
Acara yang menurut Arini membosankan itu pun akhirnya selesai, Arini cepat-cepat keluar dari tempat itu.
"Rin, kamu mau kemana?" tanya Aliya.
"Bentar, mau ketoilet dulu!" jawab Arini sambil berjalan menuju toilet.
Sampai di luar ruangan, Arini tidak tahu harus ke arah mana.
"Dimana toiletnya?" Akhirnya Arini pun memilih ke arah kanan. Sampai di toilet khusus wanita, Arini langsung buru-buru masuk. Saat ingin keluar, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang dan membawanya masuk ke uq toilet itu lagi.
Arini melototkan kedua matanya, sambil terus memberontak seseorang yang membekap mulutnya itu. Akhirnya perempuan itu menggigit tangan seseorang itu.
"Aww... sakit bego!" kata laki-laki itu kesakitan.
"Lepasin!" jerit Arini.
"Gak, gue gak mau lepasin lo!" jawab laki-laki itu.
"Apa-apaan sih, main bekap orang aja?"
"Heh, lo, lo lupa sama wajah gue?"
"Aku gak peduli siapa kamu!" jawab Arini terus memberontak.
Laki-laki itu pun memegang dagu Arini, yang membuat Arini mendongakan kepalanya. Arini terkejut bukan main, ternyata yang membekapnya itu adalah laki-laki yang ia temui tadi malam.
__ADS_1
"Kau?" ucap Arini.
"Ya, ini gue. Lo mau coba-coba bongkar kejadian tadi malam, he?" tuduh laki-laki itu.
"Apaan sih, itu bukan urusan aku?" jawab Arini.
"Jangan pura-pura deh, lo. Lo seorang paparazi 'kan yang nguntitin gue, he? Ngaku lo!"
"Apaan sih nih orang, gak jelas banget!"
"Eh lo tu–?"
Ucapan laki-laki itu terhenti ketika Arini mendekatkan wajahnya, tepat di depan wajaah laki-laki itu. Laki-laki itu tercekat ketika melihat dengan jelas wajah Arini.
"Oohh ternyata kamu artis?"
"Te–tentu saja," jawab laki-laki itu. "Gue Dimitri Sean, artis yang multitalenta, tampan dan kaya tentunya."
"Artis kok kelakuannya kaya setan, tidur dengan wanita tanpa ikatan pernikahan lagi," jawab Arini.
"Shitt lo, awas kalo lo sebarin berita itu, gue bisa hancurin kehidupan lo!" ancam Sean.
Arini menyeringai. "Oh jadi itu tujuan kamu membekap mulut ku tadi? Heh, apapun yang kamu lakukan, aku tidak peduli. Tidak ada utungnya aku menyebarkan berita itu," jawab Arini. Setelah itu ia pun keluar dari toilet itu.
Sean terdiam dengan pernyataan Arini. Selama ini banyak orang-orang yang mengejar berita tentang dirinya dan memuja-muja dirinya, tapi perempuan itu berbeda. Perempuan itu pun baru mengetahui kalau dirinya seorang public figur.
__ADS_1
"Terus ngapain dia ikut acara fansign gue?" tanya Sean pada dirinya sendiri.
Saat laki-laki itu memasuki ruang fansign, matanya tidak sengaja melihat Arini yang tengah duduk di kursi paling belakang. Sean terkejut sekaligus khawatir, ia takut Arini akan membongkar kejadian kemarin malam saat ia tidur dengan kekasihnya. Laki-laki itu sampai tidak fokus pada acaranya, ia mengira bahwa Arini adalah paparazi atau fans fanatik yang mengawasinya.
Saat melihat Arini keluar dengan buru-buru, Sean diam-diam mengikutinya dari belakang. Tanpa diketahui Arini, laki-laki itu masuk ke dalam toilet dan membekap mulut Arini. Ia berniat ingin mengancam Arini jika menyebarkan berita dirinya dengan sang kekasih. Maklum lah, hubungan Sean dan sang pacar memang tidak ada yang mengetahuinya. Maka dari itu, Sean sangat berhati-hati saat berkencan dengan sang pacar. Tapi tidak disangka, saat Sean ingin mengancam Arini, perempuan itu malah tidak mengenali dirinya siapa.
Sean pun keluar dari toilet wanita dengan hati yang masih tidak tenang, ia masih belum yakin bahwa Arini tidak akan menyebarkan berita itu. Karirnya akan hancur jika berita itu tersebar, secara Sean sedang populer-populernya.
"Gue harus nemuin tuh perempuan lagi, gue akan mengajak dia bernegosiasi," kata Sean.
**
Sepulang dari fansign, Arini dan Aliya tidak langsung pulang. Mereka sedang berada di sebuah minimarket untuk membeli minum dan cemilan. Arini yang sudah selesai membeli minuman dan cemilan pun duduk di depan minimarket itu, sedangkan Aliya masih ada di dalam.
"Huufftt... leganya," kata Arini yang selesai meminum minumannya.
Matanya lalu menatap arah jalanan yang kebetulan sedang lampu merah. Perempuan itu menyunggingkan senyumnya saat melihat boneka Mampang sedang berjoget, tapi ada yang membuat Arini tercengang. Senyumnya seketika lenyap karena ia melihat seseorang yang berada di dalam mobil mewah sedang memberi sesuatu pada boneka Mampang itu.
"Ardan?" lirih Arini.
Ia pun hendak menghampiri Ardan yang berada di mobil, tapi seketika mobil itu melesat pergi karena lampu sudah berganti menjadi hijau.
"Ardan, apakah dia sudah kembali?" kata Arini.
"Hei, Rin ngapain kamu berdiri di pinggir jalan?" tanya Aliya yang baru muncul dan mengagetkan Arini.
__ADS_1
Arini menggelengkan kepalanya, lalu ia da Aliya pun menyetop angkutan umum untuk segera pulang, karena jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Arini juga harus segera bersiap-siap untuk berangkat bekerja.