Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Pelukkan tak terduga


__ADS_3

"Buk, aku ke villa dulu!"


"Untuk apa kamu ke sana lagi, Nduk?"


"Aku ingin mengambil barangku di sana, setelah itu aku tidak akan ke sana lagi. Aku ingin mencari pekerjaan lain." jelasnya.


"Maafkan ibu, Nduk. Bukannya ibu melarangmu–"


"Aku mengerti, Buk. Aku pergi!"


Arini pergi dengan hati yang tidak menentu, mengingat perkataan yang dikatakan ibunya tempo hari membuat gadis itu berpikir, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Dia tidak pantas untuk menyukai pria seperti Ardan, dia sempurna–sedangkan dirinya jauh dari kata sempurna.


Akhirnya dia telah sampai di villa milik Ardan, membuka gerbang dan mulai memasukinya. Dikeluarkannya kunci villa tersebut dari saku celananya, mulai memasuki. Sudah seminggu dia tidak mengunjungi villa ini, pasti keadaannya sangat kotor. Tapi tujuan awalnya ke tempat ini bukan untuk itu, melainkan untuk mengambil barangnya. Perlahan kakinya berjalan menuju kolam renang yang berada di dekat ruang keluarga, membuka pintu kaca, matanya menelisik setiap pemandangan yang berada di depannya. Menghirup udara sekitar yang sangat menyejukkan, setelah itu dia kembali ke dalam untuk pergi ke lantai dua. Dia ingat bahwa buku miliknya berada di kamar milik Ardan.


Memasuki kamar, Arini merasa ada yang aneh. Dia mencium aroma parfum milik Ardan di kamar itu, mungkinkah pria itu sudah kembali? Tapi mengapa dia tidak menghubungi dirinya terlebih dahulu?


Arini pun mengacuhkan keraguannya, mendekati tempat tidur, langkahnya terhenti saat melihat tempat tidur itu berantakan, seperti habis di tiduri oleh seseorang. Lamunannya tersadar saat gadis itu mendengar suara memericik air dari kamar mandi.


Siapa yang menggunakan kamar ini? Apa Kak Ardan? Jika iya itu Kak Ardan, aku tidak melihat mobilnya di halaman. Jangan-jangan....


Mata Arini pun melotot dan langsung mencari sesuatu yang ada di kamar tersebut, matanya berhenti pada buku tebal yang terjejer rapi di rak buku. Dengan berjinjit dan hati-hati, Arini mengambil buku yang ukurannya memang sangat tebal tersebut. Dia berniat untuk menggunakan buku itu sebagai tameng jika yang keluar adalah seseorang yang dia maksud. Menuju kamar mandi, Arini menghadang sesorang yang akan keluar dari kamar mandi tersebut.


Handle pintu kamar mandi perlahan terbuka, memperlihatkan sesosok pemuda tinggi dengan tubuh atletisnya yang hanya menggunakan handuk ditubuhnya. Arini yang dengan mata terpejam langsung melayangkan buku tebal tersebut ke arah pemuda itu, tepat mengenai kepalanya.


"Awww...!" seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Arini yang familiar dengan suara itu pelan-pelan membuka matanya, betapa terkejutnya gadis itu setelah melihat seseorang yang berada di depannya tersebut bukan orang asing, melainkan pemilik villa ini.

__ADS_1


"Kak Ardan?"


"Arini? Kenapa kamu memukulku?" tanya Ardan heran.


Arini pun melongo dengan mulut yang terbuka. "Ma–maaf, a–aku tidak bermaksud memukul, Kakak. Aku kira Kakak orang asing yang masuk tanpa izin ke villa ini" jelasnya dengan terbata-bata.


Ardan yang mendengar penjelasan dari gadis berparas ayu tersebut terkekeh.


"Apa kepala Kakak tidak apa-apa?" seraya berjinjit untuk mengusap puncak kepala pemuda di depannya yang di kiranya sakit. Tinggi Arini yang hanya se-dada Ardan, membuat dia harus berjinjit mencapainya. Sedangkan Ardan hanya diam dengan senyum merekah di bibirnya menyaksikan tingkah Arini yang menurutnya lucu.


