Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Tawaran pekerjaan baru


__ADS_3

Malam hari, Arini sudah berada di tempat kerjanya. Ia memulai pekerjaannya seperti biasa, walaupun hatinya sedang dalam kondisi patah hati. Ketika Arini sedang melayani pembeli, seorang temannya memanggil.


"Rin, kamu dipanggil manager!"


"Iya." Arini beranjak dari tempatnya menuju ruang manager.


"Ada apa, Pak?" tanya Arini yang baru datang.


"Duduklah, Arini!" ucap Manager.


Arini duduk. Perasaannya sedikit tidak enak, seperti akan ada sesuatu yang membuatnya merasakan sakit hati lagi.


"Arini, mulai besok kamu tidak perlu bekerja lagi disini, kamu dipecat!" ucap Manager itu.


Prasangka Arini ternyata memang benar. "Apa alasan Anda memecat saya, Pak?" tanya Arini. Karena selama ini, dirinya merasa sudah bekerja dengan giat dan juga disiplin dan juga tidak pernah melakukan kesalahan.


Manager restoran cepat saji itu kebingungan mencari jawaban. Karena memang bukan keinginannya memecat Arini, dia hanya diperintah oleh Maria. Jika Manager itu tidak memecat Arini, maka jabatannya akan jadi taruhannya. Kekuasan Maria dalam dunia bisnis memang sudah diakui oleh para pesaingnya, siapa pun harus menuruti perintahnya, jika tidak mereka yang patuh akan menerima balasan yang setimpal.


"Maafkan saya, Arini. Sebenarnya kamu anak yang baik dan juga rajin, tapi saya harus melakukan ini," jawab Manager itu.


Arini tahu siapa yang melakukan ini padanya. Ia berfikir yang melakukan ini adalah Ardan, sebagai upaya menghancurkannya. "Saya mengerti, Pak. Terimakasih banyak atas kebaikan Bapak selama ini."


Manager itu sangat merasa bersalah pada Arini, ia memalingkan wajahnya dari perempuan itu. "Ini gaji terakhir kamu!" Manager itu menyerahkan amplop pada Arini.


"Terimakasih, Pak." Arini pun berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Ingin rasanya dia marah pada keadaan yang selalu menyudutkannya. Uang memang bisa mencapai segala keinginan kita.


Di tempat ganti, Arini mengambil barangnya dan berlalu pergi. Para pegawai lain menatap Arini heran, namun mereka takut untuk bertanya.


Setelah mengambil sepeda, Arini menuntunnya sambil menikmati jalanan kota Jakarta. Di pinggir jembatan biasa ia lewati, perempuan itu menghentikan perjalanannya. Ia berdiri tepat di pembatas jembatan dengan pikiran dan tubuh yang sangat melelahkan. Ya, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan sekaligus menyakitkan bagi perempuan itu. Hatinya terus menerus dibom oleh rasa sakit.


"Inikah nasibku? Kapan aku bahagia?" gumam Arini sambil menatap ke arah langit yang gelap. Perlahan rintik hujan mulai turun bersamaan dengan air mata Arini. Tiba-tiba sesosok laki-laki memeluknya dari belakang dan menarik tubuhnya dari pinggiran jembatan. Tentu saja hal itu membuat Arini terkejut.


"Lo sudah gila mau bunuh diri segala, heh?" ucap laki-laki itu yang ternyata Sean. Laki-laki itu tidak sengaja melihat Arini tengah berada di pinggir jembatan dengan wajah sedih. Dia mengira Arini akan bunuh diri, maka dari itu ia rela turun dari mobil di tengah hujan dan menarik tubuh perempuan itu.

__ADS_1


Arini terheran-heran mendengar ucapan Sean yang tiba-tiba saja muncul. "Apaan sih? Lepasin!"


"Lo yang apaan? Gue akan lepasin lo asalkan lo jangan lompat ke bawah?" ujar Sean sambil terus memeluk pinggang Arini.


