Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Salah paham


__ADS_3

Seorang wanita dengan penampilan modis tengah berjalan melewati rumah sederhana milik Arini, awalnya terlihat biasa saja namun setelah mobil mewah milik Ardan mendatangi rumah Arini untuk kedua kali. Dia menyaksikan pemandangan yang 'Waw', melihat itu tiba-tiba terlintas sebuah rencana di otak liciknya.


Wanita bernama Mayang itu pun menyusun rencana untuk menjebak Arini yang tidak tahu apa-apa. Sambil menjentikkan jari, dia pun berjalan menuju depan rumah Arini untuk memulai rencananya.


"ASTAGFIRULLAH! Apa yang kalian lakukan? " teriaknya berpura-pura seolah- olah terkejut.


Teriakkannya yang cukup keras mengundang tetangga yang rumahnya dekat dengan rumah Arini untuk keluar dari rumah mereka masing-masing.


Arini dan Ardan yang terkejut dengan teriakkan wanita tadi langsung beranjak dari posisi mereka. Saat itu memang keadaan pintu rumah Arini terbuka, letak rumah Arini yang berada di antara jalan membuat orang yang lewat dapat melihat dengan jelas keadaan seperti apa di dalam.


Tetangga pun berkumpul di depan rumah Arini bersama wanita yang bernama Mayang. Mereka sibuk bertanya satu sama lain,apa yang terjadi?


"Ono opo iki to kok melong-melong?" (ada apa ini kok teriak-teriak) tanya wanita berbaju kuning yang pertama kali datang.


"Delok'en anak'e Mbak Rahmi seng jere pendiam iku berzina di kampung iki!" (lihatlah anak Mbak Rahmi yang kata nya pendiam berzina di kampung ini) cecarnya sengaja memanas-manasi tetangga Arynni agar percaya terhadap nya.


Para tetangga kebingungan dengan perkataan wanita itu.


"Hei Mbak, ojo sukur njeplak lek ngomong lek tanpo bukti." (hei Mbak, jangan sembarangan kalau berbicara tanpa bukti) sahut tetangga Arini satunya.

__ADS_1


"Njalok bukti, hemm nyoh bukti ne." (butuh bukti,ini bukti nya) seraya memperlihatkan ponselnya kepada para tetangga.


Mereka yang melihat foto di ponsel wanita itu berlahan mulai percaya karena wanita itu mengambil foto dengan waktu yang bersamaan saat Ardan hendak mencium bibir Arini.


Salah satu tetangga Arini pun menghampiri Arini yang tengah berada di ambang pintu dengan wajah yang sulit di tebak, antara takut dan bingung. Di lihatnya ke dalam ruang tamu, ternyata memang ada seorang pemuda bertubuh jangkung di dalam sana.


"Semua ini hanya salah faham, saya dan Kak Ardan tidak melakukan apa-apa. Saya tidak sengaja terjatuh dan menindihi tubuhnya." jelasnya berharap mereka semua percaya.


"Halah... mana mungkin gak melakukan apa-apa sedangkan kalian hanya berdua di rumah" tuduh wanita berbaju biru navy tersebut


Semua orang pun sibuk menyudutkan Arini, mereka mempercayai apa yang di katakan wanita itu karena dia mempunyai bukti.


"Opo yo gak sakken karo ibu ne seng sek ono rumah sakit, kono malah berzina." (apa ya tidak kasihan dengan ibunya yang masih di rumah sakit) sahut salah satu nya lagi.


Gunjingan demi gunjingan keluar dari mulut mereka satu persatu. Membuat ciut hati gadis yang tidak tau apa-apa itu, untuk membela dirinya sendiri pun itu mustahil tidak akan ada yang percaya, bukti pun mereka punya.


"Lek ngunu rabi no wae arek loro iki, ketimbang gawe celoko kampung iki, ndang celokno Pak RT." (kalau begitu nikahkan saja mereka berdua dari pada membuat sial kampung kita,cepat panggilkan pak RT)


Di kampung tempat tinggal Arini memang masih terjaga dengan baik tradisi

__ADS_1


yang mereka patuhi, karena untuk menjaga terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.


"Demi Tuhan saya tidak melakukan hal seperti itu, saya tau apa yang tidak boleh di lakukan di kampung ini." belanya sekali lagi. Namun itu hanya sia-sia mereka semua sudah terlanjur percaya dengan kata-kata wanita itu.


Ardan yang sedari tadi hanya diam di dalam rumah Arini keluar dengan raut wajah yang dingin, tatapan mata yang menyerupai mata naga itu menatap satu persatu wajah warga yang memfitnah dirinya dan Arini. Wajah bersahabat yang sering dia perlihatkan kepada orang-orang berubah 180%.


"Jangan khawatir saya akan menikahi gadis tak bersalah ini, saya akan membuktikan kepada kalian kalau ini hanya salah paham. Jika selama 3 bulan gadis ini tidak hamil, maka kalian akan tanggung sendiri akibatnya. Kalian tahu 'kan siapa saya?" ucapnya dengan nada dingin dan penuh ancaman.


Para tetangga Arini yang mendengar itu hanya terdiam, mereka tahu siapa pemuda yang ada dihadapan mereka. Ardan Daviez, pewaris tunggal keluarga Daviez sekaligus anak dari Jooniean Daviez yang sudah meninggal dunia. Pemilik hampir seluruh perkebunan dan pabrik-pabrik di kampung mereka.


Arini yang berdiri seraya merangkul Rizky pun tercengang mendengar ucapan yang baru saja dia dengar. Dia tidak ingin menikah untuk saat ini,dia masih ingin bekerja untuk ibu dan adiknya. Apa jadinya kalau dia menikah dengan umurnya yang masih belum cukup.


"Aku gak mau nikah, umurku masih sangat muda untuk menikah" bantah Arini.


"Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak percaya kalau kita tidak melakukan apa-apa. Kita juga tidak punya bukti 'kan?" kata Ardan.


"Arini, pernikahan ini hanya sementara saja, kau tidak perlu takut," sambung Ardan.


Pikiran Arynni melayang kemana-mana, tidak bisa dia bayangkan kecerobohannya akan menjadi malapetaka bagi diri dan keluarganya. Mengapa selalu ada cobaan dihidupnya? Nengapa dewi keberuntungan tidak pernah berpihak kepada kehidupannya? Kesalahan apa yang pernah dia perbuat? Selama ini dia hanya diam dengan perasaannya, mencoba melupakan masa sulitnya. Namun tetap saja tidak ada keberuntungan.

__ADS_1


Dengan wajah tertunduk, Arynni hampir menangis tapi dia menahannya. Dia harus terlihat tetap kuat, walaupun di dalam hatinya sudah tidak mampu. Aahh... sudah lah dia sudah muak, hanya pasrah sekarang yang dia lakukan. Toh pernikahan ini juga sementara.


__ADS_2