
Hari sudah semakin siang, kedua sejoli itu masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang menyelimuti tubuh polos mereka.
Ardan terbangun lebih dahulu, ia melihat ke arah Arini yang masih tertidur pulas karena terlalu lelah melayani dirinya yang tidak mau berhenti menggempur tubuh istrinya. Pria itu pun mengecup singkat bibir Arini, lalu melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri dan langsung berjalan menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, ia melihat Arini yang masih tertidur. Pria itu pun menghampiri Arini.
"Wake up, Honey!" seru Ardan sambil mengelus pipi istrinya itu.
Arini tidak merespon, perempuan itu tetap memejamkan matanya. Ardan pun membiarkannya, setelahnya ia meninggalkan Arini untuk berganti pakaian, lalu menghubungi resepsionis untuk membawakan sarapan untuknya dan juga Arini.
Selagi menunggu sarapannya datang, Ardan kembali membangunkan Arini.
"Honey, ayo bangun!" kata Ardan sembari mengusap lembut rambut Arini. Tapi ada yang aneh dengan istrinya ini, kepalanya terasa sangat hangat.
"Honey, kamu baik-baik saja? Tubuhmu sangat panas," ucap Ardan panik.
Arini pun membuka matanya, wajah perempuan itu sangat pucat dan tubuhnya juga menggigil. Tanpa menjawab, Arini hanya tersenyum.
"Kamu demam, ya?" tanya Ardan.
Ting ...
Terdengar bunyi dari pintu, Ardan pun segera menghampirinya.
"Sebentar?"
__ADS_1
"Selamat pagi menjelang siang, Tuan. Ini sarapan yang Anda pesan!"
"Terimakasih, bisakah panggilkan saya dokter, istri saya sedang demam!"
"Baik, Tuan"
Pegawai resort itu pun segera pergi dan Ardan juga segera menghampiri Arini
"Tunggulah sebentar, aku sudah meminta pegawai untuk memanggil dokter!"
Arini hanya mengangguk.
"Sebentar, aku akan mengambilkan pakaian untukmu," kata Ardan.
"Aku akan membantumu memakaikannya," ucap Ardan khawatir.
"Aku bisa memakainya sendiri," kata Arini lemah sambil menutup kembali selimutnya.
"Tidak perlu malu, bukankah tadi malam aku sudah melihat semuanya?" jawab Ardan.
Ardan pun memakaikan dress berwarna biru itu pada Arini.
Tak berselang lama, pegawai resort datang bersama dengan dokter. Dokter itu pun segera memeriksa kondisi Arini, namun ia sedikit terkejut karena melihat beberapa bercak merah di leher Arini. Pria berjas putih itu berusaha menahan tawanya, sekarang ia tahu penyebab perempuan itu demam. Dokter yang tampak masih muda itu pun selesai memeriksa Arini.
"Gimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Ardan tidak sabaran.
__ADS_1
"Istri Anda tidak apa-apa, hanya tekanan darahnya saja yang rendah. Mungkin dia terlalu kelelahan?" sindir Dokter bernama Panji itu.
Ardan menaikkan sebelah alisnya.
"Apa Anda pengantin baru?" tanya Dokter itu tanpa 0--basi.
"Ya," jawab Ardan singkat.
"Istri Anda rupanya masih sangat muda?"
"Memangnya kenapa kalau istri saya masih muda? Apa Anda menyukai istri saya?" jawab Ardan dengan sedikit emosi.
"Bukan seperti itu, Tuan. Hanya saja, istri Anda kelelahan karena Anda terlalu agresif menggunakannya," jelas Dokter Panji.
Ardan salah tingkah dengan penjelasan Dokter itu.
"Sebaiknya, Anda tidak terlalu berlebihan menggunakan istri Anda! Istri Anda bisa saja mengalami dehidrasi yang berlebih karena kelelahan," jelas Dokter itu lagi.
"Baiklah, saya akan berikan resep vitamin dan obat anti nyeri pada istri Anda." seraya menyerahkan resep obat pada Ardan.
"Iya, terimakasih." Ardan menjawab dengan dingin.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan"
Setelah Dokter Panji pergi, Ardan menghampiri Arini yang terbaring lemah di tempat tidur.
__ADS_1
"Honey, maaf aku terlalu berlebihan!" kata Ardan sambil mengecup kening Arini.
Arini hanya membalasnya dengan senyuman tipis, setelahnya Arini pun mulai memejamkan matanya kembali. Ardan hanya membiarkan sang istri tidur kembali, ia merasa sangat bersalah karena telah terlalu berlebihan pada Arini yang masih tidak mempunyai pengalaman tentang berhubungan.