
Sejak kembalinya Ardan ke Jakarta, hari-hari perempuan itu ia habiskan di kamar untuk menggambar. Entahlah, suasana hatinya menjadi sepi. Walaupun Ardan sering menghubunginya lewat sambungan video, tapi tetap saja, ia merasa kesepian. Pria itulah yang sekarang mengisi lubuk hatinya, pria itu juga yang pertama mengambil segalanya dari dirinya.
"Mbak, makan malamnya sudah siap?" kata seorang wanita pekerja baru di villa itu.
"Iya, Bu Uyun, habis ini aku akan turun!" sahut Arini dari dalam kamar.
Arini pun ke lantai dasar untuk makan malam. "Buk Uyun, ayo makan sama-sama!"
"Tidak usah, Mbak," jawab wanita bernama Uyun itu.
"Gak papa kok, Bu Uyun. Temani aku makan, Rizky soalnya sedang ikut berkemah," jelas Arini.
Wanita yang seumuran dengan almarhumah ibunya itu pun duduk di kursi depan Arini. "Terimakasih ya, Mbak Arini"
"Sama-sama, Bu. Kalo makan di sini aja gak usah di belakang!"
"Iya, Mbak. Mbak Arini, masakan saya tidak enak ya?" tanya Uyun. Karena sedari tadi ia melihat majikannya itu makan hanya sedikit.
"Enak kok, Bu Uyun. Enak banget malahan," jawab Arini. Ia menyadari bahwa ia kurang bersemangat untuk makan.
"Aku lagi gak enak makan aja, Bu," jawab Arini lagi dengan lesu.
"Suami Mbak Arini belum menghubungi Mbak, ya?"
"Belum, Bu, sedari tadi pagi"
"Mungkin lagi sibuk, Mbak Arini"
"Iya." Arini pun berdiri dari duduknya. "Aku ke kamar dulu, Bu Uyun."
***
Sekitar jam 2 dini hari, Ardan baru saja sampai di apartemennya. Hampir setiap hari dia lembur, biasanya ia sampai di apartemen sekitar jamm 11 malam. Tapi kali ini, ia pulang sudah terlalu lewat malam. Ia juga sama sekali belum menghubungi Arini.
Ardan pun mengambil ponsel dari dalam sakunya, ia berniat ingin menghubungi Arini. Tapi ia mengurungkannya.
"Mungkin dia sudah tidur," gumam Ardan. Ia pun meletakkan ponselnya di atas nakas dan langsung menuju kamar mandi.
Pagi hari telah tiba, Ardan terbangun. Entah mengapa tidurnya kali ini sama sekali tidak tenang, mungkin karena dia belum menghubungi Arini.
Pria itu pun mencari ponselnya dan langsung menghubungi Arini. Tidak lama, panggilan video itu direspon oleh Arini. Nampak wajah sang istri yang memenuhi layar ponselnya.
__ADS_1
"Kau sedang apa?" tanya Ardan.
"Aku sedang tidak melakukan apa-apa"
"Kau marah? Maaf, kemarin aku tidak sempat menghubungimu!"
"Aku tidak marah, aku mengerti keadaanmu sangat sibuk. Cepatlah mandi, kau bisa telat nanti! Jangan lupa untuk sarapan!"
"Terimakasih, sudah mengerti! Aku mandi dulu, akan aku hubungi lagi nanti?"
"Iya."
Sambungan video itu pun terputus, Ardan segera bangkit dari tempat tidur dan ingin menuju kamar mandi, tapi bel apartemennya berbunyi. Ia pun mengurungkan niatnya dan berbalik menuju pintu.
"Tumben sekali Mr.Park datang sepagi ini," gumam Ardan.
Pintu pun dibukanya, ia sedikit terkejut dengan seseorang yang datang ke apartemennya itu. Yang dikiranya itu Mr.Park asistennya, ternyata salah, yang muncul malah wanita berumur berpakaian hitam.
"Oma?" kata Ardan.
"Selamat pagi, Ar," ucap wanita dan menerobos masuk ke dalam apartemen Ardan.
"Oma, tumben ke sini, ada apa?" tanya Ardan.
"Aku juga rindu dengan Oma." seraya memeluk sang nenek.
"Aku mandi dulu ya, Oma!" ucap Ardan.
Beberapa menit Ardan selesai mandi dan juga sudah mengenakan setelan jas navy. Ia pun mengahampiri sang nenek yang berada di ruang tamu.
"Aku mandinya lama ya, Oma?" tanya Ardan seraya memakai dasi.
Maria menghampiri Ardan, dan membantunya mengenakan dasi.
"Apa kau akan terus seperti ini, Ardan?" tanya Maria.
"Maksudnya?" Ardan balik bertanya.
"Kau butuh seseorang yang bisa mengurus hal seperti ini, umurmu juga sudah cukup untuk menikah," sindir Maria.
"Aku belum siap untuk ke arah situ, Oma,"
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Maria berpura-pura tidak tahu.
"Bagaimana kalau kita sarapan di restoran favorit, Oma?" mengalihkan pembicaraan.
"Boleh juga, sekalian Oma ingin membicarakan sesuatu." merapikan jas sang cucu
"Terimakasih, Oma. Ayo kita berangkat!"
Kali ini, Ardan mengendarai mobilnya sendiri bersama Maria menuju restoran. Sebelumnya, ia sudah menghubungi Mr.Park untuk tidak menjemputnya.
Sampai di restoran yang di tuju, mereka pun turun dan langsung masuk ke dalam restoran itu. Mereka duduk di meja dekat dengan jendela dan memesan makanan.
"Kau tidak berangkat dengan Mr.Park?" tanya Maria.
"Tidak, aku menyuruhnya untuk berangkat terlebih dahulu," jawab Ardan.
"Oh iya, Oma ingin membicarakan apa?" tanya Ardan.
Maria pun menatap cucunya itu, tapi tatapannya beralih pada cincin yang ada di jari manis Ardan.
"Kau sudah menikah?" tanya Maria tanpa basa-basi.
Ardan yang mendapat pertanyaan mengejutkan itu pun berusaha mencari alasan. Namun sepertinya sang Oma sudah mengetahuinya. Pria itu pun menghembuskan nafasnya.
"Iya, aku sudah menikah," jawab Ardan jujur. Percuma ia berbohong, toh... Maria mungkin sudah mengetahuinya. Secara, sang Oma memiliki orang suruhanya. Jadi, memperoleh informasi apapun ia bisa dapatkan.
Maria menyeringai mendapat jawaban jujur dari Ardan. "Hhmm... begitu rupanya?"
"Aku yakin Oma sudah mengetahuinya, iya 'kan?" tebak Ardan.
Obrolan mereka terhenti saat pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka.
"Makanlah dulu sarapanmu!" kata Maria mengalihkan pembicaraan.
Ardan dan Maria pun memulai sarapan mereka.
"Apa Oma mengenal wanita bernama Rahmi?" tanya Ardan tiba-tiba disela makannya.
Maria menghentikan kunyahannya, lalu melihat Ardan. "Kalau kau ingin tahu semuanya, menginaplah nanti malam di rumah Oma!"
"Kenapa tidak menjelaskannya di sini?" tanya Ardan.
__ADS_1
"Terlalu ramai untuk menjelaskannya di sini," kata Maria, lalu ia melanjutkan makannya.