Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Secara Resmi


__ADS_3

Tiba villa milik Ardan, Arini turun bersama Mia. Gadis itu merasa sangat aneh dengan keadaan villa yang sedikit ramai. Bahkan ada 3 mobil yang berjejer rapi di halaman.


Arini berjalan sambil dituntun oleh Mia, karena ia sedikit kesulitan dengan pakaian yang ia kenakan.


"Mbak Mia, kenapa saya harus pakai kebaya segala, ini 'kan hanya perayaan ulang tahun?" tanya Arini yang masih tidak mengerti.


"Ini 'kan acara akad nikah Nona Arini?" jawab Mia dengan santai.


"APA...?" Arini terkejut. "A–aku belum siapa untuk menikah, dan dengan si–siapa aku menikah?" lirih Arini. Tubuh gadis itu seketika lemas, ada rasa gugup dan juga takut.


"Ya sama Tuan Muda Ardan–lah, Non" jawab Mia. "Ya udah ayo kita masuk! Udah banyak yang nungguin di dalam."


"Ta–tapi Mbak Mia, aku belum siap jika harus mendadak seperti ini?"


Mia tidak menjawab, ia menuntun pelan Arini untuk menuju tempat akad yang akan segera dilaksanakan.


Memasuki ruang santai, ada Danu, Ratih dan juga Mirae yang sedang menunggu.


Ada keluarga Pak Danu juga


Mirae yang melihat kedatangan Arini pun langsung menghampiri gadis itu.


"Es batu ... kamu cantik banget," puji Mirae pada sahabatnya itu.


Arini hanya tersenyum kecut. "Mirae, kamu kenapa ada di sini?" bisik Arini.


"Aku di undang secara khusus sama Kak Ardan" jawab Mirae. "Kamu kenapa gak cerita ke aku sih?"


"Aku sendiri juga tidak tahu, Mirae. Ini sangat mendadak buat aku."


"Nduk, ayo kita ke halaman belakang! Yang lain sudah menunggu dari tadi, kasihan kalau kelamaan nunggu," kata Ratih.

__ADS_1


"I–iya Tante."


Ratih dan Danu pun mengandeng Arini di sebelah kanan dan kiri gadis itu, dengan Mirae dan Mia yang mengikuti di belakang, dimana Ardan dan yang lain sudah menunggu. Danu dan Ratih menjadi pengganti orangtua Arini yang sudah tiada. Danu juga yang akan menjadi wali nikah Arini.


Suasana saat itu sangat tenang, tapi tidak untuk Arini. Ia merasa sangat tidak percaya akan menikah secepat ini, bukankah mendiang ibunya tidak memperbolehkan ia berhubungan dengan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu? Mengingat itu, rasa bersalah muncul di hatinya, harusnya dia menjauhi laki-laki itu bukan malah menerimanya. Tapi ia mencintai laki-laki itu, izinkan dia untuk egois kali ini saja.


Langkah Arini terhenti sejenak.


"Kenapa, Nduk?" tanya Ratih.


"Aku–aku tidak bisa, Tante" jawab Arini ragu.


"Nduk, Arini ... jangan pernah ragu untuk menuruti kata hati kamu, kamu pantas untuk bahagia, Arini," ucap Ratih meyakinkan.


"Iya, Nduk. Kamu jangan takut!" sahut Danu yang ada di sebelah kanan Arini.


Arini pun menggenggam tangan Danu dan Ratih bergantian. Ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk mencurahkan keraguannya.


Gadis itu berjalan menuju tempat akad yang berada di halaman belakang. Di lihatnya sekitar, tempat itu sudah diubah menjadi lebih indah lagi. Nuansa putih mendominasi tempat itu, serta bunga mawar putih yang berjejer rapi juga ikut menghiasi. Sangat indah.


Sampai di samping Ardan yang berdiri, Arini pun menyunggingkan senyum lembutnya pada Ardan. Pemuda itu juga membalasnya dengan senyum manis. Hati Ardan terasa meleleh mendapat senyuman lembut dari Arini.


"Baiklah, sang pemelai perempuan sudah datang. Mari kita mulai ijab kabulnya," kata penghulu yang akan menikahkan Arini dan Ardan.


Acara ijab kabul pun berlangsung dengan lancar dan hikmat. Arini segera mencium tangan Ardan dan Ardan mengecup kening Arini.


"Oohh ... so sweet banget, Ma" kata Mirae.


"Iya, Mama jadi terharu" ucap Ratih yang menyeka air matanya.


"Yuk kita foto bareng mereka!"

__ADS_1


Mirae, Tante Ratih, dan Mia pun mengahampiri sepasang pengantin yang baru menikah itu.


Tidak banyak yang menghadiri pernikahan itu, hanya keluarga Danu dan para pegawai Ardan yang bekerja di villa itu.


"Es Batu, selamat ya! Aku ikut seneng," ucap Mirae sambil memeluk Arini dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, terimakasih banyak ya Mirae" ucap Arini membalas pelukan dari sang sahabat.


Kini berganti Tante Ratih, wanita itu tidak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk Arini dengan sangat erat.


"Arini, selamat ya, Nduk. Jadi istri yang baik dan penurut sama suamimu"


"Iya, Tante, terimakasih atas semuanya. Tante Ratih dan Pak Danu sangat baik kepada keluargaku, maaf selama ini sudah banyak merepotkan Tante dan Pak Danu," ucap Arini sambil ikut menangis.


"Gak, Tante gak merasa direpotkan, Sayang. Sudah kewajiban setiap manusia untuk membantu sesamanya," kata wanita berhijab itu, lalu ia mencium kening Arini.


Arini seketika teringat kepada keluarganya yang sudah pergi meninggalkannya. Jika mereka ada disaat seperti ini, mungkin akan menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi dirinya.


"Mbak Arini," panggil Rizky yang muncul di sampingnya.


"Rizky?" sahut Arini. Kemudian ia bersimpuh.


"Mbak Arini gak boleh nangis, ini 'kan hari yang bahagia buat Mbak Arini," kata anak itu sambil mengusap air mata di wajah Arini.


"Iya, Mbak gak nangis lagi kok" jawab Arini sambil mengusap lembut puncak kepala Rizky lalu memeluknya.


"Hai ... istriku!" sapa Ardan yang baru saja datang.


Arini perlahan melepas pelukannya kepada Rizky, kemudian menoleh ke arah Ardan.


"Apa?" jawab Arini ketus.

__ADS_1


"Hei Honey ... kenapa kau galak sekali dengan suamimu ini," ucap Ardan seraya mencubit dagu Arini.


"Iisshh ...." Arini pun berlalu begitu saja melewati Ardan sambil mengajak Rizky.


__ADS_2