
Seusai ia kabur dari rumah sakit, Rizky ternyata berada di sebuah rumah yang tidak terlalu terurus. Remaja 12 tahun itu masih lengkap menggunakan seragam rumah sakit, dengan tangan yang masih berdarah karena bekas infus yang sengaja ia lepas. Wajahnya pucat, dengan bibir yang membiru. Ia tertatih memasuki rumah itu. Sepertinya Rizky sudah hafal betul dengan keadaan rumah itu, ia masuk melalui pintu belakang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sampai di sebuah ruangan, Rizky di sambut oleh para pria bertubuh besar dengan tubuh yang penuh dengan tatto.
"Balik juga lo, bocah?" ucap pria bertubuh besar itu.
"Maafkan aku Bang, aku bisa datang sekarang," jawab Rizky.
"Tuh liat, barang-barangnya sudah numpuk karena belum lo jual?" Pria itu menunjuk ke arah barang yang terbungkus rapi di dalam koper.
Pria itu lalu menghampiri Rizky dan menjambak rambutnya dengan kasar, sampai kepala Rizky mendongak ke atas.
"Lo jangan coba-coba main sama gue, gue bisa laporin lo ke Boss besar!" ancam pria itu.
"Maaf Bang," sahut Rizky.
Buk ...
Satu tendangan mengenai perut Rizky, sontak remaja itu kesakitan dan memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
"Ampun Bang, kali ini aku tidak akan bolos lagi," jawab Rizky sambil menahan rasa sakit di perut dan juga rambutnya yang masih dijambak.
"Itu hukuman buat lo, sekarang lo ganti pakaian dan mulai antar barang-barangnya!" titah pria itu sambil melempar Rizky ke tumpukan koper.
**
Beberapa bulan lalu, ketika Rizky pulang sekolah, ia di culik oleh seorang pria. Dia di bawa ke sebuah rumah mewah, di sana Rizky bertemu dengan seorang wanita tua. Rizky sama sekali tidak mengenal siapa wanita tua dan para anak buahnya itu. Tangan dan kakinya diikat, matanya juga ditutup.
Di sebuah ruangan, Rizky dilepaskan kaki, tangan dan mulutnya. Di ruangan itu hanya ia dan wanita tua itu.
Rizky yang memang masih polos itu bertanya pada wanita tua itu, "Siapa Anda? Kenapa Anda menculik saya?" tanya Rizky dengan tubuh gemetar karena takut.
Wanita tua itu menyeringai sambil menyesap minuman di tangannya. Ia melangkah mendekati Rizky yang berada di lantai. "Bocah kecil, kau tidak perlu tau siapa aku!" ucap wanita berbaju coklat itu dengan rambut yang disanggul rapi.
Rizky sangat ketakutan waktu itu, tubuhnya gemetar dan keringat dingin membanjiri wajahnya. "Saya mohon, lepaskan saya!"
__ADS_1
"Tidak semudah itu, kau harus menuruti semua perintahku! Jika tidak kakakmu akan menerima resikonya."
"Mbak Arini," tukas Rizky lirih, namun di dengar oleh wanita itu.
"Ya benar sekali yang kau ucapkan itu,"
"Saya mohon, jangan sakiti kakak saya," Rizky akhirnya terisak.
"Kau tahu, kakakmu itu membawa petaka bagiku. Dia bisa saja mengambil seluruh hartaku dan juga kasih sayang Ardan untukku."
"Kak Ardan?" Rizky terkejut mendengar nama Ardan disebutkan.
"Ya, Ardan. Dia adalah cucuku," jawab wanita tua yang ternyata Maria itu. Untuk membuat hidup Arini semakin hancur, sengaja menculik Rizky. Ia akan memberi tawaran pada Rizky untuk bekerja padanya, dan sebagai jaminan, ia tidak akan menyakiti Arini. Tentunya saja semua itu hanya rencana busuknya, ia akan tetap membuat Arini tersiksa dengan cara yang ia rencanakan. Ia kan menghancurkan Rizky perlahan dengan cara menyuruh Rizky menjadi pengedar barang terlarang berupa jenis narkoba.
Maria menjelaskan pada Rizky tentang tawarannya itu. Awalnya Rizky menolaknya, namun setelah melihat video tentang Arini yang sedang bekerja keras untuknya membuat remaja itu menyutujuinya.
