
Hari ini adalah hari minggu, Sean saat ini sedang libur dari rutinitas syutting maupun latihannya. Kebetulan sore ini Sean berniat ingin menemui Arini, tapi sebelumnya ia ingin ke apartemen Mr.Park. Sean menyuruh Mr.Park untuk mencari keberadaan Rizky lewat keahliannya melacak dari komputer.
Tidak membutuhkan waktu lama, Sean sudah sampai di apartemen milik Mr.Park. Tanpa ragu ia memencet bel apartemen itu, pintu pun terbuka menampakkan Mr.Park yang sedang menggendong seorang bayi perempuan yang sangat lucu.
"Silahlan masuk, Boss!" ucap Mr.Park.
"Waah ... bayimu cepat sekali besar?" sahut Sean sambil memainkan tangan bayi kecil itu.
"Tentu saja, Boss setiap hari dia saya kasih makan," jawab Mr.Park sambil tersenyum.
"Benar juga. Kemana istri dan anak laki-lakimu?"
"Mereka berdua sedang ke supermarket, karena ini hari minggu, maka tugas saya yang menjaga sikecil," jawab Mr.Park sambil tersenyum lembut pada bayinya.
Mr.Park pun mengajak Sean menuju ruang kerjanya sambil tetap menggendong anaknya.
"Saya dapat petunjuk sedikit dari kamera cctv di rumah sakit tempat Rizky kabur, Boss," jelas Mr.Park seraya menghidupkan komputer canggihnya.
Sean mengerutkan keningnya. "Dari mana kau tahu adik Arini bernama Rizky?"
Mr.Park sontak terkejut dengan pertanyaan Sean. Ia sedikit keceplosan berbicara. Bagaimana ia tidak tahu, mengingat dirinya pernah akrab dengan Rizky. "Ouhh .. itu ... Nona Arini pernah bercerita," jawab Mr.Park bohong.
"Ooh ...."
Tiba-tiba bel pintu berbunyi. "Boss, tetaplah di sini!" ucap Mr.Park sambil berjalan keluar.
"Ya," jawab Sean singkat.
Bukan pertama kali Sean ada di ruang kerja Mr.Park, ia sering mengunjungi apartemen Mr.Park untuk urusan pekerjaan. Sambil menunggu, Sean melihat-lihat berkas yang bertumpuk di atas meja. Mata Sean tiba-tiba terfokus pada sebuah berkas berwarna putih, di sana bertuliskan 'Dokumen Perceraian'. "Siapa yang cerai?" gumam Sean. Ia penasaran siapa yang bercerai. Mungkinkah Mr.Park, tapi sepertinya tidak mungkin Mr.Park bercerai dengan sang istri. Hubungan mereka sepertinya baik-baik saja.
Sean membuka berkas itu, di bacanya dengan seksama. Betapa terkejutnya dia melihat isi dokumen perceraian itu, bagaimana tidak? Di sana tercantum nama Ardan Daviez yang menggugat cerai wanita bernama Arini Elina putri. Tubuh Sean kaku, ia tidak percaya dengan yang ia baca. Mana mungkin mereka bisa saling mengenal.
__ADS_1
"Boss!" Suara Mr.Park membangunkan keterkejutan Sean. Mr.Park lalu melirik ke arah lembaran kertas di tangan Sean.
"Boss!" Mr.Park berusaha menyadarkan Sean.
"Mr.Park, jelaskan semua ini!" ucap Sean dengan nada dingin. Wajah laki-laki itu seketika berubah menjadi dingin.
Mr.Park menghela napasnya, sebenarnya pria itu tidak berniat untuk menutupinya dari Sean, karena suatu hari pasti akan menguak juga. Mr.Park pun menjelaskan hubungan antara Ardan dan Arini seperti apa, hingga mereka terpisah dan Ardan menceraikan Arini. Namun Mr.Park tidak menceritakannya secara detail pada Sean, karena itu bukan haknya membeberkan aib orang lain.
"Jadi ... isu yang dulu itu benar adanya?" tanya Sean.
"Iya Boss," jawab Mr.Park.
"Pantas saja waktu itu aku melihat cincin yang dipakai Kak Ardan sama persis dengan yang dipakai Arini waktu itu. Kenapa Kak Ardan menceraikan Arini?"
