Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Merasa Hampa


__ADS_3

Mentari pagi sudah mulai menampakkan dirinya. Cuaca pengunungan yang dingin membuat siapa saja enggan beranjak dari tempat tidur yang hangat.


Arini membuka matanya perlahan, ia merasa ada sesuatu yang menindihi tubuhnya dari belakang. Di lihatnya, ternyata seorang pemuda yang masih terlelap tidur sambil tetap memeluk tubuhnya. Arini menatap wajah Ardan yang sedang tertidur dengan rasa kagum. Betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang satu ini. Pahatan sempurna terpampang nyata di wajah tampan pemuda berambut tebal itu. Hidung yang mancung dan terdapat lesung pipi yang menambah ke tampanannya ketika tersenyum.


Gerakan dari Rizky menyadarkan Arini dari lamunannya menatap wajah Ardan. Gadis itu pun beranjak dari tempat tidur, ia segera pergi ke kamar mandi sebelum Rizky terbangun.


"Mbak Arini, Mbak!" panggil Rizky yang baru saja bangun.


Arini yang baru saja keluar dari kamar mandi pun menghampiri Rizky.


"Sstt... jangan berisik! Kak Ardan masih tidur," ucap Arini.


"Kak Ardan kok tidur di sini, Mbak?" tanya Rizky dengan polos.


Arini tidak menjawab, ia pun segera ke ruang ganti. "Cepat mandi, Ki! Seragam sekolahnya sudah Mbak siapin."


"Iya, Mbak" jawab Rizky.


**


Arini turun menuju dapur untuk membuat sarapan, tapi langkahnya sedikit melambat karena ia melihat seorang wanita sedang sibuk mengepel lantai. Ia pun menghampirinya.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Arini.


"Selamat pagi, Nona. Saya Mia pelayan baru," jawabnya. "Saya kemari atas perintah Tuan Ardan."


"Salam kenal, saya Arini." mengulurkan tangannya yang langsung di balas oleh wanita berambut pendek itu.


Arini pun melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia memulai kegiatan memasaknya, akhir-akhir ini ia sangat suka memasak. Sampai suara Rizky membuatnya terkejut.


"Mbak, Mbak Arini!" panggil bocah itu sambil berlari.


"Apa sih, Ki? Jangan lari-lari nanti jatuh!" kata Arynni seraya meletakkan sarapan yang sudah selesai ke meja makan.


"Mbak, coba liat seragam baru Kiki! Bagus 'kan?" seraya berpose layaknya model.


"Baguslah, 'kan baru" jawab Arynni.


Ardan dan Mr.Park pun menghampiri mereka berdua. Mereka pun sarapan bersama sebelum berangkat untuk ke Jakarta.


**


"Mbak, Kiki berangkat ya!" kata bocah laki-laki itu seraya mengecup pipi sang Kakak.

__ADS_1


"Iya, hati-hati. Jangan nakal ya, Ki!"


Rizky pun memasuki mobil sambil melambaikan tangannya ke arah Arini. Setelah mobil yang mengantar Rizky benar-benar menghilang, Arini pun masuk ke dalam rumah. Ia pun segera naik ke lantai atas untuk membereskan pakaian Rizky yang kemarin baru di beli. Ia lupa untuk meletakkannya di dalam lemari pakaian.


"Arini? Apa itu kau?" tanya Ardan dari dalam walk-in closet.


Arini pun menghampiri ruang ganti. "Iya, ada apa?"


Ardan pun keluar dari walk-in closet dengan jas hitam dan sepatu fantovel berwarna senada. Pemuda itu terlihat sangat tampan dan berwibawa dengan pakaian formalnya, apa lagi dengan kacamata yang bertengger di hidung bangirnya.


Arini tercekat melihat penampilan Ardan yang sangat jauh berbeda dari kesehariannya. Biasanya pemuda itu hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek ketika di rumah. Tapi kali ini dia menggunakan setelan jas berwarna hitam.


Pemuda itu pun menghampiri Arini yang sedang begong.