Maafin Kiki, Mbak. Kiki udah banyak menyusahkan Mbak Arini, mungkin dengan ini Kiki bisa membantu sedikit beban Mbak Arini.
"Baiklah saya setuju, Nyonya. Tapi saya mohon jangan sakiti Mbak Arini!" pinta Rizky.
Rizky pun akhirnya di bawa oleh orang suruhan Maria kembali ke tempatnya di culik tadi.
Sejak itulah, Rizky jarang masuk sekolahnya. Ia dengan bodohnya menuruti semua yang di perintahkan orang suruhan Maria. Jika ia tidak menuruti, Rizky akan di pukul dan di siksa. Tak jarang Rizky juga di suruh untuk mengamen, dan uang pemberian Arini untuknya akan di rampas oleh pesuruh Maria itu. Lama kelamaan mental Rizky terganggu, ia lebih cepat emosi dan tempramen. Bahkan saat di sekolah Rizky pernah bertengkar dengan guru yang mengajarnya.
Ada saat Rizky di paksa untuk menggunakan barang terlarang dan dia juga di paksa untuk meminum minuman keras. Hingga Rizky merasa kecanduan pada kedua barang haram itu. Tidak jarang juga Rizky sering di pukul karena melakukan kesalahan.
Semua kejadian itu ia rahasiakan dari Arini, ia benar-benar berhati-hati saat berdekatan dengan Arini. Karena Arini setiap harinya bekerja siang hingga malam, membuat Rizky leluasa keluar rumah.
**
Rizky kini sudah berganti baju dan juga lengannya yang berdarah juga sudah ia tutupi. Rizky menghampiri pria yang tadi memukulnya.
"Mana barang yang akan saya bawa, Bang?" tanya Rizky.
Pria bertubuh kekar itu menoleh. "Nih ...!" menyerahkan sekitar 5 bungkus barang haram tersebut pada Rizky.
__ADS_1
"Lo dari mana aja, Ki?" tanya salah satu teman Rizky yang juga bekerja sebagai pengedar.
Rizky mengambil bungkusan barang tersebut. "Aku lagi banyak urusan," jawab Rizky.
"Kalian harus waspada dengan situasi sekitar, jangan sampai ada yang curiga dengan gerak-gerik kalian!" ucap pria itu, lalu ia menghampiri Rizky. "Terutama lo, nasib lo hampir terancam di penjara."
Rizky menganguk mengerti. "Iya Bang."
"Ini hp buat mengetahui lokasi pelanggan kita!" menyerahkan ponsel pada teman Rizky.
Rizky dan temannya pun berlalu pergi meninggalkan rumah tak terurus itu.
Setelah kepergian Rizky, sebuah mobil datang. Dia adalah teman pria yang menyuruh Rizky, dia datang bersama Maria. Rumah bekas itu memang kondisi sekitarnya sepi dan jauh dari pemukiman.
Maria kemudian keluar dari dalam mobil dengan menggunakan kacamata hitam dan penutup kepala yang hampir menutupi seluruh kepalanya. Semua itu ia lakukan agar tidak ada yang mengenalinya. Wanita tua itu pun masuk. Mengetahui kedatangan Maria, pria yang berada di dalam rumah itu pun dengan cepat keluar dari ruangannya dan menghampiri Maria.
"Nyonya!" sapa pria itu.
"Bagaimana, apakah dia sudah kembali?" tanya Maria seraya duduk di kursi dengan menyilangkan kakinya.
"Sudah, Nyonya, tapi keadaan dia terancam Nyonya, karena polisi sedang mencarinya," jawab pria itu sambil menundukkan kepalanya.
Maria menaikan sebelah alisnya. "Kalau begitu, besok malam bawa dia ke tempat biasa!"
"Baik, Nyonya."
"Soal perempuan itu bagaimana?"
"Belum tahu, Nyonya, yang saya tahu dia tengah mencari keberadaan Rizky bersama dengan polisi,"
"Ingat, jika bocah kecil itu tertangkap, jangan sampai dia membocorkan siapa kita!"
"Saya pastikan dia tidak akan berani, Nyonya. Karena saya mengancamnya seperti yang Nyonya suruh,"
"Good!"
__ADS_1