
Sore hari, sekitar pukul 4 sore. Pak Danu beserta istri dan anaknya baru saja pulang, hanya tinggal beberapa orang yang sedang membersihkan tempat yang digunakan untuk akad tadi.
Arini sekarang sedang berada di kamarnya membersihkan riasan make up dan juga melepaskan kebaya yang ia kenakan di bantu oleh Mia. Sedangkan Rizky sedang tertidur, karena kelelahan dan Ardan sedang mengurus sesuatu bersama Mr.Park.
"Sudah selesai, Non," ucap Mia.
"Terimakasih, Mbak Mia"
"Panggil saya Mia saja, Non!"
"Memangnya kenapa, Mbak Mia?"
"Nona 'kan majikan saya"
"Tapi, Mbak Mia lebih tua daripada aku," ucap Arini.
"Tidak masalah, Non. Ya sudah, Nona segera mandi, Tuan Ardan rupanya sebentar lagi akan pulang!" ujar Mia.
"Memangnya dia kemana?" tanya Arini.
"Sedang mengurus sesuatu, Nona," jawab Mia.
"Ouhhh...,"
Sesuatu apa yang dia urus? dan mengapa tidak bilang kepadaku?
"Saya permisi keluar dulu, Nona?"
"Iya, terimakasih Mbak Mia! Eh... Mia maksudnya," kata Arini.
Mia berlalu keluar meninggalkan kamar majikannya, sedangkan Arini berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit, Arini pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono handuk. Membuka knop pintu, Arini sangat terkejut dengan kemunculan Ardan yang berada tepat di depan pintu kamar mandi.
"Astaga!" pekik Arini. "Se–sedang apa kau di sini? Mengagetkan saja!" gerutu Arini.
"Memangnya kenapa?" tanya Ardan, sambil menatap Arini.
"Ya–ya tidak apa-apa," jawab Arini gugup.
Ardan perlahan berjalan mendekati Arini.
"Ma–mau apa kau?" tanya Arini sambil berjalan mundur.
Ardan bergeming, dia semakin mendekati gadis yang tengah ketakutan itu. Sampai saatnya, tubuh Arini berhenti karena terbentur oleh pintu.
"Ardan, menjauh dariku!"
"Tidak, aku minta kamu mandikan aku!"
__ADS_1
"APA?" pekik Arini. "Mandi saja sendiri, kau 'kan bukan bayi lagi!"
Wajah Ardan perlahan mendekati wajah Arini, berniat ingin mencium. Tapi Arini segera menghindar dan berlari dari Ardan.
"Istriku sangat lucu," gumam Ardan seraya tersenyum. Ia pun memasuki kamar mandi.
Arini yang kini sudah terlepas dari kungkungan Ardan pun berlari ke ruang ganti. Di dalam ruang ganti, segera mengambil pakaian dan langsung mengenakannya.
"Bisa-bisanya dia ada di kamar ini, dia 'kan punya kamar sendiri," celoteh Arini sambil mengenakan satu persatu pakaiannya. "Walaupun dia sudah resmi jadi suamiku, tapi 'kan aku belum siap?"
Selesai berganti pakaian, Arini segera berlalu keluar kamar. Ia takut akan bertemu Ardan lagi, yang membuat jantungnya tidak aman.
"Huuff... syukurlah aku bisa keluar kamar itu," ucap Arini sambil menuruni anak tangga.
Ia pun seger menuju dapur, berniat ingin memasak sesuatu untuk makan malam.
"Nona?" panggil seorang pria yang ternyata adalah Mr.Park.
"Iya, Mr.Park" sahut Arini.
"Apa Anda ingin memasak?"
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Arini heran.
"Tuan Ardan akan mengajak Anda makan malam di luar, jadi Anda tidak perlu memasak," jawab Mr.Park.
"Iya, Nona, dan ini gaun Anda!" menyerahkan paper bag kepada Arini.
Gadis itu pun mengambilnya. "Terimakasih, Mr.Park!"
