal oleh tingkah seseorang itu. Tidak banyak dari mereka yang marah dan mengakatai seseorang itu yang ternyata adalah Sean, laki-laki itu menyamar masuk ke restoran tempat kerja Arini.
Tidak hanya pengunjung, Arini juga dibuat kesal oleh Sean. "Maaf, Tuan, apakah Anda tidak bisa baca tulisan itu." menunjuk ke arah yang bertulisan 'Harap Mengantri' yang ada di atas meja.
Sean yang saat itu menggunakan topi dan masker hitam mendekat ke arah Arini. Ia membuka maskernya sedikit, lalu berbisik pada Arini. "Ini gue, Sean."
"Kamu?" lirih Arini. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Arini pelan.
"Aku ingin–"
"Woi ... ngantri dong? Jangan main terobos aja," teriak seorang ibu-ibu yang mengantri.
"Iya nih, yang tertib dong?" sahut yang lain. Mereka saling sahut menyahut, mengatai Sean yang sudah ada di antrian paling depan.
Arini kebingungan menenangkan para pengunjung. Mendengar keributan di luar, manager restoran cepat saji itu pun keluar. "Ada apa ini?" tanyanya. Pria itu menatap Arini dan Sean bergantian.
"Arini, ikut ke ruangan saya!" ucap pria itu.
Bukan Arini yang menjawabnya, sebaliknya, Sean yang langsung menghampiri pria itu. "Gue yang akan tanggung jawab semua ini," jawab Sean. Manager itu pun membawa Sean ke ruangannya.
Setelah kembali, Sean langsung menarik tangan Arini. "Hei ... apa-apan ini? Lepasin!"
"Kalian semua, makanlah sepuasnya! Gue yang akan bayarin," Setelah itu Sean kembali menarik Arini.
"Lepasin gak!" ucap Arini geram.
"Nurut bentar aja, napa sih?"
"Ngapain aku harus nurut sama orang yang selalu memaksakan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri," jawab Arini tegas.
__ADS_1
Sean berhenti. "Gue mohon, nurut aja bentar. Gue gak akan sakitin lo kok?"
"Oke, tapi lepasin tangan aku, aku bisa jalan sendiri!" ujar Arini.
Sean pun melepaskan cengkramannya dari lengan Arini. "Oke, gue lepasin."
Mereka berdua memasuki mobil. Di dalam mobil, hanya keheningan yang terasa. Arini yang terlanjur kesal terhadap Sean memilih diam, walaupun sebenarnya di hati Arini ingin bertanya, mau dibawa kemana dia?
Mobil Sean berhenti disebuah caffe, laki-laki itu masuk dengan Arini yang mengekor di belakangnya. Mereka masuk ke dalam ruang khusus vvip. Arini jelas saja keheranan, untuk apa dia dibawa kesini? Kalau hanya sekedar mengajak makan, kenapa tidak di restoran tempat ia bekerja saja?
"Lo laper?" tanya Sean, yang langsung mengagetkan Arini dari lamunannya.
"Gak!" jawab Arini ketus.
"Syukurlah, lagian gue cuma tanya doang," jawab Sean menggoda Arini.
"Laki-laki menyebalkan!" ujar Arini dalam hati.
Sean yang mengerti ekspresi dari Arini pun tersenyum. "Bercanda doang, hehehe ...."
"Gak lucu! Cepat beritahu aku, apa tujuanmu menculikku lagi?"
"Gue gak culik lo, lo sendiri 'kan yang mau ikut gue?" goda Sean.
"Aku sedang tidak bercanda, kalau tujuanmu hanya membuatku kesal, maka aku akan pergi sekarang. Aku tidak menyukai orang yang saat diajak serius malah bercanda," ucap Arini dengan kesal sambil berdiri dari duduknya.
Bisa bawel juga ini gadis datar.
"Oke ... maafin gue deh?" memegang pundak Arini, agar perempuan itu tidak pergi.
"Gue mau minta bantuan sama lo?" ucap Sean. "Lo mau gak bantuin gue?"
"Bantuin apa?" tanya Arini.
"Besok pacar gue tunangan, dia dijodohin sama orangtuanya. Gue cuma minta bantuin lo menemani dia," ungkap Sean yang raut wajahnya mendadak sedih.
"Maaf, aku gak bisa bantu. Itu bukan urusan aku, aku tidak mau terlibat oleh masalah orang lain," jawab Arini.
"Gue mohon ... bantuin gue!" ucap Sean memelas. "Gue akan bayar lo dua kali lipat dari gaji lo sebulan deh."
"Aku tetap gak bisa," jawab Arini.
"Ayolah ... plissss ..., lo gak kasian sama gue?"
"Untuk apa kasian sama kamu, kamu sendiri juga gak kasian sama orang lain." jawab Arini.
"Plisss ... gue mohon!" rengek Sean.
Arini pun berfikir keras dengan tawaran Sean padanya, sampai akhirnya ia mengambil keputusan.
__ADS_1