Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Bertemu Mr.Park


__ADS_3

Setelah menandatangi surat dari Ardan, Arini mulai membereskan kembali kamarnya yang berantakan. Semua barang dari laki-laki itu ia simpan di sebuah kotak, termasuk gambaran tangan wajah laki-laki itu. Ini adalah awal dari semuanya, Arini akan berusaha untuk melupakan semua tentang Ardan.


Selesai membereskan semuanya, Arini berniat ingin segera mandi. Namun ketukan pintu terdengar lagi, segera Arini membukakan pintu.


"Hai ... Es batu!" sapa Mirae yang muncul di depan pintu.


"Kamu rupanya, Mirae? Masuklah!" Arini mengajak Mirae masuk, setelah itu ia meninggalkan Mirae untuk pergi mandi.


Sementara Arini mandi, Mirae menyiapkan makanan yang ia bawa tadi untuk di makan bersama Arini.


"Ar, aku bawain sarapan buat kamu dan Rizky!" ucap Mirae pada Arini yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Terimakasih, Mirae." Arini berucap sambil berlalu menuju kamarnya, tapi tiba-tiba di tahan oleh Mirae.


"Ar, leher kamu kenapa merah-merah?" tanya Mirae yang tidak sengaja melihat bercak kemerahan di leher Arini.


Arini sontak terkejut, ia lupa tidak menutupi bekas kemerahan yang disebabkan oleh Ardan tadi malam. Cepat-cepat Arini menutupinya dengan handuk. "Di–digigit nyamuk, ya digigit nyamuk," jawab Arini, ia dengan cepat menuju kamar.


Mirae merasa ada yang aneh pada sahabatnya itu, tidak seperti biasanya. Cara berjalan Arini pun, sedikit berbeda, seperti menahan rasa sakit. "Arini kenapa ya?"


Di dalam kamar, Arini sibuk menutupi bekas-bekas kemerahan di leher dan ceruknya. Ia mencoba menutupinya dengan bedak, namun tetap saja masih terlihat. Akhirnya Arini menyerah, ia terpaksa menggunakan pakaian yang berkerah.


"Rizky belum bangun?" tanya Mirae yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Arini.


"Hah, oh iya, Rizky masih tidur," Arini menjawab dengan gelagapan.


Mirae melihat sekitar kamar Arini yang sedikit berbeda, dimana sebelumnya banyak gambaran tangan Arini berjejer rapi di dinding. "Gambaran tangan kamu pada kemana, Ar?"


"Ada, aku simpan."


Mirae pun duduk di tepi kasur dekat Arini. "Kamu gak papa 'kan, Es batu?"


"Aku baik-baik aja," Arini menjawab seolah tidak terjadi apa-apa.


"Arini, katakan saja kalau kamu punya masalah!" Mirae coba mencari jawaban dari kebohongan Arini.


Arini memegang lengan sang sahabat. "Aku benar-benar tidak papa, Mirae. Aku hanya kelelahan saja."


Mirae menarik napas. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu mengakhawatirkanmu," jawab Mirae.


"Aku ke kamar mandi sebentar!" ucap Arini sambil berlalu.


"Arini, aku harap kamu memang baik-baik saja!" gumam Mirae. Tiba-tiba ponsel milik Arini berbunyi, Mirae pun mengambil dan melihat siapa yang menelepon.

__ADS_1


"Siapa ini, gak ada namanya?" Mirae ragu antara mengangkatnya atau membiarkannya saja, tapi kalau yang menelepon itu penting, gimana? Akhirnya Mirae mengangkat telepon milik Arini. "Bodo amat deh kalau dia marah!" gerutu Mirae.


Mirae baru saja ingin berbicara, tapi seseorang di telepon itu langsung menyelanya.


"Eh, cewek datar! Lama banget ngangkat telepon gue?" ucap seseorang di telepon itu yang ternyata Sean.


"Ini siapa ya?" tanya Mirae.


"Gue Sean, belum lo save apa nomor gue? Kebangetan lo!"


"Ke apartemen gue sekarang, gue tunggu lo, awas telat!"


Tut ... tut ...


Sambungan telepon berakhir, bersamaan Arini yang baru datang.


"Siapa yang telepon, Mirae? tanya Arini.


"Dia bilang namanya tadi Sean, kalo gak salah. Mirip nama penyanyi," ucap Mirae.


"Emang," jawab Arini singkat.


"Serius? Itu Sean penyanyi terkenal itu?" tanya Mirae heboh.


Arini dan Mirae pun akhirnya makan bersama. Mirae tidak hentinya bertanya pada Arini tentang hubungannya dengan Sean, tapi Arini hanya menjawab seadanya. Ia sedikit malas membahas laki-laki menyebalkan itu.


