Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Pelukan hangat dari Sean


__ADS_3

Keesokan harinya, Arini terbangun terlebih dahulu. Ia segera bergegas untuk pergi dari apartemen Sean sepagi mungkin sebelum ada orang yang melihatnya. Akan berbahaya jika ada yang melihatnya nanti. Sebelum ia pergi, ia terlebih dahulu memasak sarapan untuk Sean dan ia juga menuliskan memo untul laki-laki itu.


Sekitar pukul 9 pagi, Sean terbangun. Ia keluar kamarnya dengan masih menggunakan baju tidur.


"Hoaamm ... kurang ajar Genta, baru jam segini udah bangunin gue!" gerutu Sean sambil menguap. Ia kemudian menoleh ke arah kamar tamu yang digunakan Arini tadi malam, ia pun menghampirinya.


"Rin, lo udah bangun?" Sean membuka pintu, namun sosok yang ia cari tidak ada di dalam sana. "Kemana tu cewek?" Sean pun keluar ingin menuju dapur untuk mengambil air minum. Langkahnya terhenti saat melihat makana di meja makan dan juga secarik surat, Sean cepat-cepat mengambilnya dan membaca.


Dimitri, maaf aku tidak membangunkan kamu dulu. Aku sedang buru-buru untuk mencari adikku. Kamu tidak perlu repot-repot membantuku mencari Rizky, aku bisa sendiri kok. Terimakasih banyak sudah banyak menolongku, semangat syuttingnya.


"Dasar keras kepala!" gerutu Sean, tanpa basa-basi Sean dengan cepat mengambil jaket dan juga maskernya. Ia berniat ingin menyusul Arini, mungkin perempuan itu ada di area gedung apartemen. Sampai di dasar gedung, mata Sean menyapu ke segala arah, ia memperhatikan setiap orang yang berada di sana. Tapi rupanya dia tidak menemukan sosok perempuan kurus itu. Tidak menyerah, Sean lalu berlari menuju lobi untuk mengmbil mobilnya.


Di sisi lain, Arini tengah terduduk di sebuah halte bus. "Gimana aku mau pulang, uang aja aku gak punya. Bodoh kamu Arini!" merutuki dirinya sendiri. Di tengah lamunannya, sebuah mobil berhenti tepat di depan halte bus. Kaca mobil terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang menggunakan masker.


"Heh, bego, masuk cepet!" ucap laki-laki itu yang ternyata Sean.


"Dimitri?" Arini menghampiri laki-laki itu.


"Cepetan masuk! Lelet lo!"


Arini masuk ke mobil Sean dengan wajah kesal karena dikatai lelet.


"Lo tu cewek bego, lo gak mau menyusahkan orang lain tapi lo sendiri butuh bantuan. Lo mau jalan kaki ke kostan lo, heh?" Sean berkata dengan menggebu-gebu. Ia tidak suka dengan Arini yang keras kepala.


Arini terdiam, ia hanya menggelengkan kepalanya. Ia terlalu angkuh untuk menerima bantuan dari orang lain.


Buk ...


Sean memeluk Arini, sontak Arini terkejut bukan main. Awalnya Arini ingin melepaskan pelukan Sean darinya, namun ada rasa nyaman ketika laki-laki itu memeluknya.

__ADS_1


"Lo jangan pernah egois sama diri lo sendiri, cintai diri lo sendiri sebelum lo mencintai orang lain," tutur Sean.


Kata-kata Sean membuat Arini menyadari bahwa dirinya terlalu egois untuk dirinya sendiri. Arini lupa bagaimana rasanya bahagia, selama ini hidupnya kosong, tidak ada kebahagiaan, tidak ada senyuman. Penyebabnya hanya satu, ia masih ada di penjara masalalunya. Entah sampai kapan ia akan mengeluarkan dirinya dari balik jeruji kesakitan di masa lampau.


Terimakasih, Dimitri.


Arini tidak menyangka, Sean yang selalu membuatnya kesal bisa menenangkan sedikit kesedihannya. Arini tak kuasa menahan air matanya, ia menangis tersedu. Walaupun itu pelan, tapi Sean dapat merasakannya. Sean semakin mempererat pelukannya pada Arini.


"Menangislah, Rin! Aku tahu kamu lelah," bisik Sean.


