Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Terungkap


__ADS_3

"Selamat pagi, Nyonya besarku!" sapa seorang wanita dengan lipstik merah terang di bibirnya.


"Kau, untuk apa kau ke sini? Bukankah aku menugaskanmu mengawasi wanita penghianat itu?" jawab wanita paruh baya itu. Dia begitu terkejut atas kehadiran wanita itu.


"Nyonya, janganlah kau bersikap kasar terhadapku! Bukankah aku sudah banyak membantumu?" kata wanita bernama Mayang itu, sambil duduk di meja makan tanpa disuruh.


"Beraninya dia tidak sopan terhadapku. Kalau saja kau bukan orang yang telah mengetahui semua perbuatanku, akan kubunuh kau wanita sialan."  gumam wanita Maria itu dalam hati.


Wanita paruh baya itu berusaha tetap tenang. "Apa maumu? Apa uang yang kuberikan kurang?" tanyanya.


"Ahaha…, tidak Nyonya. Uang yang kau berikan sudah dari cukup," jawab Mayang tenang.


"Lalu?"


"Aku kemari ingin memberitahukan informasi yang sangat penting untukmu, aku rasa… kau akan tertarik"


"Informasi apa?" tanya Maria penasaran.


"Aku akan memberitahukannya tapi dengan satu syarat," 


"Syarat? Apa syaratnya?"


"Syaratnya, kau harus mengizinkan aku untuk tinggal bersamamu di sini. Mudah 'kan?" katanya seraya mengambil makanan yang berada di piring wanita paruh baya itu.


Brakkk….


Wanita paruh baya itu menggeprak meja makan dengan sangat keras, dia sudah muak dengan ancaman dan permintaan aneh yang diminta wanita sialan itu.


"Wanita sialan, apa maumu sebenarnya, heh?" seraya menunjuk ke arah wanita sialan itu.


Wanita berbaju hitam itu pun menyeringai, dan dia juga berdiri. Lalu tangannya mengambil pisau yang berada di atas meja dan menyodorkan ke leher wanita paruh baya itu.


Semua pelayan yang ada di rumah itu pun berhamburan keluar setelah mendengar keributan di ruang makan, betapa kagetnya mereka bahwa majikannya sedang di todong oleh seorang wanita sialan itu. Mereka hendak mendekat, namun…


"Heh, kalian semua. Berani mendekat, majikan kalian akan mati. Jangan coba-coba menghubungi polisi! Pergi kalian semua!" 


Akhirnya, semua pelayan pun dengan berat hati pergi. Karena mereka tidak mau terjadi apa-apa dengan majikannya. Sedangkan wanita paruh baya itu hanya terdiam dengan wajah yang pucat juga gemetar.

__ADS_1


"Ba–baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu. Ayo ikuti aku!" katanya dengan gemetar.


"Nenek yang pintar" ucapnya.


***


Di depan teras, Arini dengan ragu memasuki rumahnya. Ia takut, ibunya akan marah padanya.


Menghembuskan napas panjang ia pun perlahan masuk ke rumah.


"Buk, Arini pulang" 


Gadis itu pun tidak melihat adanya orang di dalam. Mencari di bagian ruang kamar, dapur maupun halaman belakang. 


"Pada ke mana mereka?" gumamnya, "Ibuk, Rizky?"


Saat ia ingin keluar rumah, saat itu juga ibu dan keponakannya ada di depan pintu. Arini merasa ada yang aneh pada ibunya. Ia pun bertanya, "Ibuk, darimana aja? Aku nyariin Ibuk?"


"Duduklah sebentar, Nduk!" pinta Rahmi. Bukannya mendapat jawaban, Arini malah disuruh duduk. Ia pun menurut dan duduk di ruang tamu.


"Ibuk ingin tanya sesuatu ke kamu," jawab Rahmi, kini dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya.


"Tanya apa, Buk?"


"Apa benar kamu sudah menikah siri dengan pemilik villa di atas sana?"


