
"Pagi, Baby!"
Seorang wanita dengan menggunakan mini dress langsung berhambur kepelukan seorang laki-laki yang tengah memakai dasi dilehernya.
Tanpa menjawab, laki-laki itu malah mendorong tubuh wanita yang kini tunangannya itu. "Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" ujar Ardan dingin.
"Ngapain harus ketuk pintu? Aku 'kan sudah jadi tunangan kamu," jawab Elsa sambil bergelayut di lengan Ardan.
"Menyingkirlah!" Ardan lalu hendak pergi, namun ditahan oleh Elsa.
Wanita itu menempelkan dua gundukan miliknya pada tubuh Ardan dan memainkan jari lentiknya di rahang laki-laki itu. Rupanya Elsa sedang berusaha menggoda Ardan. Sebagai laki-laki normal, Ardan pun sedikit terpancing oleh godaan Elsa yang memang berpakaian seksi itu. Namun dengan cepat ia menyadarkan dirinya. Walaupun ia sudah lama tidak melakukan hubungan, tapi ia tidak mau melakukannya pada orang yang tidak ia cintai.
Ardan mencekal kedua tangan Elsa. "Hentikan, Elsa! Aku ingin berangkat ke kantor." Setelah itu Ardan pergi meninggalkan Elsa.
"Liat saja, kamu pasti akan bertekuk lutut dikakiku seperti adikmu yang tidak berguna itu," ucap Elsa dengan kesal.
Ardan kini sudah berada di gedung DC Grup, ia sengaja berangkat lebih pagi karena tidak ingin berlama-lama menanggapi Elsa yang semakin hari semakin bertingkah semaunya. Saat melewati koridor, langkah Ardan terhenti. Entah mengapa? Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Dan yang membuat ia merasa tidak asing adalah aroma dari tubuh seseorang yang dulu sering ia cium. Aroma wangi dari parfumnya juga sangat menyengat di hidung mancung laki-laki itu.
"Boss!" sapa asisten Ardan yang ada di belakangnya.
"Apa kau mencium aroma parfum seseorang?" tanya Ardan.
Asisten Ardan yang bernama Arman itu heran dan juga bingung. "Tidak sama sekali, Boss."
Ardan pun kembali melangkahkan kaki menuju ruangannya.
Disisi lain, Arini baru saja masuk ke sebuah gedung berlantai 15 itu. Perempuan itu kini sedang berada di kantor DC Grup, ia dengan hati yang tidak menentu ingin menemui langsung Ardan. Dengan bantuan Mirae yang kini telah menjadi sekretaris Ardan, Arini memberanikan dirinya. Apa yang akan terjadi nanti saat bertemu Ardan, Arini sudah memasrahkannya pada Tuhan.
"Selamat pagi!" ucap Mirae pada Ardan.
"Pagi, apa jadwalku hari ini?" tanya Ardan.
"Pagi ini Anda sedang kosong, Tuan. Nanti siang Anda akan menghadiri rapat dewan direksi," jelas Mirae.
"Baiklah, terimakasih." Ardan berlalu dari meja Mirae.
"Tuan Ardan!" panggil Mirae.
__ADS_1
"Ada apa, Mirae?" tanya Ardan.
"Ada orang yang ingin bertemu dengan Anda," jawab Mirae.
"Siapa?"
"Katanya dia pegawai baru, yang ingin memperkenalkan dirinya pada Anda," jawab Mirae berbohong.
"Dimana dia?"
"Sebentar lagi dia akan datang, Tuan"
Ardan mengangguk, setelah itu ia pergi menuju ruangannya.
"Ini semua buat kamu Arini, aku rela dipecat," gumam Mirae. Setelah itu ia menghubungi Arini yang menunggu di lantai bawah untuk segera ke lantai 15, tempat ruangan Ardan berada.
Tidak lama, Arini pun datang. Ia menghampiri Mirae yang sedari tadi menunggu.
"Akhirnya kamu datang juga, udah sana buruan masuk!" Mirae mendorong tubuh Arini ke depat pintu ruangan Ardan.
Arini pun memberanikan diri mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Ardan dari dalam.
Arini membuka pintu perlahan, ia melihat sosok laki-laki yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Hai Kak Ardan!"
Ardan yang mendengar suara tidak asing itu pun mendongakkan kepalanya. Seketika Ardan langsung berdiri karena terkejut. "Arini?"
