
Satu tahun yang lalu, di villa milik Ardan.
Sudah hampir satu bulan, Ardan tidak ada kabarnya. Arini sudah beberapa kali mengirim pesan maupun menelepon laki-laki itu, tapi tidak pernah ada balasan.
Suatu malam saat Arini hendak mengunci pintu, suara ketukan terdengar. Arini membukakan pintu dengan cepat, siapa tahu itu adalah Ardan? Pikirnya. Namun dugaannya salah saat pintu terbuka, empat pria berbadan besar muncul dihadapannya. Arini tidak tahu siapa mereka semua.
"Maaf, cari siapa?" tanya Arini dengan sedikit takut.
Pria bertubuh besar itu menerobos masuk. "Kita kesini ingin mengusirmu dari villa ini!" jawab salah satu dari mereka.
"Maksudnya?" tanya Arini yang tidak paham.
"Apa kau tuli? Kita kesini ingin mengusirmu!" bentak pria itu. "Cepat pergi dari sini!" usir pria itu dengan menarik Arini dengan kasar.
"Mbak Arini!" teriak Rizky yang muncul.
Melihat Rizky datang, salah satu pria bertubuh kekar itu langsung menarik tubuh Rizky dengan kasar. Lalu tubuh Rizky dilempar ke luar.
Arini yang melihat itu tidak terima. "Hentikan!" teriak Arini. Gadis itu berlari menghampiri Rizky dan langsung memeluknya.
"Kamu gak papa 'kan, Ki?" tanya Arini cemas.
"Ga papa kok, Mbak."
Arini menghampiri keempat pria itu. "Kalian boleh mengusirku dari sini, tapi jangan pernah lukai adikku!" murka Arini.
Seorang pria berambut gondrong menampar pipi Arini dengan keras. "Gadis sepertimu tidak pantas membentak kami!"
Karena tubuh Arini kecil, ia pun terpental, sudut bibirnya mengeluarkan darah, pipinya juga memerah. Namun Arini tidak menghiraukan rasa sakitnya.
"Aku tidak mengenal siapa kalian, kenapa kalian tiba-tiba mengusirku?" tanya Arini.
"Kami hanya ditugaskan oleh Boss Ardan," jawab pria yang memukul Arini tadi.
"Ardan?" Arini terkejut.
"Tidak percaya, hubungi Boss Ardan!" suruh laki-laki itu pada yang lain.
Sambungan telepon pun masuk, terdengar suara Ardan dengan jelas di telinga Arini. Mendengar apa yang diucapkan Ardan disambungan telepon, Arini masih tak percaya.
__ADS_1
"Kau dengar sendiri 'kan? Sekarang cepat pergi dari sini! usir lagi pria itu.
Arini pun membawa Rizky pergi dari villa tanpa membawa apa-apa.
"Mbak, kita mau kemana malam-malam gini?" tanya Rizky.
"Mbak juga gak tau, Ki, tapi yang penting kita jalan aja dulu sampai bawah," jawab Arini sambil menahan sakit di pipinya.
Cukup jauh mereka berjalan, dua buah mobil dari belakang berhenti, dua orang pria lalu menarik paksa Arini dan Rizky untuk masuk ke dalam mobil. Ternyata yang memaksa mereka adalah empat orang pria yang mengusir mereka tadi dari villa.
"Lepaskan!" teriak Arini. Namun tidak dihiraukan oleh mereka.
"DIAM! Kalau kau bersikeras ingin kabur, adikmu akan kami bunuh dihadapanmu!" ancam salah satu dari mereka.
Arini diam, ia langsung membawa Rizky dalam pelukannya. "Gak perlu takut, Ki, ada Mbak," bisik Arini pada Rizky yang ketakutan.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sekitar 2 jam Arini berada di dalam mobil yang menculiknya dan Rizky. Entah dirinya akan dibawa kemana, Arini hanya tahu bahwa dirinya sedang ada di kota besar Surabaya. Arini sama sekali tidak tidur, ia menjaga Rizky yang sedang tidur dipangkuannya. Sedangkan 2 pria yang berada di kursi depan juga tidak tidur.
Arini tidak berhenti berdoa didalam hatinya, berharap keajaiban Tuhan datang. Perasaan sesak menyelimuti hatinya, apakah semua kejadian ini adalah perbuatan sang suami, Ardan? Setega itukah dia pada dirinya? Apa kesalahan yang dia perbuat, sehingga Ardan melakukan ini padanya? Tanpa alasan yang jelas laki-laki itu meninggalkan dirinya.
