Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Kegelisahan Ardan


__ADS_3

Seusai bertemu dengan sang nenek tadi, Ardan merasa gelisah. Apa yang sebenarnya ingin dijelaskan oleh Maria padanya?


Saat ini dia sedang menghadiri rapat, namun pikirannya tidak fokus pada rapat yang sedang berjalan ini.


"Tuan Muda Ardan?" panggil Mr.Park menyadarkan sang boss.


Ardan sedikit terkejut, ia mengedipkan matanya berkali-kali. "I–iya, ada apa Mr.Park?"


"Manager Heri sedang bertanya pada Anda, apakah Anda setuju dengan usulan darinya," jelas Mr.Park.


"Maaf semuanya, saya permisi ke toilet dulu!" kata Ardan sambil berlalu.


Mr.Park menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan boss–nya itu. Melihat dari ekspresi wajahnya yang tidak seperti biasa. Mungkinkah sang boss sedang bertengkar dengan sang istri?


Ardan pun telah kembali dari toilet, rupanya pria itu habis mencuci muka.


"Baiklah, kita lanjutkan rapatnya! Maaf, tadi saya sedikit tidak fokus," kata Ardan sambil duduk di kursinya.


**


Sore hari telah tiba, sekitar pukul 4. Para karyawan yang bekerja di DC Grup, mulai berhamburan keluat gedung. Perusahaan multinasioal itu memang mempunyai karyawan yang hampir ratusan orang. Perusahaan itu juga mempunyai anak cabang di berbagai kota di Indonesia, tidak heran perusahaan DC Grup sangat populer, bahkan tidak hanya di negara sendiri saja. Keterpopulerannya mencapai luar negeri. Kesuksesan itu membuat banyak para pesaing DC Grup ingin menghancurkannya.


Ardan pun juga bersiap-siap untuk segera pulang.


Tok... tok...


"Masuk!" seru Ardan.


Seseorang yang mengetuk ruangannya itu pun masuk, dia adalah Elsa, sekretaris baru Ardan yang beberapa bulan ini bekerja di sana.


"Ada apa, Elsa?" tanya Ardan tanpa menoleh ke arah perempuan itu.


"Apa Anda sudah ingin pulang, Boss?" tanya Elsa basa-basi.


"Ya tentu saja," jawab Ardan singkat.


"Emm... begini Boss, mobil saya sedang ada di bengkel, jadi... saya ingin berniat menumpang dengan Boss," kata Elsa.


"Apa kau tidak punya teman di kantor ini?" tanya Ardan ketus.


"Tentu punya, tapi mereka sudah pulang terlebih dahulu"


Ditengah perbincangan Elsa dan Ardan, Mr.Park masuk.


"Kebetulan sekali Mr.Park kau datang," ucap Ardan.


"Memangnya ada apa, Tuan?"


"Apa kau bisa mengantarkan sekretaris Elsa ke rumahnya! Dia sedang tidak membawa mobil."


"Oh tentu saja bisa, Tuan."


"Baiklah, terimakasih Mr.Park," ucap Ardan seraya berlalu meninggalkan Elsa yang wajahnya terlihat kesal.


"Tapi, Ardan" menahan tangan Ardan.


Lalu Ardan berbalik dan berkata, "Panggil saya 'BOSS'!" Setelah itu, Ardan pun pergi.


Pria berkulit putih itu kali ini tidak pulang menuju apartemennya, melainkan ia ingin ke rumah sang nenek. Ia sangat penasaran dengan yang ingin dijelaskan oleh sang nenek nantinya.


Tiba di rumah besar dengan pagar berwarna putih itu, Ardan langsung turun dari mobil mewahnya. Kedatangan Ardan disambut oleh Sarti, kepala pelayan di rumah itu yang sedang menyiram tanaman kesayangan sang Oma.


"Tuan Muda!" sapa wanita tua itu.


"Selamat sore, Bi Sarti" kata Ardan.


Ia menghampiri Sarti yang sedang membawa selang itu dan mencium punggung tangan sang pelayan itu.

__ADS_1


"Bi Sarti, sehat?" tanya Ardan.


"Alhamdulillah, Tuan Muda sendiri sehat 'kan?" tanya Sarti seraya mengusap lengan Ardan.


Sarti memang sangat menyayangi Ardan, karena sedari kecil Ardan diasuh oleh dirinya. Tidak heran mereka sangat dekat, seperti keluarga sendiri.


