Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Tentang Rasa


__ADS_3

Di dalam mobil milik Ardan, Arini hanya diam sambil melihat ke arah jalanan. Begitu juga dengan Ardan, sesekali dia melirik gadis yang berada disampingnya tersebut.


Sekitar tiga puluh menit, mobil itu telah sampai di pusat perbelanjaan. Memarkirkan mobilnya, setelah itu ia melepas sabuk pengaman.


"Kamu tidak turun?" tanyanya pada Arini yang kelihatan bingung.


"Untuk apa kita ke sini? Aku kira tadi Kakak akan ke dokter," tanya Arini polos.


"Hehe... aku hanya menggodamu Arini. Maaf...!" kata Ardan sambil tersenyum.


Arini yang mengetahui dirinya hanya dibohongi pun cemberut. Ardan yang melihat itu tersenyum dan langsung melepaskan sabuk pengaman milik Arini. "Ayo turun, maaf deh kalau gitu!"


Mau tidak mau Arini pun keluar mengikuti Ardan. Memasuki mall tersebut, mata para pengunjung lain sibuk memperhatikan pasangan tersebut. Terutama pada Ardan, yah pria itu selalu jadi pusat perhatian dimanapun dia berada karena wajah tampan serta tubuh proposonal. Ardan yang menjadi pusat perhatian hanya bersikap biasa saja, dia malah tidak menghiraukan. Berbeda dengan Arini yang hanya tertunduk sambil berjalan, ia merasa sangat malu berjalan bersama Ardan. Lihat saja penampilannya, ia hanya menggunakan kaos dan celana seadanya. Sedangkan Ardan, ia sangat tampan dengan memakai kaos berwarna hitam dan juga celana denim.


Saat tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, Arini yang berjalan sambil tertunduk hampir saja menabrak seorang pengunjung. Ardan yang melihat itu dengan sigap merangkul pundak Arini agar terhindar. "Hei... kalau jalan jangan sambil melamun!" seraya mencubit hidung kecil Arini.


Arini hanya mengusap hidungnya yang terlihat merah.


"Makanya kalo jalan jangan berada di belakangku!"


"Habisnya Kakak jalannya terlalu cepat" jawabnya kesal.


"Haha..., Maaf-maaf!" kekeh Ardan.


Tak terasa mereka berdua sudah sampai di sebuah butik ternama. Ardan pun mengajak Arini untuk masuk.


"Selamat datang di butik kami, ada yang bisa saya bantu?" kata seorang pegawai butik.


"Bisakah kau membantu istriku untuk mencari pakaian yang cocok untuknya?" tanya Ardan kepada pegawai tersebut.

__ADS_1


"Tentu saja bisa, Tuan. Mari Nona iku saya!"


"Ti–tidak perlu, aku tidak ingin membeli baju" ucapnya malu.


"Aishh..., Honey, ayolah! Tidak perlu malu-malu," kata Ardan seraya mengelus pipi cabi Arynni. Arini pun terkesiap mendengarnya, di tambah lagi perlakuan Ardan terhadapnya. Apa pria ini hanya berpura-pura saja? Wajah Arini seketika langsung memerah karena malu. Bagaimana tidak malu? Ardan menggodanya yang di mana di butik itu banyak pengunjung. Arini pun berjalan meninggalkan Ardan yang tersenyum sambil mengedipkan mata kirinya.


Ardan pun duduk di kursi untuk menunggu Arini sambil memainkan ponselnya. Lama menunggu Ardan pun berdiri untuk melihat-lihat beberapa pakaian, dan saat ada yang memanggil ia pun menoleh ke arah sumber suara. Dan..., betapa terkejutnya Ardan saat melihat penampilan Arini yang sangat berbeda dari biasanya.


Cantik...


Itulah yang diucapkan Ardan saat melihat Arini yang menggunakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih polos, di tambah dengan rambut Arynni yang terurai.


"Kak? Kak Ardan?" panggilnya.


"Yeppueda?"


Arini yang mendengar tidak mengerti apa yang diucapkan Ardan. Setelah membeli beberapa pakaian dan sepatu, mereka pun berbelanja kebutuhan dapur dan setelahnya mereka memutuskan untuk pulang.


Arini yang lagi memasak sambil tersenyum sendiri membayangkan kegiatan yang mereka lakukan tadi. Tanpa sadar, Ardan yang baru saja turun tengah memperhatikan Arini yang tersenyum sendiri.


"Gadis ini sangat cantik kalau selalu tersenyum, tapi sayang dia jarang tersenyum." gumam Ardan dalam hati.


Ardan pun menghampiri Arini yang tengah sibuk memasak. Tanpa sepengetahuan Arini, Ardan memeluknya dari belakang. Membuat Arini terperanjat karena kaget.