"Kenapa bengong gitu liatnya? Yah... aku memang tampan." goda Ardan, yang langsung membuat wajah Arini bersemu merah.


"Kau juga sangat cantik hari ini dan wangi, aku suka dengan wangi tubuhmu," bisik Ardan di telinga Arini, yang membuat bulu kuduk Arini merinding.


Arini dengan cepat mendorong tubuh Ardan untuk menjauh darinya.


"Apa kau tidak mau memelukku sebelum aku berangkat?" tanya Ardan.


"Tidak, aku sedang sibuk" jawab Arini ketus.


Arini terkesiap dengan ulah nakal Ardan, ia pun melepaskan ciumannya dan ingin berlalu pergi. Namun di tahan oleh Ardan.


"Hei.. jangan marah! Maaf aku khilaf," kata Ardan.


Tapi tidak dihiraukan oleh Arini, gadis itu pun berlalu pergi. Tapi saat hendak ke luar kamar, pintu kamar sudah terbuka terlebih dahulu menampakkan seorang pria bertubuh besar di hadapannya.


"Maaf, Nona. Apa Tuan Ardan ada di dalam?" tanya Mr.Park.


"Hhmm..., masuklah!" Arynni pun berlalu pergi.


"Kau mengganggu saja," kata Ardan ketus. Ia pun juga berlalu pergi meninggalkan Mr.Park yang kebingungan.


"Arini, tunggu!" ujar Ardan seraya berlari yang terlihat marah.


"Honey, apa kau marah? Maafkan aku, oke!" pinta Ardan.


Arini masih tidak menjawab, wajahnya terlihat sangat.


Dreet... dreet...

__ADS_1


Ponsel Ardan tiba-tiba bergetar, "Ya, ada apa?"


"Ya, aku berangkat sekarang juga" jawab Ardan.


"Mr.Park... kita berangat sekarang!" teriak Ardan.


Ia pun menghampiri Arini yang duduk di ruang tv.


"Honey, aku harus pergi sekarang! Jaga dirimu baik-baik! Aku akan kembali secepatnya," kata Ardan.


Arini pun menatap Ardan, ia sebenarnya tidak mau Ardan pergi, tapi itu bukan hak nya untuk melarang. Arynni pun terpaksa menganggukan kepalanya.


Ardan pun memberikan ponsel yang ia pegang dan mengeluarkan kartu debit dari dompetnya kepada Arini.


"Pakailah ini untuk kebutuhanmu!"


"Tidak perlu, kau sendiri juga membutuhkannya. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu," jawab Arini.


"Kau sama sekali tidak merepotkanku, uangku tidak akan habis kalau hanya untuk kebutuhanmu," jawab Ardan.


"Tapi ponselmu?"


"Sampainya aku di Jakarta, aku akan membelinya lagi"


Ardan pun mengecup kening Arini, berat rasanya meninggalkan gadis polos ini. Ia masih ingin menikmati hari bersama orang yang ia cintai. Tapi apa boleh buat? Perusahaannya sekarang ini membutuhkannya.


Ardan pun menuntun tangan Arini sampai ke halaman depan.


"Aku akan menghubungimu sampai Jakarta," kata Ardan.


"Iya, jaga kesehatanmu!"


"Tentu, panggil aku sayang!" pinta Ardan.


"Tidak,"


"Ayolah...! Sekali saja,"


"Iya, Sa–Sayang"


Ardan pun mengecup singkat bibir Arini dan setelah itu ia pergi menuju mobil yang sudah ada Mr.Park di sana. Mobil hitam itu pun perlahan menghilang dari pandangan Arini.


Ada rasa kehampaan di hati gadis itu setelah Ardan pergi. Villa terasa sangat sepi tanpa pemuda tampan itu.

__ADS_1


*Terimakasih yang sudah mau mampir ke ceritaku, Jangan lupa tetap VOTE, LIKE, KOMEN terus ya..!! Banyak-banyak juga gapapa, biar aku semangat nulisnya*


__ADS_2