"Sama-sama, Nona." Mr.Park pun meninggalkan Arini.
Gadis itu pun kembali ke lantai atas untuk berganti pakaian. Langkahnya terhenti saat memikirkan sesuatu.
"Laki-laki itu, apa sudah selesai mandi?" tanya Arini dalam hati.
Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya. Tapi tangannya di tarik oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Ardan.
"Apa hobi mu selalu mengagetkanku, heh?"
Ardan hanya tersenyum, lalu ia menggendong Arini menuju kamarnya.
"Heii... turunkan aku!" teriak Arini dengan wajah memerah.
Sampai di dalam kamar, Ardan menurunkan tubuh Arini di tempat tidur dan langsung mengungkungnya. Pemuda itu perlahan mendekatkan wajahnya pada telinga Arini.
"Cepatlah ganti pakaianmu, aku tunggu di bawah!" bisiknya, lalu Ardan bangkit dan meninggalkan Arini.
"Haahh... aku kira aku akan di–" Arini menghentikan ucapannya. Membayangkannya saja Arini bergidik, ia belum siap untuk melayani pemuda itu.
__ADS_1
Gadis itu pun segera bangkit untuk berganti pakaian, karena sudah di tunggu Ardan di bawah.
Dengan menggunakan dress berwarna hitam dan riasan wajah yang natural, Arini turun menghampiri Ardan yang tengah menunggu di ruang tv.
"Ehemm ...," Arini berdehem.
Ardan pun menoleh, memperhatikan penampilan istrinya itu lalu tersenyum sambil menghampirinya.
"Sudah siap?" tanya Ardan seraya mengulurkan tangannya pada Arini.
Arini menganggukan kepalanya dan menyambut uluran tangan sang suami.
Di perjalanan, pasangan pengantin baru itu terlihat canggung satu sama lain. Walaupun biasanya Ardan suka menggoda Arini, tapi kali ini ia hanya diam, fokus pada jalanan di depannya sambil menggenggam tangan Arini.
Sampai di sebuah tempat, Arini merasa takjub dengan pemandangan yang ada di depannya itu. Tempat itu menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota di malam hari yang terlihat indah dari atas.
Ardan pun membukakan pintu mobil, membawa Arini menuju tempat yang sudah ia siapkan. Mata Arini tidak lepas dari pemandangan sekitar yang sangat indah.
Mereka telah sampai di tempat yang sudah dihiasi oleh lilin yang berjejer rapi menghiasi jalan yang mereka lewati. Tempat itu berupa sebuah resort mewah, namun tidak terlalu luas.
"Ayo kita masuk!" ajak Ardan.
Mereka berdua pun memasuki resort tersebut.
"Kenapa sepi sekali tempat ini?" tanya Arini yang sedari tadi kebingungan, karena yang dia lihat hanyalah para pekerja resort ini. Itu pun hanya beberapa orang saja.
Ardan tersenyum tipis. "Karena aku yang menyewa tempat ini."
"Pantas saja," geretu Arini.
Arini dan Ardan tiba di sebuah meja yang langsung menghadap arah luar. Lilin dan mawar putih tidak lupa menghiasi makan malam romantis mereka.
"**** down, please, My Honey!" kata Ardan seraya menarikkan kursi untuk sang istri.
"Terimakasih," jawab Arini malu-malu.
Pramusaji pun datang dengan membawa makanan untuk mereka berdua.
"Terimakasih," ucap Arini kepada para pramusaji.
Kedua netra pemuda yang kini sudah berganti status menjadi pria itu tak lepas sedikit pun dari tatapannya pada Arini yang kini telah resmi menjadi istrinya itu.
"Kenapa kau selalu menatapku sedari tadi?" tanya Arini yang sedikit risih karena ditatap oleh Ardan.
"Malam ini kau sangat cantik," jawab Ardan seraya mencium tangan Arini.
Arini yang mendapat pujian dari sang suami hanya diam sambil menahan malu yang tak terukur.
Seromantis inikah pria ini? Aku bisa mati mendadak karena malu.
__ADS_1