"Untuk masalah itu saya tidak ikut campur , Boss."
Sean bangkit dari duduknya, ia berniat ingin pulang, tapi perkataan Mr.Park membuat langkahnya terhenti.
"Apa Anda menyukai Nona Arini? Jika iya, buatlah Nona Arini melupakan masa lalunya," ucap Mr.Park.
Sean yang awalnya ingin menemui Arini mengurungkan niatnya, mobilnya malah melesat menuju gedung apartemen mewah.
"Kenapa gue jadi emosi ya? Gue juga ngapain kesini? Aarrgghh ...."
Sean mau tidak mau pun akhirnya turun, ia langsung saja menuju ke dalam gedung.
Sampai di depan sebuah apartemen, Sean menekan tombol bel, tidak menunggu lama, pintu terbuka. Menampakkan sosok pria dewasa berkaos hitam dengan handuk kecil di lehernya, rupanya dia baru selesai mandi. Pria itu mengerutkan alisnya, merasa heran dengan kedatangan Sean.
"Boleh aku masuk?" tanya Sean.
"Masuklah!" ucap pria yang ternyata Ardan itu.
__ADS_1
"Aku kira Kak Ardan belum pulang dari Jepang?" Sean berbasa-basi.
"Ngapain kesini?" Ardan balik bertanya. Ia merasa heran dengan kedatangan Sean ke apartemennya, karena selama ini hubungan mereka berdua tidak seakrab kakak beradik kebanyakan.
"Aku hanya berkunjung, sudah lama kita tidak mengobrol," jawab Sean seraya duduk di sofa.
"Hmm ... mau minum?" tanya Ardan.
"Boleh."
Ardan membawa dua kaleng minuman soda yang ia ambil dari lemari pendingin tadi. Ia memberikannya pada Sean, lalu ia ikut duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Sean sambil meminum minumannya. Tanpa ia sadari, sebuah mata tengah memperhatikannya dengan seksama, dari ujung kaki hingga ujun rambutnya. Ardan tampak terlihat berbeda, tubuh kekarnya terlihat lebih kurus, begitu juga dengan wajahnya terlihat kusam. Tangan Sean sedikit meremas minuman kaleng yang ia pegang, ada rasa benci saat melihat wajah kakaknya itu. Ia merasa iri hati dengan Ardan, semua yang berhubungan dengannya pasti selalu berkaitan dengan sang kakak. Sampai orang yang dia cintai juga berhubungan dengan Ardan.
Sean menarik napasnya, kemudian ia meminum sodanya.
"Aku yakin kau kemari ingin mempertanyakan sesuatu?" tebakan Ardan tepat.
"Tidak ada," jawab Sean.
"Kau yakin? Aku kira kau ingin menanyakan tentang Elsa padaku?"
Sean terperanjat. "Maksud Kak Ardan?"
"Kau kira aku tidak mengetahui hubunganmu dengan Elsa?" ucap Ardan menyeringai. Ia berjalan menuju ruang pribadinya.
Tidak lama Ardan datang membawa macbook-nya. "Kau masih mempertahankan wanita seperti ini?" ucap Ardan sambil memperlihatkan foto serta video Elsa sedang bergerumul dengan banyak pria di atas ranjang tanpa busana.
Sean sangat terkejut dengan yang ditunjukkan Ardan padanya, antara percaya dan tidak. "Ini gak mungkin Elsa!"
"Terserah kau percaya atau tidak, itu urusanmu. Aku hanya tidak ingin kau terus dibodohi oleh wanita itu," tutur Ardan.
"Dibodohi? Lalu apa bedanya dengan kau? Kau juga dibodohi 'kan dengan dia?" cecar Sean dengan murka.
__ADS_1
"Bodohku tidak seperti dirimu, ada saatnya aku membongkar semuanya." Ardan menjawab dengan tenang.
Sean mengacak rambutnya gusar, ia tidak percaya dengan video maupun foto yang ditunjukan Ardan padanya. Mungkin saja Ardan sengaja menjebaknya? Sejak dulu Ardan 'kan tidak menyukainya. Sean berusaha meredam emosinya. Awalnya ia menemui Ardan karena ingin mencari tahu tentang kebenaran hubungan Arini dan Ardan, tapi ia malah mendapat kejutan tentang Elsa.