Mobil yang membawa Arini berhenti di sebuah tempat yang sepi. Kedua pria yang sedari tadi membuntuti dibelakang turun, salah satu dari mereka menyeret Arini keluar dari mobil. Sedangkan Rizky mereka biarkan di dalam mobil.
"Mbak Arini, jangan tinggalin Kiki. Kiki takut, Mbak!" ringik Rizky sambil menangis.
"Cepat!" bentak pria yang mencengkram tangan Arini.
"Aku akan ikut kalian, tapi jangan sakiti adikku," tawar Arini.
Pria itu tidak menggubris, ia tetap membawa Arini memasuki tempat itu. Sampai di dalam tempat itu, Arini melihat wanita-wanita berpakaian mini sedang berlenggok di sebuah tiang, wanita-wanita itu dikerumbuni oleh para pria. Rupanya tempat itu adalah sebuah club malam yang tersembunyi.
Arini pun dibawa masuk ke suatu ruangan. Tidak jauh berbeda, di dalam ruangan itu juga banyak wanita berpakain mini. Arini sudah bisa menebak dia akan diapakan, gadis itu berfikir di dalam benaknya untuk mencari cara agar bisa lari dari tempat ini.
"Ini gadis yang dibilang Boss tadi?" tanya seorang pria tua dengan kumis tebal.
"Iya," jawab pria yang sedari tadi mencengkram tangan Arini. "Terserah mau kau apakan gadis ini!" lanjutnya.
Pria berkumis tebal itu mendekati Arini, lalu membelai rambut hitam Arini. "Ouhh ... gadis ini rupanya belum tersentuh oleh pria?" tebak pria itu.
Arini menatap tajam ke arah pria itu, ia menggertakan giginya.
__ADS_1
Plakk ... plakk ...
Dua tampara melesat di pipi kanan dan kiri Arini.
"Beraninya kau menatapku seperti itu, heh? ucap laki-laki dengan mencengkram dagu Arini.
Gadis itu berusaha tetap tenang, ia menunggu waktu yang tepat untuk lari. Saat cengkraman dari pria itu melonggar, Arini melirik sebuah botol alkohol yang ada di sampingnya.
Pyarr ...
Botol minuman alkohol itu Arini pukulkan ke kepala pria berkumis tebal di depannya.
"Bangs*t!" murka pria itu.
Secepatnya Arini berlari menerobos orang-orang yang berada di club itu. Karena tubuhnya yang kurus dan kecil, Arini dengan mudah menyelinap disela-sela antara pengunjung club itu.
"Cepat kejar gadis si*lan itu!" perintah pria berkumis tebal itu dengan kepalanya yang berlumur darah.
Anak buah dan pria yang mencengkram tangan Arini tadi berusaha mengejar Arini, mereka kesulitan karena club-nya yang ramai.
Arini yang telah sampai diluar pun dengan cepat mencari keberadaan Rizky. Saat ia hendak berlari...
Doorrr ...
Satu tembakan melesat di salah satu kaki gadis itu, Arini sejenak berhenti merasakan sakit di kakinya. Namun ia tetap berusaha untuk terus berlari mencari Rizky.
"Mbak Arini!" teriak Rizky sambil berlari menghampiri Arini.
Rizky menangis melihat kondisi kaki kakak keponakannya yang berdarah.
"Rizky lari ...!" teriak Arini. Bukannya lari, Rizky malah mengahampiri Arini yang berlari dengan gontai. Anak kecil itu membopong tangan Arini.
"Mbak, ayo aku bantu!"
Dengan tertatih mereka berdua mencoba berlari, karena orang yang mengejar mereka hampir dekat.
"Ayo Mbak, Mbak Arini pasti kuat!" ucap Rizky memberi semangat sang kakak.
Arini hanya mengangguk menahan sakit di kaki kirinya.
__ADS_1
Sampai di jalanan yang cukup ramai, Rizky terus berusaha membopong Arini. Namun mereka kalah cepat, anak buah pemilik club itu berhasil menangkap mereka. Rizky dan Arini tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Heh, mau lari kemana lagi kalian berdua?" ucap salah satu dari mereka.