Arini melototkan kedua matanya. Mungkin Sean mengira dirinya akan bunuh diri, itu sebabnya Sean berkata seperti itu. "Siapa juga yang mau lompat ke bawah?" sahut Arini.


"Lepasin gak!" perintah Arini pada Sean.


"Lo–lo gak mau bunuh diri?" tanya Sean seraya melepas pelukannya.


"Ya enggak lah," jawab Arini kesal.


"Terus ngapain lo disini hujan-hujanan?" tanya Sean.


"Terserah aku lah," jawab Arini sambil mendekat ke arah Sean dan melototkan kedua matanya.


Deg ... deg ... deg ...


Kenapa gue deg-degan?


Sean pun menarik Arini yang ingin berlalu pergi.


"Eehh ... lepasin!" tolak Arini.


"Ikut gue!" paksa Sean.


"Gak mau!" Arini bersikeras.


Sean membawa Arini ke sebuah caffe yang tidak jauh dari situ. Ia memesan minuman hangat untuknya dan Arini.


"Cepat minum, keburu dingin!" perintah Sean seraya meminum minuman miliknya.


Arini pun menurut, ia meminum minumannya.

__ADS_1


"Seru juga ya naik sepeda sambil hujan-hujanan? Lo tiap hari kerja naik sepeda?" tanya Sean membuka pembicaraan.


"Iya," jawab Arini singkat.


"Lo jam segini kok udah pulang? Biasanya tengah malam?"


"Aku dikeluarin dari kerjaanku," jawab Arini.


"APA?" jawab Sean dengan lantang, membuat pengunjung lain di caffe itu menoleh. "Oh ... jadi karena itu lo mau bunuh diri?" ucap Sean yang sok tahu.


"Aku sudah bilang 'kan, aku gak mau bunuh diri," jawab Arini kesal.


"Iya-iya. Bay the way, kenapa lo dikeluarin dari kerjaan?"


"Entahlah," jawab Arini. Walaupun ia tahu penyebabnya, mana mungkin ia menjawab dengan jujur.


"Gimana kalo lo kerja sama gue, jadi asisten pribadi gue?" tawar Sean pada Arini.


"Gak mau, aku masih ada kerjaan kok di toko bunga," tolak Arini.


"Gue bakal bayar lima kali lipat deh?" tawar Sean lagi. "Diluaran sana banyak loh yang rela jadi asisten gue, demi dekat sama word wide hansome."


Arini memutar bola matanya malas mendengar kenarsisan laki-laki dihadapannya ini.


Namun Arini berfikir lagi, ia pun menimang tawaran Sean, saat ini ia baru saja dipecat dan uang pesangonnya juga tidak terlalu banyak. Dan juga di toko bunga ia berniat hanya membantu Bu Denia karena beliau sudah menolong dirinya dulu. Walaupun Bu Denia setiap bulan memberikan gaji padanya, tapi itu hanya cukup membayar kostan dan juga kebutuhan dirinya dan juga Rizky, belum uang sekolah Rizky yang harus dibayar setiap bulannya.


Akhirnya Arini setuju dengan tawaran Sean, tapi ia meminta Sean untuk mempekerjakannya saat pekerjaanya di toko bunga Gardenia sudah selesai. Dan Sea pun tentu saja menyetujuinya.


Sean merasa kasihan pada Arini yang baru saja kehilangan pekerjaannya, ia hanya berniat membantu. Karena Sean yakin, Arini adalah gadis yang baik dan pekerja keras. Hanya saja memang perempuan itu sikapnya dingin dan keras kepala.


"Ini nomor ponsel gue." Sean menyerahkan kartu namanya kepada Arini.


Hujan pun perlahan reda, perbincangan mereka pun juga berakhir. Arini pun pulang dengan menggunakan sepedanya. Sean sudah berusaha membujuk perempuan itu untuk dia antar, namun Arini bersikukuh tidak mau. Sean pun hanya bisa mengalah saja.

__ADS_1


__ADS_2