
Di rumah sakit, suster segera membawa Rahmi ke ruang darurat. Sedangkan Ardan dan Arini menunggu. Melihat Arini yang sedang meremasremas kedua tangannya, ia tahu bahwa gadis itu tengah khawatir. Ardan pun respon membawa gadis itu ke dalam pelukkannya.
"Arini, kamu gak perlu khawatir. Ibu kamu pasti baik-baik saja," kata Ardan menenangkan seraya mengusap lembut rambut Arini.
Arini tidak menjawab, dia hanya merasakan pelukkan hangat Ardan yang menenangkan hatinya. Untuk keadaan seperti ini, Arini membutuhkan seseorang sebagai sandarannya. Ia berharap, Tuhan akan memberi kesempatan hidup untuk ibunya.
Beberapa saat, dokter keluar dan memberitahukan hasil pemeriksaan. Arini melepaskan diri dari tubuh Ardan, ia segera bertanya pada dokter.
"Dokter, bagaimana kondisi ibu saya? Apa beliau baik-baik saja?" tanya Arini tak sabar.
Dokter itu tidak menjawab, beliau hanya terdiam dengan wajah yang sudah bisa di tebak. Arini yang mengerti dengan raut wajah dokter tersebut langsung terduduk di kursi, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Arini tidak bisa lagi membendung rasa sedihnya, ia pun terdiam kaku. Sedangkan Ardan yang melihat kondisi Arini, kembali menanyakan ke dokter kondisi ibu Rahmi.
"Bagaimana, Dokter kondisinya" tanya Ardan.
"Pasien sudah tidak bisa diselamatkan lagi, Tuan. Beliau terkena serangan jantung, dan beliau terlambat di bawa ke sini," jelas Dokter bertubuh gemuk itu.
Ardan segera memeluk Arni kembali, ia tahu bagaimana kondisi seseorang yang kehilangan orangtua. Seperti saat dulu, ia juga mengalami hal yang sama. Sayangnya saat itu dia tidak memiliki seseorang yang memeluk dirinya saat kesedihan menerpa relung hatinya.
"Mbak Arini!" panggil seorang anak kecil, tak lain tak bukan adalah Rizky, keponakan Arini. Anak laki-laki itu ke rumah sakit bersama Danu dan Ratna-istrinya. Rizky pun segera menghampiri Arini, yang sudah ia anggap kakak kandungnya sendiri itu.
"Mbak, ibuk gak apa-apa 'kan?" tanya anak itu polos.
__ADS_1
Ardan pun melepas pelukkannya, membiarkan Arini memeluk Rizky. Pak Danu dan istrinya pun mendekati Arini dan Ardan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka sudah bisa menebak bahwa ada hal yang menyedihkan.
"Ki, kamu kok ke sini? Sama siapa tadi ke sini?" tanya Arini berusaha tegar.
"Sama Pak Danu, Mbak. Tadi beliau ke rumah, untuk ngajak Rizky nyusul Mbak." jelasnya, "Ibuk nggak apa-apa 'kan Mbak?"
Arini terdiam mendapat pertanyaan itu, ia tidak bisa menutupi kenyataan bahwa nenek yang sudah di anggap ibu oleh Rizky meninggalkannya untuk selamanya.
"Ki, ibu sudah tinggalin kita selamanya" ucap Arini, ia pun memeluk bocah berumur 10 tahun itu sambil menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Rizky yang mendengar itu pun menangis tersedu. Pemandangan menyedihkan itu membuat orang yang berada di sana ikut menangis. Rasanya tidak tega melihat gadis dan bocah sebatang kara itu di tinggal oleh orang yang satu-satunya mereka punya.
