Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Sedikit senyuman


__ADS_3

Sekitar jam 7 pagi Arini masih setia menunggu Rizky, kali ini Rizky sudah sadar dari efek obat bius yang kemarin malam disuntikan padanya. Arini dengan pelan memapah Rizky yang baru saja keluar dari toilet. Sampai di tempat tidur, Arini menarik selimut untuk menutupi tubuh remaja itu.


"Mbak, kita kapan pulang?" tanya Rizky dengan nada lemah.


"Kamu gak akan pulang kalau kamu belum sembuh," jawab Arini seraya mengambil makanan dari rumah sakit. "Setelah ini kamu akan diperiksa oleh dokter, jadi kamu harus makan!"


Arini dengan telaten menyuapi Rizky, walaupun Rizky terus menolak suapan demi suapan dari Arini.


Cklek ...


Pintu terbuka, menampakkan sosok laki-laki berbaju putih dengan paper bag dan keranjang buah di tangannya.


"Hai ...!" sapanya pada Arini dan Rizky yang tengah menoleh padanya.


"Gue bawain makanan buat kalian." meletakkan paper bag dan keranjang buah di atas meja.


"Terimakasih," ucap Arini tanpa menoleh ke arah Sean.


Sean menghampiri Rizky, ia menempelkan punggung tangannya pada kening Rizky. "Udah gak demam."


"Kakak yang sering muncul di tv itu 'kan?" tanya Rizky.


"Oww ... kau mengenalku rupanya," jawab Sean.


Lalu kemudian Sean menatap Arini, ia melihat wajah Arini terlihat pucat dan lesu, mungkin perempuan itu belum tidur. Baju yang dikenakan Arini juga masih tetap yang kemarin.


"Eh, cewek datar, makan dulu sana! Adik lo biar gue yang suapin," ucap Sean seraya mengambil alih piring yang ada di tangan Arini.


"Aku gak lapar," bantah Arini.


"Permisi, Nona dan Tuan!" Suara suster yang baru datang mengagetkan mereka semua.


"Pasien akan di bawa ke ruang pemeriksaan bersama Dokter Psikolog," ucap Suster itu.


"Silahkan, Suster!" ucap Arini.


Sean dengan sigap menggendong Rizky ke kursi roda, kedua suster yang melihat itu langsung terpana. Tatapan kedua suster itu berbinar memuja Sean yang memang seorang penyanyi terkenal.


"Silahkan, Sus!" ucap Sean sambil menyunggingkan senyum pada kedua suster itu.


"Sean, bolehkah kita foto bareng? Kami sangat mengidolakanmu!" ucap salah satu Suster itu.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Sean.


Sean dan kedua suster itu berfoto bersama dengan Arini yang jadi juru kamera. Setelahnya, Rizky di bawa oleh kedua suster itu meninggalkan Sean Arini.


Ketika Arini hendak mengikuti, tangannya di tahan oleh Sean. "Eehh ... mau kemana lo?"


"Aku ingin melihat pemeriksaan Rizky," jawab Arini.


"Mandi dulu sana! Gue udah bawain pakaian buat lo," ucap Sean.


Benar juga, aku belum mandi dan pakaianku juga belum ganti.


"Nih, gue beliin lo baju buat lo! Entah kebesaran atau enggak gue gak tau?" Sean memberikan paper bag yang ia bawa tadi.


Arini mengambil paper bag itu dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sean pun menunggu Arini sambil bermain game di ponselnya. Saat Arini keluar dari kamar mandi, perempuan itu menggunakan dress bunga-bunga berwarna putih, dengan rambutnya yang sedikit basah. Aroma tubuh Arini menyebar di ruangan itu, membuat Sean memalingkan tatapannya yang tadi ke arah ponsel kini menatap Arini dengan kagum.


Bisa cantik juga ni cewek datar.


Sean kemudian berusaha memalingkan wajahnya, dia lalu menarik Arini untuk duduk di sofa.


"Apa sih, main tarik-tarik aja?" protes Arini.