"Kak Ardan? Tolong lepasin, Kak! Aku lagi masak, nanti bisa gosong" pinta Arini dengan grogi.


"Tidak, aku tidak mau" jawab Ardan, seraya mempererat pelukkannya.


"Kak, jangan menggodaku terus!" kata Arini.

__ADS_1


"Aku tidak menggodamu, Honey." balas Ardan seraya mematikan kompor. Ia pun membalikkan tubuh Arini agar menghadap kearahnya. Tatapan mereka berdua bertemu, perlahan tangan Ardan mengelus lembut pipi Arini yang saat itu memerah. Ardan perlahan memiringkan wajahnya dan berhenti tepat di bibir ranum milik Arini, ia pun mendaratkan bibirnya di bibir Arini. Sejenak mata Arini membelalak saat menerima ciuman itu, ini kali pertamanya ia di cium, dan dia tidak menyangka Ardan-lah yang merenggutnya.


Ardan memulai ciumannya dengan sangat lembut, ia tahu bahwa ini kali pertama Arini berciuman. Sangat beruntung bukan Ardan dapat berciuman gadis yang polos ini?


Arini juga perlahan memejamkan matanya, menikmati setiap kecupan dibibirnya. Ia tidak tahu cara membalasnya, jadi dia memutuskan diam saja. Ada gelanjar aneh di tubunnya. "Ternyata seperti ini rasanya berciuman?" gumamnya dalam hati.


Ardan pun melepaskan ciumannya, menatap penuh cinta kepada Arini. Tangannya mengusap bibir Arini yang basah, lalu dia memeluk erat tubuh mungil istri sirinya. "Aku sangat merindukanmu, Arini. Rasanya aku tidak ingin jauh darimu, ingin selalu berada disisimu. Menjagamu, menemani hari-hari sulitmu. Kau tahu, Arini? Kau mirip sekali dengan ibuku. Pelukkanmu sangat menenangkan." ungkap Ardan jujur.


Mendengar ungkapan dari Ardan, Arini pun membalas pelukkan Ardan dengan ragu. Ia tahu, Ardan dan dirinya sama-sama pernah kehilangan orang yang ia sayang.


Melepas pelukkannya, Ardan pun memegang kedua tangan milik Arini, menatapnya kembali. "Arini, aku ingin menikahimu secara resmi. Apa kau mau?" tanya Ardan dengan nada serius.


Awalnya, Ardan hanya berniat menggoda gadis itu. Tapi lama kelamaan ia merasa nyaman dekat dengan Arini, tingkah polos gadis itu membuat ia jatuh cinta.


Arini yang mendengar itu merasa bahagia, namun ia teringat apa yang dikatakan ibunya tempo hari. Seketika kebahagian itu sirna, wajahnya kembali tertuntuk, menahan rasa sesak didadanya. Arini pun membalikkan tubuhnya, berusaha mengalihkan perhatiannya. "Kak Ardan, jangan selalu menggodaku. Tunggulah! Setelah ini masakannya akan matang."


"Arini, aku sedang tidak menggodamu. Aku serius, percayalah!"


"Sudahlah, Kak Ardan." kata Arini mencoba tidak menghiraukan.


"Arini, lihat aku!" seraya membalikkan tubuh Arini kembali, "Apa wajahku terlihat seperti berbohong? Aku benar-benar ingin menikahimu secara resmi. Aku menyukaimu, Arini. Memang awalnya aku hanya menggodamu saja tapi lama-lama aku terjebak sendiri."


"Itu tidak mungkin, Kak. Aku tidak menyukai Kakak" ujar Arini bohong.


"Aku tidak peduli kau menyukaiku atau tidak, tapi aku akan membuatmu menyukaiku" ucap Ardan yakin.


Arini pun meneteskan air matanya. "Hiks...hiks..., walaupun aku menyukaimu, Kakak. Tapi itu tidak mungkin. Sebenarnya, waktu pagi aku kemari. Aku hanya ingin mengambil barang-barangku, dan aku tidak akan kembali ke villa ini lagi. Aku ingin mencari pekerjaan lain"


"Ada apa sebenarnya, Arini?" tanya Ardan bingung.

__ADS_1


"Aku bukan orang yang pantas untuk berada di samping, Kakak" Arini mengatakan dengan suara yang bergetar, mencoba menahan kembali air mata yang ingin jatuh.


"Kata siapa? Kamu memiliki sesuatu yang berbeda dari perempuan yang lain. Aku menyukaimu apa adanya. Jika memang orangtuamu tidak merestui hubungan kita, aku akan berusaha meyakinkan mereka" jelas Ardan.


__ADS_2