"Hiks ... hiks ... apa aku boleh membalas pelukanmu?" tanya Arini.


"Tentu saja," jawab Sean.


Untung waktu itu masih sangat pagi, jalanan juga masih sepi. Hanya beberapa pengendara yang lewat di halte itu. Setelahnya, Sean mengantarkan Arini untuk pulang ke kostannya.


Sampai di kostan,


"Iya, lo jangan sungkan kalo butuh sesuatu sama gue. Oh iya, maaf gue belum bisa bantu lo cari Rizky, jadwal gue full. Tapi tenang aja, gue bakal suruh Pak Korea buat bantu lo."


"Iya, sampai jumpa." Arini tersenyum lembur pada Sean. Setelah itu Arini pun berlalu.


Deg ... deg ...


Jantung Sean terasa sangat berdebar ketika melihat senyum lembut dari Arini. "Apa-apaan ni jantung, tiba-tiba jedak jeduk," gerutu Sean sambil memegangi dadanya.


Sampainya di rumah kostan, terlihat ada beberapa orang di sana. Mirae, Aliya dan Denia juga ada. Arini mengerutkan kedua alisnya, ia merasa bingung, apa yang mereka lakukan di kostannya.


"Ada apa ini?" tanya Arini yang muncul.

__ADS_1


"Arini?" Sontak mereka semua yang berada di sana terkejut secara bersamaan. Denia yang pertama kali memeluk Arini, di susul Aliya dan terakhir Mirae.


"Kamu darimana aja, Arini? Kita semua cariin kamu," ujar Mirae.


Arini baru ingat, kalau tiga hari ini dia tidak pulang. Mereka semua mengira Arini telah hilang.


"Maafkan saya sudah merepotkan kalian semua, saya baik-baik saja. Tiga hari ini saya menginap di rumah tempat saya bekerja," jelas Arini pada orang yang ada di sana.


"Syukurlah, kalo Neng baik-baik aja," sahut pemilik kostan yang Arini tinggali. Ketua RT, dan pemilik kostan itu pun pergi. Tinggalah Mirae, Denia dan Aliya. Arini pun mengajak mereka masuk ke dalam kostan.


"Arini, kamu darimana aja?" Pertanyaan pertama itu langsung saja di ucapkan oleh Mirae yang sangat mengkhawatirkan Arini.


"Iya, Rin kamu darimana aja? Tante dan yang lain sangat mengkhawatirkanmu," sambung Denia.


"Kalian gak perlu khawatir, aku baik-baik saja," jawab Arini. Terharu rasanya mendengar masih ada yang mengkhawatirkan dirinya, ia masih memiliki orang yang menyayanginya.


"Maaf, kalau aku selalu merepotkan kalian." Arini berkata dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"It's oke, Friend," sahut Aliya seraya mengelus lengan Arini.


Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Mirae, Aliya dan Deni pada Arini. Mereka semua penasaran tiga hari ini Arini berada dimana. Arini kali ini berusaha terbuka, ia menceritakan semuanya pada mereka bertiga. Tentu saja mereka bertiga terkejut dengan penjelasan Arini. Bagaimana tidak terkejut, Arini pingsan di tengah jalan dan yang menolongnya adalah seorag superstar terkenal, Dimitri Sean Daviez.


"Beruntung banget kamu Arini bisa di tolong sama superstar," ucap Aliya.


"Aliya!" sahut Denia.


"Apa sih, Ma. Emang salah ngomong?"


"Kayanya dia suka sama kamu?" ucap Denia melirik Arini.

__ADS_1


Arini menanggapinya hanya datar, karena ia merasa biasa saja saat Sean bersamanya. Memang ia senang ketika Sean memperdulikannya, tapi selebihnya ia biasa saja. Jika boleh jujur, Arini tidak ingin merasakan yang namanya jatuh cinta. Menurutnya jatuh cinta itu akan indah di awalnya saja, tapi akan menyakitkan diakhinya. Tapi selain alasan itu, dilubuk hatinya yang paling dalam, masih ada sosok pria yang tidak bisa ia lupakan. Pria itu memang selalu menyakitinya, tapi Arini mencintainya. Terkadang seseorang yang kau cintai adalah orang yang selalu menyakitimu.


__ADS_2