
Arini dengan penampilan sedikit acakan melangkahkan kaki dengan gontai meninggalkan gedung DC Grup. Ia tidak menghiraukan tatapan semua orang yang ada di gedung itu, yang menatapnya dengan aneh dan mengartikan hinaan padanya.
Arini menghentikan sebuah angkutan umum yang melintas, ia ingin segera pulang untuk menenangkan hatinya yang tengah kacau.
Dipertengahan jalan menuju kostan-nya, di dalam angkutan umum Arini melihat sosok yang tidak asing baginya. Seorang anak dengan pakaian lusuhnya sedang memainkan gitar di sudut lampu merah, anak itu menyanyikan lagu di setiap mobil-mobil yang berhenti di lampu merah.
"Kiki?" seru Arini terkejut. Ia tidak yakin kalau yang dilihatnya itu adalah keponakannya. Bukankah anak itu sedang sekolah di jam begini?
Arini pun menyuruh supir angkutan umum untuk berhenti. "Pak, berhenti!" Arini turun, ia cepat-cepat menghampiri anak yang mirip dengan Rizky itu. Arini berharap bahwa yang dilihatnya bukanlah Rizky, namun harapannya salah. Saat Arini menepuk bahu anak itu dengan pelan, ternyata anak itu memanglah Rizky adik keponakannya.
"Kiki!" panggil Arini.
Rizky begitu shock melihat Arini yang ada dihadapannya saat ini. "M–mbak Arini?"
Arini menarik tangan Rizky untuk ke pinggir jalan, hatinya semakin hancur melihat Rizky yang tengah mengamen. Pikiran Arini semakin kalut. Tanpa banyak bicara, Arini membawa Rizky masuk ke dalam angkutan umum untuk pulang.
Sesampainya di kostan, Arini mendudukan Rizky. Anak laki-laki berumur 12 tahun itu ketakutan, tubuhnya bergemetar ketika melihat sang kakak yang sebentar lagi akan meledakkan amarahnya.
"M–mbak, ma–maafin Kiki!" ucap Rizky sambil tertunduk.
"Apa uang jajan yang Mbak kasih buat kamu selama ini kurang, Ki?" tanya Arini.
Rizky menggelengkan kepalanya.
"Lalu buat apa kamu mengamen?" bentak Arini. Amarah perempuan itu akhirnya meledak. "Mbak kerja siang malam buat kamu, biar kamu bisa sekolah yang tinggi gak seperti Mbak yang bodoh ini."
__ADS_1
"Kamu satu-satunya harapan Mbak, Ki. Mbak cuma punya kamu," lanjut Arini dengan suara bergetar.
"Maafin aku, Mbak. Aku cuma pengen bantu Mbak Arini cari uang," jawab Rizky.
Arini menangis mendapat jawaban dari Rizky, ia memeluk anak laki-laki itu. "Kamu gak perlu bantu Mbak cari uang, kamu cukup sekolah yang rajin."
"Maafin Kiki ya, Mbak. Aku janji gak akan ngamen lagi," jawab Rizky.
"Mbak pegang janji kamu!" sahut Arini.
**
Di sebuah butik terkenal, Maria tengah melihat-lihat koleksi baju di butik itu, dia temani oleh seorang pria yang merupakan orang suruhannya.
"Siapa?" tanya Maria dengan masih sibuk memilih-milih baju.
"Arini, Nyonya," jawab pria suruhan Maria.
Maria menghentikan kegiatannya, ia mengepalkan tangan kirinya dengan erat. "Perempuan si*lan, apa dia belum kapok juga sudah ku usir dari villa?"
"Antar aku ke kantor Ardan sekarang!" perintahnya pada orang suruhannya.
"Baik, Nyonya."
Sampai di kantor Ardan, dengan angkuh Maria berjalan melewati karyawan-karyawan yang memberi hormat padanya.
__ADS_1
"Mana Ardan?" tanya Maria pada sekretaris Ardan.
"Beliau sedang tidak ingin diganggu, Nyonya," sekretaris itu
Maria tidak menggubris, ia tetap berjalan menuju ruangan milik Ardan dan masuk tanpa mengetuk pintu.
"Kau tuli, jangan ganggu aku!" teriak Ardan yang tengah duduk di sofa dengan beberapa botol minuman alkohol yang mahal dihadapannya.
"Ardan, hentikan!" Maria balik berteriak.
Ardan yang masih dalam kondisi setengah sadar menoleh ke arah Maria. "Oma?"
"Kenapa kau bodoh sekali, hanya karena perempuan si*lan itu kau mabuk?" seraya duduk di samping cucunya.
"Kau harus menghancurkan dia, karena dia kau kehilangan ayah dan ibumu! Dia yang telah menghancurkan segala sesuatu dalam keluarga kita," ucap Maria.
"Aku mencintainya, Oma," jawab Ardan.
"Cinta? Kau tidak patut untuk mencintai perempuan yang sudah menyakiti keluargamu! Kau juga sudah punya Elsa 'kan?" sahut Maria.
"Aku tidak mencintai Elsa. Bukankah Oma yang menginginkan Elsa, bukan aku?" seru Ardan.
"Anak tidak berguna!" Maria melangkah sambil mengambil ponsel di dalam tasnya. "Cari alamat perempuan si*lan itu! Hancurkan semua yang menyangkut dengannya!" ucap Maria dengan seseorang yang berada di sambungan telepon.
Maria pun pergi meninggalkan Ardan yang tengah mabuk itu, ia tidak memperdulikan keadaan sang cucu. Wanita tua itu lebih tepatnya hanya memanfaatkan Ardan sebagai alat balas dendamnya pada Arini.
__ADS_1