Dokter yang tadi berada di sana, menyuruh Arini dan yang lain untuk melihat Rahmi, yang sudah terbujur kaku. Mereka semua pun masuk, tapi tidak Arini. Dia memilih tetap di luar, bukan karena dia anak durhaka, tapi dia tidak sanggup untuk melihat wajah ibunya terakhir kali. Untuk kesekian kali, orang yang ia sayang dan ia cintai pergi meninggalkan dirinya. Air mata pun mungkin sudah lelah untuk keluar, cobaan apalagi yang ia terima? Dunia ini terasa neraka bagi Arini.
Ardan pun keluar bersama yang lain diikuti jenazah Rahmi. Mata Ardan tengah mencoba mencari keberadaan Arini, tapi sosok gadis itu tidak ada di kursi yang ia duduki tadi.
"Paman, tolong urus pemakaman bu Rahmi dulu ya! Saya mau cari Arini dulu" ucap Ardan kepada Danu.
"Iya, Tuan. Memangnya ke mana Arini?" tanya Pak Danu.
"Entalah, mungkin sedang di toilet." jawab Ardan seraya menoleh kesegala arah guna mencari sosok gadis mungil itu.
"Coba Tuan tanya ke resepsionis! Siapa tau di antara mereka ada yang tau?" saran Pak Danu.
__ADS_1
"Benar juga, saya titip Rizky ya Tante."
Ardan pun pergi ke toilet khusus wanita, namun setelah menunggu beberapa menit ternyata gadis itu tidak berada di sana. Lalu ia pun berlari menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Arini.
"Permisi, apa Anda melihat perempuan menggunakan kaos berwarna biru dann celana pendek lewat?" tanya Ardan ke salah satu suster yang bertugas di sana.
"Sepertinya tidak, Tuan. Coba Tuan tanya ke bagian keamanan, mungkin mereka tahu" jawab suster tersebut.
"Oke, terimakasih"
Ardan segera pergi menuju bagian keamanan yang berada di luar rumah sakit. Sampai di sana ia langsung menanyakan Arini. Satpam itu bilang bahwa Arini keluar dari area rumah sakit ini dengan berjalan kaki, sambil tertunduk seperti orang linglung. Ardan langsung saja menuju parkiran mobil untuk mencari Arini.
Mata tajam Ardan tidak lepas dari setiap sudut jalanan, ia berharap Arini masih tidak jauh berjalan. Pemuda itu sangat khawatir dengan kondisi Arini yang sekarang, gadis itu bisa saja nekad melakukan sesuatu yang membuat dirinya kehilangan nyawa. Saat otak Ardan sibuk dengan pikiran negatifnya, netranya tiba-tiba menangkap sesuatu. Ya, dia melihat gadis yang ia cari tengah berjalan kaki dengan penampilan acak-acakannya. Gadis itu berjalan tanpa tujuan. Ardan pun menginjak gas mobilnya dengan kencang untuk menyusul Arini. Saat mobil sudah hampir mendekati Arini, tiba-tiba saja gadis itu menyeberang di jalanan yang ramai oleh pengendara tanpa menghiraukan situasi. Dengan cepat, Ardan menghentikan mobilnya sembarang. Membuat mobil di belakangnya membunyikan klakson dengan cepat, tapi Ardan tidak menghiraukannya. Ia segera berlari mengejar Arini yang hampir saja menambrakan dirinya ke sebuah mobil yang melaju dengan cepat.
Tiiiiinnnnn. . . .
Secepat kilat Ardan menarik tangan Arini dan membawa kepelukannya. Ardan tidak menghiraukan mobil dan motor yang tengah sibuk mengklakson sambil mengomel. Ardan menggendong gadis malang itu menuju mobil miliknya, Arini hanya diam membatu dengan tatapan kosongnya.
"Arini, Arini?" panggil Ardan seraya menggoyangkan tubuh gadis itu perlahan. Arini tidak merespon panggilan pemuda itu. Dia tetap diam.
Pemuda itu segera berbalik arah, ia ingin kembali ke rumah sakit guna memeriksakan kondisi Arini.
__ADS_1