Setelah selesai makan, Mirae pun pulang bersama Arini yang juga ingin keluar menemui Sean. Mereka berdua menaiki angkutan umum yang berbeda, Arini menuju apartemen Sean, sedangkan Mirae menuju pulang apartemennya.


Sesampainya di gedung apartemen Sean, perempuan itu mengambil ponselnya untuk menghubungi laki-laki itu, karena Arini tidak mengetahui nomor apartemen Sean.


"Aku sudah ada di bawah, kamu di lantai berapa?" tanya Arini pada Sean.


"Gue lagi ke luar sebentar. Tunggu aja di situ!"


Arini pun terpaksa menunggu di lantai bawah. Saat dia tengah duduk, matanya tidak sengaja melihat Ardan tengah berjalan dengan seorang laki-laki, mungkin itu rekan bisnisnya. Arini pun berusaha menyembunyikan wajahnya, dengan cara melepas kuncir rambutnya dan membiarkan terurai.


Ketika pria itu melewatinya, entah apa yang membuat pria itu menghentikan langkahnya. Rupanya Ardan mencium sesuatu yang tidak asing baginya.


"Arini ada di sini?" Ardan bergumam dalam hati sambil melihat sekitar ruang tunggu itu.


Menyadari Ardan tengah mencari keberadaannya, Arini pelan-pelan melangkahkan kakinya untuk menjauhi Ardan dari tempat itu. Namun tiba-tiba ia menabrak tubuh seseorang.


Arini mendongakkan kepalanya. "Mr.Park?" ucap Arini.

__ADS_1


"Nona Arini?" ucap Mr.Park yang juga terkejut dengan Arini.


"Mr.Park, aku mohon jangan bilang ke Ardan kalau aku ada di sini!" ucap Arini memohon pada Mr.Park.


"Mari, Nona ikut saya!" Mr.Park membawa Arini menjauh dari sana. Pria bertubuh besar itu membawa Arini masuk ke dalam sebuah apartemen.


"Silahkan masuk, Nona!" Mr.Park menyuruh Arini untuk masuk ke dalam apartemen mewah itu. Betapa terkejutnya Arini saat mengetahui bahwa apartemen itu ternyata milik Sean, karena foto laki-laki yang menurut Arini menyebalkan itu terpampang nyata di matanya. Foto itu berukuran sangat besar, dengan menampilkan sosok Sean tengah duduk dengan pistol di tangan kirinya.


Arini tidak mengerti dengan semua ini, mengapa bisa Mr.Park mengenal Sean?


"Duduklah, Nona!" Mr.Park mempersilahkan Arini duduk.


"M–mr.Park, kenapa Mr.Park mengenal laki-laki itu?" tanya Arini sambil mengarahkan matanya pada foto Sean.


"Sekarang dia adalah Boss saya, Nona," jawab Mr.Park.


"Boss? Lalu–" Arini sengaja menghentikan perkataannya, bibirnya terlalu kaku untuk menyebut nama pria yang memperkosanya tadi malam.


Mr.Park paham mengapa Arini tidak melanjutkan ucapannya. "Saya sudah lama berhenti dari Beliau, dan sekarang saya bekerja dengan adiknya," jawab Mr.Park.


"Jadi Mr.Park tau kalau mereka bersaudara?" tanya Arini dengan polos.


"Tentu saja, Nona, saya sudah lama bekerja di keluarga Daviez."


Arini tertunduk, Mr.Park pasti sudah menceritakan semuanya pada Sean antara dirinya dan Ardan.


Mr.Park lalu manepuk pundak Arini pelan. "Nona, jangan khawatir! Saya tidak mengatakan apapun pada Boss Sean tentang masalalu Anda bersama Tuan," ucap Mr.Park. Pria paruh baya itu rupanya mengetahui kegelisahan Arini.


Arini mendongak. "Benarkah, Mr.Park?"


Mr.Park tersenyum ramah. "Tentu saja, Nona."


Di tengah perbincangan Arini dan Mr.Park, tiba-tiba pintu apartemen berbunyi pertanda seseorang masuk. Sean yang baru masuk terkejut dengan Arini yang sudah ada di apartemennya.


"Lo kok ada di sini?" tanya Sean pada Arini. "Pak Korea juga di sini?"


Mr.Park berdiri. "Saya tadi tidak sengaja bertemu Nona ini di lobi sedang di ganggu pria hidung belang," jawab Mr.Park beralasan.


"Pantesan gue hubungi gak di jawab?"


"Ponselku tadi mati," jawab Arini dengan bohong.


"Ikut gue!" perintah Sean pada Arini.

__ADS_1


Melihat Sean dan Arini meninggalkannya, Mr.Park pun juga pergi.


__ADS_2