"Syukurlah, aku juga sehat, Bi. Oma dimana?"


"Nyonya sedang ada di butiknya, Tuan. Sebentar lagi juga pulang," jawab Sarti.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya, Bi!" seraya ingin berlalu, tapi ditahan oleh Sarti.


"Ada apa, Bi Sarti?" tanya Ardan.


"Tuan Muda, apa tidak apa-apa?" tanya Sarti yang merasa sedikit berbeda dari anak asuhnya itu.


Ardan menyunggingkan senyumnya pada Sarti. "Aku tidak apa-apa, Bi, hanya kelelahan saja."


Sarti pun mengerti dan membiarkan Ardan pergi ke dalam rumah.


**


Beberapa menit kemudian, Maria datang. Ia tahu bahwa Ardan sudah ada di rumahnya. Wanita itu pun menuju kamar Ardan yang berada di lantai atas. Saat hendak memasuki kamar Ardan, ternyata Ardan sudah ingin keluar.


"Oma, baru datang?" tanya Ardan yang baru saja ingin keluar dari kamarnya.


"Ikut Oma!" seru Maria sambil berjalan menuju kamar pribadinya.


Ardan pun menurut, di dalam kamar Maria, Ardan duduk di sofa dan Maria melangkah menuju laci kecil yang berada di samping tempat tidurnya. Ia mengambil sesuatu berbentuk kotak.


Maria pun menghampiri Ardan yang duduk di sofa.


"Ardan, Oma sangat mengenal siapa wanita bernama Rahmi itu," katanya sambil duduk.


"Kotak ini berisi tentang ayahmu dan juga Rahmi," jelas Maria sambil membuka kotak itu.


"Ini adalah foto Rahmi dan juga Jooniean, ayahmu sangat mencintai Rahmi. Tapi, Rahmi menghianati cinta tulus Jooniean, wanita penghianat itu lari saat acara pernikahan akan segera berlangsung," jelas Maria.


Ardan tersentak, ia diam tanpa sepatah kata. Lalu, Maria pun melanjutkannya.


"Wanita itu lari bersama pria lain, kejadian itu membuat malu keluarga kita. Sampai opa mengalami serangan jantung dan meninggal. Perusahaan DC Grup saat itu langsung mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan sampai ingin bangkrut," ucap Maria menahan air matanya.


"Arini, perempuan yang kau nikahi itu anak dari Rahmi 'kan?"


Ardan terkesiap. "O–oma, tahu dari mana?"


Maria tersenyum menyeringai. "Oma mengetahui segelanya, bahkan Oma juga mengatahui persekongkolannya dengan Mayang."


"Ardan, kau hanya dibodohi oleh Arini. Dia memanfaatkanmu untuk balas dendam dengan keluarga kita karena dulu perusahaan ayahnya diambil alih oleh keluarga kita. Mereka bangkrut."


Ardan berdiri, ia tidak percaya yang dikatan sang nenek padanya. "Arini tidak mungkin melalukan itu, dia tidak mengetahui tentang keluarganya bagaimana?"


"Kau hanya dibodohi oleh kepolosanya, Ardan. Dan yang perlu kamu tahu, Rahmi–lah penyebab kematian ayahmu!"


"Dia menyuruh orang untuk memberikan zat beracun pada ayahmu, bahkan yang menabrak ibumu adalah wanita penghianat itu!"


Ardan menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Ini adalah bukti, berkas ini menunjukkan hasil dari kejahatan mereka." menyerahkan amplop berwarna coklat.


Namun tidak gubris oleh Ardan, ia berlalu begitu saja meninggalkan Maria.


"ARDAN! ARDAN!" teriak Maria, tapi tidak dihiraukan oleh Ardan.


Maria murka, tapi ia mencoba menahan amarahnya. Ia yakin cucunya itu akan mempercayai semua kebohongannya ini.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Maria, Ardan berlalu pergi tanpa menghiraukan sang nenek. Hatinya sedikit dilema antara percaya atau tidak, untuk memastikan ucapan yang dikatakan Maria, Ardan berusaha menyelidikinya terlebih dahulu.

