Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Awal Yang Menyakitkan


__ADS_3

Waktu bergulir dengan sangat cepat, bulan kini berganti dengan tahun. Hari demi hari dilalui Arini dengan penuh perjuangan, hidup di kota orang memang tidak semudah yang dibayangkan. Sudah hampir 5 bulan ini Arini berada di Jakarta bersama Rizky, ia sekarang bekerja sebagai pengantar bunga dan malamnya ia bekerja disalah satu restoran cepat saji sebagai pelayan.


Malam ini, ia baru saja selesai bekerja dan ingin segera pulang. Tiba-tiba saat ia ingin keluar dari ruang ganti, seorang teman memanggilnya.


"Rin," panggil seseorang.


Perempuan itu pun menoleh dan menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Rin, bantuin gue dong!" seru teman Arini itu.


"Bantuin apa?" tanya Arini.


"Lo anterin pesanan ini, ya!" seraya memperlihatkan paper bag berisi makanan cepat saji itu.


"Tapi itu 'kan bukan tugas aku?" jawab Arini.


"Lo 'kan anak baru, jadi lo harus mau dong anterin ni pesanan, itung-itung belajarlah!" kata teman sepekerjaan Arini yang bernama Eli itu.


Arini tidak bisa berbuat apa-apa, iya hanya bisa menuruti yang disuruh oleh seniornya itu, memang ia pegawai baru di restoran itu. Itu sebabnya ia sering disuruh-suruh oleh para pekerja yang sudah lama bekerja di restoran itu. Para pekerja lain pun banyak yang tidak menyukai Arini, karena sifat Arini yang cenderung tertutup dan tidak banyak bicara. Arini sama sekali tidak mempermasalahkan itu, ia hanya fokus dengan pekerjaannya supaya mendapatkan uang agar bisa membayar sekolah Rizky dan kebutuhan yang lain.


Arini pun mengangguk. "Oke, mana alamatnya?"


"Bagus, nih!" menyerahkan paper bag berwarna coklat itu pada Arini. "Nanti gue kirim lokasinya ke hp lo!"


Setelah itu Eli keluar dari ruang ganti meninggalkan Arini.


Arini pun mengambil tas gendongnya dan berlalu keluar dari restoran cepat saji itu. Sampai di parkiran, ia mengambil sepedahnya dan tidak berselang lama ponselnya berbunyi, ternyata Eli sudah mengirimkan alamat pemesan makanan itu.


"Gak terlalu jauh," gumam Arini, ia pun mulai mengayuh sepedahnya.


Suasana malam kota Jakarta begitu indah, lampu-lampu dan beberapa pengguna jalan menemani perjalanan Arini menuju alamat pemesan makanan itu.


Sekitar sepuluh menit, Arini sampai di alamat yang ia tuju. Ia pun memarkirkan sepedanya.


"Bener 'kan ini alamatnya?" gumam Arini sambil melihat ke arah ponselnya.


Perempuan dengan kuncir kudanya itu pun memasuki gedung yang ternyata apartemen mewah.

__ADS_1


Sampai di resepsionis. "Permisi, ada pesanan makanan untuk kamar 129!" kata Arini pada resepsionis tersebut.


"Mbaknya langsung masuk aja!" jawab resepsionis itu.


"Oh iya, terimakasih"


Dret... dret...


Tiba-tiba ponsel Arini berbunyi. Ia pun menggangkatnya.


"Halo, Aliya ada apa?"


"Kamu kok belum pulang?"


"Bentar lagi pulang kok, masih nganterin pesanan,"


"Ya udah, hati-hati!"


Arini melanjutkan langkahnya.


Sampai di kamar 129, perempuan itu pun memencet bel. Tidak berselang lama, seorang pria membukakan pintu. Betapa terkejutnya Arini, pria yang membukakan pintu ternyata hanya menggunakan celana pendek. Arinin pun buru-buru memalingkan wajahnya.


"Siapa lo?" tanya pria itu.


"Maaf kalo mengganggu, saya hanya mengantarkan pesanan makanan yang Anda pesan." menyerahkan paper bag.


Pria itu mengeryit. "Gue gak pesan makanan."


Arini yang sedari tadi menunduk, mendongakan kepalanya. "Tapi ini memang benar alamat Anda," jawab Arini.


"Gue bilang, gue gak pesan makanan!" kekeh pria itu.


Arini berfikir sejenak. "Apa Eli membohongiku dan mengerjaiku?" pikirnya dalam hati.


Arini menarik nafas kasar. "Anda jangan coba-coba mengerjai saya, saya sudah capek-capek datang ke sini untuk mengantar pesanan Anda, dan Anda dengan gampangnya bilang kalau ini bukan pesanan Anda, terus siapa yang menghubungi restoran kami tadi? Setan?" cecar Arini.


"Lah... kok malah elo yang nyolot? Lo yang coba menipu gue!" tuduh pria itu.

__ADS_1


"Kalau Anda tidak punya uang untuk membayar, ya jangan pesan makanan." jawab Arini tidak mau kalah.


"Lo–" ucapan pria itu terhenti saat seorang wanita muncul dan langsung memeluknya dari belakang.


"Ada apa sih, Baby?" tanya wanita itu.


"Tau nih orang, bilang aku pesan makanan padahal aku gak merasa pesan," jawab pria itu.


"Ohh ya ampun.... aku lupa, aku yang pesan makanan itu tadi," kata wanita seraya bergelayut di leher sang pria.


"Kenapa kamu gak bilang, Baby?" kata pria itu sambil mengecup bibir sang wanita.


Arini yang melihatnya merasa jijik. Memang, Jakarta kota yang bebas. Di depan orang yang tidak dikenal pun mereka bermesra-mesraan.


"Maaf, kalau begitu ini pesanan Anda!" kata Arini seraya menyerahkan paper bag.


"Thanks... " jawab wanita itu.


Arini pun ingin berlalu tadi dicegah wanita bergaun seksi itu.


"Hei, tunggu!"


"Anda memanggil saya?" tanya Arini.


"Ini." menyerahkan 5 lembar uang kepada Arini. "Ini tip buat kamu, maaf ya tadi pacar aku marahin kamu!" katanya.


"Maaf, tapi ini kebanyakan"


"Gak papa, ambil aja" Wanita itu pun berlalu pergi.


"Terimakasih banyak," jawab Arini.


Kekesalan Arini pun menghilang karena menerima 5 lembar uang seratus ribuan di tangannya. Ia langsung pergi meninggalkan apartemen itu dengan sepedanya.


Sejenak Arini menghentikan kayuhan sepedanya, ia berhenti tepat di pinggir jembatan yang biasanya ia lewati ketika pulang. Ia pun turun, netranya menoleh ke arah gedung-gedung pencakar langit, dan netranya berhenti pada sebuah gedung yang menampilkan videotron tentang sebuah iklan perusahaan yang saat ini sedang sangat populer.


Wajah Arini menyendu, buliran bening memenuhi kelopak matanya. Setiap ia melihat wajah seseorang yang berada di videotron itu, hatinya terasa sangat sakit. Wajah pria itulah yang menyebabkan dia berada di kota ini. Hampir satu tahun sudah, perempuan berparas ayu itu memendam rasa sakitnya seorang diri.

__ADS_1


Apa dia masih mengingatku?


Pertanyaan itulah yang selalu ada di dalam hati Arini, tidak disangka buliran bening jatuh ke pipinya. Perempuan itu pun kembali menaiki sepedanya dan pergi.


__ADS_2