Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Sekilas Cerita Sean.


__ADS_3

Sean telah sampai di apartemen miliknya dengan keadaan basah kuyup.


Ceklek ...


Pintu apartemen terbuka, tiba-tiba seorang wanita muncul hendak memeluk laki-laki itu, namun tidak jadi karena pakaian Sean yang basah.


"Baby, kamu kenapa basah kuyup gini?" tanya wanita itu.


"Tadi aku habis tolongin orang yang mau bunuh diri," jawab Sean sambil berlalu melewati wanita bernama Elsa.


"Siapa yang mau bunuh diri?" tanya Elsa sambil mengekor dibelakang Sean.


Sean hanya menaikan bahunya, ia lalu pergi ke kamar mandi.


Selesai dengan kegiatan mandi, Sean keluar. Namun tatapannya fokus pada Elsa yang tengah berbaring di ranjang dengan hanya memakai g-string. Wanita itu mendekati Sean yang juga hanya memakai handuk. Jari lentik wanita yang berprofesi sebagai model itu menelusuri dada dan perut sixpack Sean.


"Baby, miss you," ucap Elsa dengan nada yang menggoda.


"Aku kira kamu akan melupakanku setelah bertunangan dengan kakaku," jawab Sean dengan nada ketus.


"Kamu cemburu?" tanya Elsa. Kini wanita itu memeluk Sean. Namun tidak dibalas oleh laki-laki itu.


"Tentu saja aku cemburu, kau kekasihku. Siapa yang tidak cemburu saat melihat kekasih sendiri bertunangan dengan kakak kandungnya?" jawab Sean kesal.


Selama 1 tahun mereka menjalin hubungan dengan diam-diam. Pengorbanan Sean juga tidak mudah, ia rela dihina oleh orangtua Elsa. Sebisa mungkin ia menyakinkan pada kedua orangtua sang kekasih tentang rasa tulusnya pada Elsa. Namun tetap saja orangtua Elsa tidak menyetujui hubungan mereka. Alasannya hanya karena Sean adalah seorang penyanyi, namun ada alasan lain yang membuat laki-laki itu tidak terima. Kedua orangtua Elsa menghina Anna ibu dari Sean, karena dulunya Anna adalah seorang wanita malam.


"Aku sudah bilang sama kamu 'kan, aku tidak menyukai Ardan sama sekali. Aku sangat sedih dengan pertunangan itu." Elsa semakin erat memeluk Sean. Dalam hati wanita itu, sebenarnya ia tidak menginginkan Sean lagi. Ia hanya membutuhkan belaian dari laki-laki itu, karena tunangannya Ardan tidak pernah sekalipun menyentuhnya. Padahal Elsa sangat menyukai Ardan sedari dulu, ia hanya memanfaatkan Sean untuk lebih dekat dengan Ardan.


Sean menyeringai lalu melepaskan pelukan Elsa di tubuhnya. "Tapi yang aku lihat sebaliknya, kau terlihat sangat bahagia saat pertunangan itu berlangsung."


"Aku hanya berpura-pura saja, Baby," bantah Elsa.


"Sebaiknya sekarang kamu pulang, aku sedang tidak ingin melakukannya," ucap Sean sambil berlalu meninggalkan Elsa.

__ADS_1


"Baby, kamu harus percaya sama aku!" seru Elsa. Namun tidak dihiraukan oleh Sean yang tetap berjalan menuju walk in closed.


Setelah kepergian Elsa, Sean duduk sendiri di sofa sambil beberapa kali menunggu ponselnya berbunyi.


"Cewek datar itu kenapa belum juga menghubungiku?" gerutu Sean.


Sean tersenyum sejenak saat mengingat kejadian di jembatan tadi. Dirinya sangat bodoh mengira Arini akan bunuh diri. Tapi entah mengapa saat mengingat wajah Arini, jantungnya berdegup kencang.


"Aahh ... ngapain gue tiba-tiba keingat cewek datar itu?" ujar Sean mengusap rambutnya.


Dreet ... dreet ...


Ponsel Sean akhirnya bergetar, namun bukan Arini yang menghubunginya melainkan Elsa. Sean sedang tidak ingin berbicara dengan Elsa untuk sementara waktu ini, hatinya masih dilanda cemburu. Ia hanya membiarkan ponselnya bergetar, lalu ia beranjak pergi tanpa membawa ponselnya.


**


Pagi hari tiba, Arini tiba-tiba dibangunkan oleh Rizky yang sedari tadi mengetuk pintu kamarnya. Arini menggeliat, pagi ini tubuhnya benar-benar sangat lelah dan juga tubuhnya terasa tidak seperti biasanya. Dengan malas Arini berjalan untuk membuka pintu kamarnya.


"Mbak, di depan ada orang yang mengantar makanan banyak banget," jawab Rizky yang sudah rapi menggunakan seragam sekolah menengah pertama.


Arini langsung berlari ke ruang tamu, dilihatnya dari jendela memang banyak sekali pengantar makanan berdiri di depan kostan-nya.


"Mereka ngapain ya, Ki?" tanya Arini pada Rizky yang juga ikut melihat di jendela.


"Kiki juga gak tahu, Mbak. Ini orang-orang yang tempo hari mengantar makanan ke sini," jawab Rizky.


Arini bingung, ia pun membuka pintu. "Maaf sebelumnya, saya tidak merasa memesan apapun dari kalian?"


"Ini semua dari kekasihnya Mbak," jawab salah satu dari mereka.


"Kekasih? Saya tidak punya kekasih!"


"Mbak ini lucu ya, pacar sendiri gak diakui. Kasian loh ...."

__ADS_1


Para pengantar makanan itu pun memberikan semua yang mereka bawa kepada Arini, perempuan itu hanya pasrah.


Jam 9 pagi ini, Arini sudah berada di toko bunga Gardenia Floris.


"Pagi Bu Denia!" sapa Arini pada Denia yang sedang mengecek bunga-bunga.


"Arini, sini deh!" panggil Denia.


Arini menghampiri. "Ada apa Bu Denia?"


"Sejak kemarin, gak ada yang memesan bunga kita. Padahal bunga kita masih segar," jawab Denia dengan wajah sedih.


"Kenapa bisa begitu, Bu?" tanya Arini terkejut.


"Entahlah, aku juga heran."


Mungkinkah ini berkaitan dengan Ardan lagi?


"Bu Denia tenang aja, saya akan menjual bunga-bunga ini dengan berkeliling." Arini berusaha membuat Denia tidak bersedih.


"Kamu gak malu, Arini?"


"Untuk apa malu Bu Denia, saya bekerja bukan mencuri."


Denia memeluk Arini. "Kamu sungguh anak yang baik."


"Bukankah kita harus baik pada semua orang, Bu Denia," jawab Arini.


Dalam hati Arini, ia akan bertaruh pada Ardan. Ia tidak akan menyerah pada keadaan yang sengaja dibuat kacau oleh Ardan karena ingin menghancurkannya.


Aku ingin melihat seberapa banyak lagi kau akan menghancurkanku, Ardan? Aku tidak akan kalah olehmu!


Namun sebenarnya Arini tidak mengetahui kalau semua kekacauan yang terjadi bukanlah Ardan penyebabnya, melainkan Maria. Kebenaran sebenarnya belum terungkap.

__ADS_1


__ADS_2