__ADS_1


Sekarang, Ardan sudah berada di apartemennya. Pria yang menggunakan turttleneck hitam itu sedang berdiri di balkon apartemennya dengan tangan di saku. Pikirannya kalut, mengingat tentang masalalunya yang ditinggal pergi oleh orangtuanya. Pria itu sebenarnya merasa sangat kesepian semenjak ayah dan ibunya tiada. Apalagi sang nenek yang selalu mengaturnya, membuat ia merasa tertekan. Semenjak ia bertemu Arini, rasa sepi itu perlahan sirna. Entah karena mereka sama-sama kehilangan orangtua atau memang mereka sudah ditakdirkan untuk bertemu.


Mengingat Arini, Ardan pun mencoba mengambil ponselnya, berniat ingin menghubungi istrinya itu. Namun tidak ada sahutan, hanya suara operator yang terdengar. Ardan pun mengakhirinya.


"Kemana dia? Kenapa ponsel mati?" gumam Ardan.


Ketika ingin masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar. Ia pun segera melihat siapa yang menghubunginya. "Ternyata Mr.Park." Ardan pun mengangkatnya.


"Ada apa, Mr.Park?" tanya Ardan.


"Tuan, saya dapat video dari orang yang saya suruh mengawasi Nona Arini. Videonya sudah saya kirim ke email Anda,"


"Iya, akan aku lihat nanti," jawab Ardan malas.


Ya, Ardan memang menyuruh Mr.Park untuk mengawasi villa yang dihuni Arini lewat kamera tersembunyi yang ada di villa itu. Tujuannya agar Ardan dapat mengetahui siapa saja yang memasuki villa itu selain orang suruhannya, karena villa itu besar dan banyak barang berharga di sana, jadi untuk mengantisipasi jika ada pencuri yang masuk.


Ardan tidak langsung memeriksa email–nya, ia terlebih dahulu.


***


Di rumah Maria, wanita itu sedang berbincang dengan seseorang di ruang kerjanya.


"Kemana wanita sialan itu pergi sekarang?" tanya Maria pada seorang laki-laki.


"Kami sedang mencari keberadaannya, Nyonya," jawab laki-laki itu.


"Wanita tak tahu terimakasih, sudah mengancamku untuk tinggal di sini, dan sekarang dia pergi begitu saja," ucap Maria kesal.


"Tidak perlu cari wanita sialan itu, paling juga dia sedang menjual dirinya!" ucap Maria lagi.


"Baik, Nyonya"


"Kau fokus saja pada cucuku, laporkan setiap tindakan yang dia lakukan padaku!" perintah Maria.


Perlahan tapi pasti, dia akan mempercayaiku dan membuang perempuan itu.


***


Ardan baru saja selesai mandi, kini ia sedang makan mie instan sambil melihat email–nya di laptop.


Awalnya ia biasa saja melihat rekaman cctv Arini yang sedang melakukan kegiatannya. Ardan tersenyum melihat tingkah Arini yang menurutnya itu lucu. Namun seketika senyumannya hilang, saat ia melihat Arini sedang menemui tamu. Ardan mengenal siapa seseorang itu, untuk memastikannya, Ardan pun memperbesar ukuran rekaman video tersebut.


Deg...


Jantung Ardan berdetak kencang, saat mengetahui seseorang yang di dalam video rekaman itu ternyata adalah wanita bernama Mayang, yang tempo hari menemuinya.


Ardan tidak bisa mendengar percakapan mereka, karena itu hanya rekaman video cctv. Pria itu menerka-nerka apa yang dilakukan Mayang di villanya, dan membuat pria itu terkejut, Mayang dan Arini berpelukan. Sepertinya mereka sangat akrab.


"Apa kau membohogiku Arini?" tanya Ardan geram seraya mengepalkan tangannya.


Pria berkaos oblong itu dengan kasar menutup laptopnya, rambut yang tadi rapi ia acak-acak.


Apa mungkin yang dikatakan Oma benar? Arini hanya membohongiku dan menjadikanku alat balas dendamnya?


Ardan mengusap kasar wajahnya.


Ting...


Tiba-tiba pintu apartemen Ardan berbunyi, dengan malas Ardan pergi membukakab pintu.


"Selamat malam, ada paket untuk Anda?" kata seorang pengantar paket itu.


"Dari?"


"Dari Nyonya Maria Ozar,"


"Terimakasih," jawab Ardan.

__ADS_1


Lalu ia membuka amplop itu, amplop itu berisi sebuah berkas yang tadi Ardan lihat di kamar sang nenek.


__ADS_2