Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Melupakan sejenak


__ADS_3

Ardan telah tiba di Jakarta sekitar 1 jam yang lalu, ia dan Mr.Park langsung menuju ke kantor, karena waktunya yang terbilang masih pagi sekitar masih jam 10. Ia memasuki gedung berlantai lima belas itu dengan sedikit terburu-buru. Para pegawai kantor sedikit terkejut melihat ke datangan Ardan secara mendadak tersebut. Mereka semua memberikan hormat kepada Ardan, tanpa digubris oleh Ardan.


Pemuda itu dalam kondisi yang tidak baik saat ini, ia mendapat kabar dari Mr.Park banyak karyawan yang kualitas kerjanya menurun. Bahkan ada karyawan yang menggelapkan uang perusahaan. Ini menyebabkan kerugian yang cukup besar.


"Mr.Park, kumpulkan seluruh bagian manager sekarang juga! Aku tunggu di ruang rapat dalam waktu 10 menit, jika ada yang terlambat, aku tidak akan segan untuk memecatnya!" perintah Ardan sambil terus berjalan menuju ruang rapat.


"Baik, Tuan" jawab Mr.Park. Pria itu tidak berani berkata banyak, ia tahu persis bagaimana jika boss–nya ini sedang mode serius. Memang umur boss–nya lebih muda dari dirinya, namun kecerdasannya tidak diragukan lagi. Ardan Daviez memiliki IQ di atas rata-rata kebanyakan orang.


Tiba di ruang rapat, Ardan sudah duduk di kursi kebesarannya dengan menyilangkan kakinya sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Satu persatu para karyawan bagian manager datang, mereka ketakutan dengan rapat yang mendadak ini.


"Mr.Park, apa semua sudah lengkap?" tanya Ardan.


"Sudah, Tuan. Ada 2 karyawan yang absen hari ini sehingga mereka tidak bisa hadir,"


"Hmm ..., baiklah kita mulai rapat mendadak ini," kata Ardan seraya berdiri.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf pada kalian semua, karena seringnya saya tidak masuk kerja hingga menyebabkan ketidak stabilan perusahaan ini," jelas Ardan.


"Mulai detik ini saya akan merubah peraturan lama yang ada di perusahaan ini, bagi siapa saja yang melanggarnya saya akan langsung memecatnya," tegasnya.


Para karyawan pun membaca kertas yang ada di meja mereka masing-masing. Mereka semua tidak berani untuk membantah ataupun memberi saran.


Sekitar 2 jam rapat itu berlangsung, kini mereka semua keluar dari ruang rapat itu dengan hati yang lega.


"Untung ya kita gak kena marah," kata salah satu karyawan.


"Kenapa kita harus kena marah? Ini semua 'kan karena dia juga. Dia sangat jarang masuk kantor," balas karyawan satunya.


Masih di dalam ruang rapat, Ardan duduk sendiri dengan pikirannya yang kemana-mana.


"Tuan, ini ponsel saya jika Tuan ingin menghubungi Nona Arini!" kata Mr.Park yang tahu bagaimana perasaan Ardan saat ini.


"Nanti saja, aku akan menghubunginya sendiri," jawab Ardan dengan wajah yang murung.

__ADS_1


"Lebih baik Anda ke ruangan Anda sekarang untuk beristirahat!" kata Mr.Park.


"Iya. Kau tolong siapkan berkas-berkas yang akan di bawa ke pertemuan dengan perusahaan elektronik!" perintah Ardan.


"Baik, Tuan"


"Oh iya, jangan lupa cari sekertaris untukku, agar kau tidak kewalahan sendiri memambantuku!" perintah Ardan lagi.


"Siap, Tuan"


Ardan pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruang rapat yang luas itu menuju ruangannya sendiri. Di dalam ruangannya, banyak berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.


Ardan menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Huuff... sepertinya aku harus lembur hari ini."


Ia pun melepas jas hitam yang melekat di tubuh jangkungnya dan mulai berkutat dengan komputer sekaligus juga laptop di depannya.


Ia melupakan sejenak tentang gadis yang kini tinggal di villanya tersebut. Karena ke egoisannya untuk bertemu Arini, ia melupakan kewajibannya sebagai pemilik perusahaan DC Grup. Inilah resiko yang ia tanggung karena lebih mementingkan ***** jatuh cintanya pada Arini.

__ADS_1


Ya... jatuh cinta kadang membuat kita melupakan segalanya, tanpa tahu resiko yang akan di terima setelahnya. Sungguh, cinta itu tidak memiliki bentuk, namun dapat dirasakan kehadirannya.


__ADS_2