Arini yang mendapat pertanyaan itu terkejut, lalu ia menundukkan kepalanya. "I–ibuk, ibuk tau darimana?"


"Kamu tidak perlu tahu itu! Jadi benar kamu sudah menikah siri, Arini? Jawab ibuk, Arini!" bentak Rahmi.


Arini tersentak, ia pun menjawab dengan terbata-bata. "I–iya, Buk? Maafin Arini. Arini tidak bermaksud membohongi Ibuk, Arini ingin mengatakannya tapi menunggu waktu yang tepat. Karena Arini tahu kondisi Ibuk terlalu sehat."


Rahmi akhirnya meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan, selama ini dia tidak pernah membentak Arini. Karena dia tahu anak terakhirnya itu anak yang baik dan jujur. Tapi untuk saat ini, Rahmi kehilangan kendali. Ia tidak percaya anaknya membelakangi dirinya dan berbohong padanya. Rahmi pun terduduk di lantai sambil berlinangan air mata.


Gadis itu menghampiri Ibunya dan memeluknya. "Buk, maafin Arini. Ini semua bukan keinginan Arini. Arini tidak melakukan apa-apa dengan Kak Ardan, mereka-mereka hanya salah faham" jelas Arini sambil berlinang air mata.


"Arini sudah menjelaskan pada mereka, tapi mereka tidak mempercayai Arini" jelasnya lagi.

__ADS_1


"DIAM... " teriak Rahmi, "Kamu tidak tau siapa sebenarnya keluarga Daviez, Ibuk sudah peringatkan kamu untuk tidak jatuh cinta kepada keturunan Daviez. Tapi kamu tetap membangkang," sambung Rahmi.


"Aku tidak mengerti maksud Ibu? Tapi jika itu terbaik buat Arini, Arini akan menjauh dari—" ucapan Arini terhenti saat melihat sosok pemuda di depan pintu.


Ardan mendekati anak dan ibu yang duduk di lantai sambil menangis.


"Kak Ardan," ucap Arini.


"Arini, ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Ardan dengan khawatir.


Rahmi melepaskan pelukkan Arini dan menghampiri Ardan. "Kamu, cepat pergi dari rumahku! Sudah cukup keluargamu membuat hidupku menderita," teriak Rahmi seraya mendorong dada Ardan.


"Maksud, Bu Rahmi? Aku–tidak mengerti?" kata Ardan keheranan.


Arini pun menghampiri ibunya dan berusaha untuk menenangkan amarah ibunya. Rahmi pun berteriak histeris seraya memukul-mukul dada Ardan. Ardan yang tidak mengerti apa-apa hanya diam dan berusaha untuk tidak emosi.


"Kak, lebih baik Kakak pulang! Aku tidak ingin ibuku semakin histeris melihat Kakak di sini" pinta Arini kepada Ardan.


"Tapi, Arini. Aku tidak mengerti yang ibumu katakan" jawab Ardan.


"Aku sendiri juga tidak mengerti, Kak. Sekarang pergilah!"


"Arini, aku mengkhawatirkan kondisi ibumu"


"Tidak apa, Kak. Aku bisa mengatasinya" kata Arini.


Di tengah mereka sedang berdebat, tubuh Rahmi melemas dan dia pun terjatuh tak sadarkan diri. Arini yang melihat langsung panik seketika.


"Buk, Buk. Bangun, Buk. Ibuk!" panggil Arini beberapa kali, namun tak di respon oleh Rahmi.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang, Arini." seraya menggendong Rahmi untuk menuju mobilnya.


"Iya, Kak"


Mereka berdua pun pergi menuju rumah sakit. Kejadian itu tidak luput oleh para tetangga Arini yang penasaran ingin melihat.


Ardan mengendarai mobilnya dengan kencang, sedangkan Arini yang berada di jok belakang tengah sibuk berusaha membangunkan ibunya sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2