Sepasang netra keduanya bertemu, saling menatap satu sama lain. Ada rasa rindu di antara mereka berdua, walaupun hanya pernikahan siri namun kemestri di antara mereka tidak terpungkiri. Mereka sangat cocok menjadi pasangan suami istri. Tangan besar Ardan perlahan berjalan ke arah pinggang ramping istri sirinya seraya menyunggingkan senyum. Arini sontak terkesiap dengan perlakuan Ardan, ditambah lagi pemuda itu hanya menggunakan handuk di bagian tubuh bawahnya. Jantung gadis itu berdegup kencang, gugup? tentu saja, karena kali pertama tubuhnya di peluk oleh seorang pria. Walaupun mereka sudah menikah, tapi itu hanya perjanjian saja. Setelah tiga bulan, mereka akan berpisah.


Ardan makin mempererat pelukannya, sedangkan Arini langsung menundukkan kepalanya ke dada bidang pemuda itu.


"Aku merindukanmu, Arini. Apa boleh aku memelukmu?"


Ada rasa nyaman saat tubuh mungil itu berada dipelukannya, rasa yang selama ini tidak pernah dia dapatkan semenjak orangtuanya tiada.


Beberapa menit mereka berpelukkan, Arini pun berusaha untuk melepaskan dirinya. Ardan pun sadar akan hal itu dan melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu.


"Arini, apa kau–" belum selesai dia berbicara, Arini langsung pergi meninggalkan dirinya.


Dengan sedikit berlari, gadis itu menuruni anak tangga dan menuju dapur. Di dapur dia langsung mengambil air minum, di teguknya air minum tersebut. Setelah itu dia terduduk di kursi pantry. Jantungnya tidak berhenti berdegup kencang, menarik napas dengan pelan seraya memegang dadanya lalu ia hembuskan kembali. Kegiatan itu ia lakukan beberapa kali berharap jantungnya akan kembali normal.


Ardan yang baru saja turun, menghampiri Arini yang duduk di kursi sambil memukul-mukul dadanya. Ia pun menghampiri dan menepuk pundak gadis yang tengah melamun tersebut, gadis itu sontak kaget.


"Hei, Arini. Kamu melamun?" tanyanya.

__ADS_1


"Ti–tidak,"


Pemuda itu pun berjalan ke arah lemari pendingin, mengambil botol air mineral dan kembali berjalan mendekati Arini yang masih tetap duduk di tempatnya. Di tuangnya air mineral ke gelas yang tadi di gunakan Arini dan meminumnya.


"Kak, itu gelas yang baru saja aku pakai. Kenapa Kakak pakai lagi?"


"Memangnya kenapa? Kamu punya penyakit menular?" Tidak 'kan?"


"Tidak" seraya menggelengkan kepalanya, "Tapi kan itu bekas bibirku"


"Gak masalah kalo itu bekas dari bibirmu, secara tidak langsung kita sudah berciuman" goda Ardan.


Arini yang mendengar kata berciuman, wajahnya langsung bersemu merah karena malu. Tidak menyangka pemuda di depannya ini ternyata suka menggoda. Ardan yang melihat wajah Arini merah pun tersenyum, menggemaskan sekali gadis didepannya ini.


"Arini, ikut aku!" memegang lengan Arini.


"Ke mana, Kak?"


"Sudah, ikutlah saja"


"Tapi, Kak. Aku ke sini hanya untuk—"


"Sstt..., nurut aja kenapa sih? Kamu harus ganti rugi karena sudah memukul kepalaku tadi, kamu tau 'kan buku itu sangat tebal? dan kamu memukulkannya ke kepalaku. Dan itu masih terasa sakit sampai sekarang, hah.. untung saja aku memiliki kepalaku kuat , kalau tidak aku akan pingsan dan bisa-bisa lupa ingatan." celetuk Ardan panjang lebar.


Arini yang membayangkan itu menarik napas panjang, lebih baik ia mengikuti kemauan pemuda ini. Sebagai permintaan maafnya. "Baiklah kalau begitu" pasrahnya.


Senyum Ardan pun mengembang seketika mendengarnya. "Okey, pergilah ke depan dulu! Aku akan menyusul."

__ADS_1


__ADS_2