"Lo harus makan! Dari semakam lo belum makan 'kan?" ucap Sean seraya membuka paper bag yang ada di meja. Paper bag itu berisi makanan yang sengaja di belinya untuk Arini dan Rizky.


"Iyalah," jawab Sean.


"Tapi kok lama banget?"


"Gue tadi lupa bawa masker sama topi, jadi para penggemar gue pada nyerbu gue. Hampir aja gue dikeroyok sama mereka semua," jelas Sean.


Arini sedikit tidak percaya bahwa Sean akan melakukan itu demi membeli makanan untuk dirinya. Arini kemudian melihat pergelangan Sean yang sedikit berdarah.


"Tangan kamu kenapa berdarah?" tanya Arini sambil memegang lengan laki-laki itu.


"Oh, ini mungkin kena cakar fans gue tadi, jam tangan gue aja hilang," jawab Sean.


"Aku ambilkan antiseptik." Arini berdiri, namun ditahan Sean.


"Gak usah, lagian gak sakit. Makan dulu tuh makanan lo, nanti keburu dingin!"


"Beneran gak papa?"

__ADS_1


"Hemm,"


Arini kembali duduk, ia mulai menyantap makanan yang dibawakan Sean.


Saat Arini tengah makan, Sean menatap Arini dengan seksama. Ia merasa kagum dengan sikap Arini yang perhatian padanya. Selam ini, ia jarang sekali diperhatikan oleh pujaan hatinya, Elsa. Wanita itu hanya akan menemuinya jika menginginkan sesuatu.


"Lo di Jakarta gak punya orangtua?" tanya Sean.


"Enggak, kedua orangtua aku sudah meninggal semua," jawab Arini seraya mengunyah makanannya.


Sean mengangguk mengerti. "Adik lo sebenarnya sakit apa?"


"Kata Dokter, adikku ada gangguan trauma di otaknya. Mentalnya juga sedikit terganggu," jawab Arini.


"Kok bisa? Gue lihat dia normal-normal aja." ujar Sean.


"Lo udah coba cari tahu penyebabnya? Siapa tahu dia sering di bully di sekolahnya?"


"Aku emang berniat buat mencari tahu, tapi saat ini aku masih gak tega buat tinggalin dia sendiri. Takutnya dia akan mengamuk kayak kemarin malam," kata Arini.


"Oh iya, mungkin beberapa hari ini aku gak bisa kerja dulu, aku masih ingin merawat adikku," ucap Arini lagi.


"Hemm, gue ngerti kok," jawab Sean.


"Soal uang yang aku pinjam dari kamu, aku akan bekerja tanpa kamu bayar selama yang kamu mau, gimana?" tawar Arini.


"Itu gampang, yang penting sekarang lo fokus sama adik kesembuhan adik lo," tutur Sean.


"Terimakasih banyak, kamu sudah mau bantu aku!" ucap Arini dengan tulus.


"Kiss me dulu dong!" goda Sean pada Arini yang tengah serius berbicara.


Arini yang digoda merasa jengkel, ia lalu memasukkan burger ke mulut Sean dengan paksa.


"Daripada kamu godain aku terus, mending kamu makan ni burger!" ucap Arini.


"Apaan sih lo? Mulut gue jadi belepotan 'kan?" protes Sean.


"Makanya jangan ngeselin!" Arini tanpa sadar tersenyum melihat bibir Sean yang penuh dengan mayones. Untuk pertama kalinya Sean melihat senyuman di bibir mungil Arini, selama ini ia memang hanya melihat wajah Arini yang datar dan kadang juga melototkan matanya ketika melihat dirinya. Perempuan itu sangat cantik jika tersenyum, apalagi dia memiliki dua lesung pipi yang menambah manis ketika Arini tersenyum.


"Gue baru pertama kali liat lo senyum," ucap Sean.

__ADS_1


Arini yang mendengar itu langsung memanyunkan mulutnya. Sontak Sean pun tertawa. "Bwahahaha ... muka lo lucu banget!"


Wajah Arini seketika memerah karena malu, ia tidak sadar dengan tingkahnya yang membuat Sean tertawa. "Menyebalkan!" gumam Arini.


__ADS_2