Arini tersenyum kecut dan mulai mendekat ke tempat Ardan berdiri. Sekuat hati Arini menahan air matanya. Rindu? Tentu saja, perempuan itu sangat merindukan sosok yang tengah berdiri di depannya. Ardan terlihat lebih kurus, juga rambut yang biasanya terlihat rapi sekarang terlihat sedikit berantakan karena rambut Ardan sudah sedikit panjang.
Sedangkan Ardan menatap penuh pada Arini, tidak jauh berbeda dari dirinya. Arini juga terlihat kurus, wajahnya kusam dan rambut yang dulu hanya sebahu kini sudah memanjang.
Ardan berusaha menahan dirinya yang ingin sekali memeluk Arini. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ardan dingin.
Bukan menjawab, Arini malah balik bertanya, " Sepertinya keadaan Kakak baik-baik saja?"
__ADS_1
Ardan pun menghampiri Arini, lalu menarik tangan Arini secara kasar. "Siapa yang berani mengizinkanmu masuk ke ruanganku? Keluar!" teriak Ardan.
Arini diam, ia akhirnya meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan.
"Apa ini jawaban dari satu tahun ini?"
Mendengar Arini berucap, Ardan berhenti menarik tangan Arini.
"Apa aku pernah mengkhianati cinta Kakak?" tanya Arini.
Ardan tetap diam.
"Sepertinya aku sudah menjadi istri yang baik untuk Kakak?" Arini berkali-kali melempar pertanyaan pada Ardan.
"DIAM!" bentak Ardan. "Asal kau tahu, aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya membalaskan dendam atas keluargaku," jawab Ardan.
Tersambar petir rasanya hati Arini mendengar kata-kata yang diucapkan Ardan. Inilah yang ditakutkan Arini pada sebuah kenyataan yang akan membuat hatinya semakin sakit. Kepolosan yang dia miliki membuat dia dengan mudah diperalat orang lain.
"Kebodohanku adalah ketika aku mencintai seseorang yang tidak mencintaiku," ucap Arini dengan suara bergetar.
Ardan terkesiap dengan ucapan Arini.
Apa gadis ini benar-benar mencintaiku?
Ardan mendekati Arini, lalu ia mencekik leher Arini dengan sangat kuat. Sampai Arini kesulitan bernafas dan wajahnya memerah.
"Kau harus mati, seperti keluargamu yang lain!" ucap Ardan. Laki-laki itu dibutakan oleh amarah yang mengusai dirinya. Ardan seperti kerasukan setan, ia mencium bibir Arini dengan sangat berutal dengan tetap mencekik Arini.
Arini tak bisa melakukan apa-apa, ia berusaha mendorong dan memukul tubuh Ardan. Namun kekuatannya tidak sebesar kekuatan Ardan.
Perlahan cekikan Ardan melemah, namun ia terus menciumi Arini. Tangannya berusaha membuka baju yang Arini kenakan. Ardan dengan sigap mengangkat tubuh kecil Arini ke atas meja di sampingnya. Ia melucuti seluruh pakaian yang Arini kenakan. Terakhir, laki-laki itu dengan kasarnya memasukan miliknya pada milik Arini. Hingga Arini terkesiap, tubuh yang awalnya memberontak akhirnya melemah. Perempuan itu menyerah untuk melawan Ardan yang sedang dalam keadaan marah. Arini hanya bisa meneteskan air matanya.
Ardan dengan amarahnya mengguncang tubuh Arini berkali-kali. Ia terus memaju mundurkan miliknya pada Arini yang sudah tak berdaya itu. Sampai akhirnya, Ardan mencapai pelepasannya. Ia menyemburkan benih miliknya pada rahim Arini.
Arini terbaring lemah di meja, sedangkan Ardan langsung menuju kamar mandi. Perempuan malang itu dengan gontai memunguti pakaiannya satu persatu dan memakainya.
Tidak lama, Ardan keluar dengan pakaian yang kini sudah rapi seperti semula. Tanpa melihat Arini, ia langsung mengambil sesuatu dari laci. Setelah itu ia melemparkan cek bernilai 1 milyar tepat di wajah Arini.
__ADS_1
"Ambil dan pergilah! Dan jangan pernah kau muncul dihadapanku lagi!" ucap Ardan.
Arini menyeringai, ia mengambil cek itu lalu mengembalikannya pada Ardan. "Saya tidak butuh uang Anda!" ucap Arini, lalu ia melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun pintu terbuka, menampilkan sosok wanita di depannya. Wanita itu menatap aneh ke arah Arini dan Ardan, dan juga kondisi meja kerja Ardan yang berantakan.