
Di dalam sebuah mobil berwarna hitam, Ardan menyaksikan Arini yang baru saja keluar dari dalam mobil Sean. Ia memang sengaja membuntuti Sean sedari tadi. Setelah mobil Sean benar-benar pergi, Ardan pun turun dari mobilnya dan mengikuti Arini secara diam-diam.
Sampai di sebuah kostan, Arini segera masuk ke dalam. Saat Arini ingin menutup pintu, pintu itu tertahan oleh sebuah tangan seorang laki-laki. Arini pun penasaran, siapa yang menahan pintu tersebut. Saat ia lihat, ternyata yang menahan pintu adalah Ardan. Betapa terkejutnya Arini, perempuan itu segera menutup kembali pintu itu, namun Ardan menahannya dengan kuat.
"Pergi!" teriak Arini.
Arini berusaha menutup pintu dengan sekuat tenaganya, namun tetap saja ia kalah. Sebesar apapun kekuatan perempuan, tetap akan kalah oleh kekuatan laki-laki. Pintu itu akhirnya berhasil Ardan masuki, laki-laki itu secepat kilat masuk dan mengunci pintu.
Langkah demi langkah Ardan berjalan menghampiri Arini, sedangkan Arini berjalan mundur sampai akhirnya menabrak meja yang ada di belakangnya. Barang yang ada di meja itu berjatuhan.
"A–apa yang kau la–"
Ucapan Arini terhenti ketika Ardan mencium paksa dirinya. Arini membulatkan kedua matanya, tangannya tidak henti memukul-mukul dada bidang Ardan. Kaki Arini juga berusaha menendang sisi sensitif Ardan, namun dengan cepat Ardan menyadarinya dan mengunci tubuh Arini, tidak ada yang bisa Arini lakukan. Ingin berteriak, tapi mulutnya sudah dikunci oleh bibir Ardan.
Arini tidak mau menyerah, ia tetap berusaha melawan Ardan. Sampai akhirnya Arini menggigit bibir Ardan dengan kuat sampai bibir Ardan mengeluarkan darah segar. Ardan pun mengernyitkan alisnya menahan rasa perih, lalu ia melepaskan ciumannya pada Arini. Napas perempuan itu terengah-engah, Arini berusaha menghirup udara. Ia pun menoleh ke arah Ardan dan melihat darah yang mengalir dari bibir laki-laki itu.
Aku harus bisa lari!
Ardan menyeringai, ia lalu menjilat darah yang keluar dari bibirnya. Saat kungkungan Ardan sedikit merenggang, Arini berusaha kabur, namun secepat kilat Ardan menangkapnya lagi dan menciumi Arini lagi dengan darah yang masih mengalir dari bibirnya. Laki-laki itu pun akhirnya membawa Arini masuk ke dalam kamar milik Arini.
Arini tetap berusaha ingin lari, sampai akhirnya tubuh perempuan itu sudah tidak bisa lagi melawan lagi. Merasa tubuh Arini sudah tidak memberontak lagi, Ardan pun melepas satu persatu pakaian yang dikenakan Arini.
Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku, bahkan pakaian ini tidak layak menempel di tubuhmu.
Ardan merobek dress yang Arini kenakan, karena ia tahu dress itu pasti dari Sean adiknya. Ia sedari tadi sudah menahan api cemburu yang memuncak ketika melihat Sean menyentuh Arini dengan mesra. Ia tidak rela, jika Arini dimiliki oleh orang lain, termasuk adiknya.
Di kamar milik Arini yang cukup sempit itu, Ardan kembali memperkosa Arini. Ia tidak henti-hentinya menggembur tubuh Arini berulang-ulang. Tidak dipungkiri, Ardan sangat menikmati percintaan itu meskipun itu sebuah paksaan. Laki-laki bertubuh kekar itu merindukan tubuh mungil Arini, selama ini ia tidak pernah melakukan hubungan dengan wanita lain sekalipun itu Elsa tunangannya. Ia merasa tidak berselera dengan wanita diluaran sana, kecuali perempuan yang ada di bawahnya ini. Dengan hanya mencium aroma tubuh Arini, tubuh bagian bawah Ardan sudah beraksi. Sebegitu menariknya Arini di mata Ardan.
Ardan berkali-kali mengerang merasakan kenikmatan tubuh Arini yang selama ini memang ia rindukan. Sedang Arini, perempuan itu tidak henti meneteskan air matanya saat Ardan terus menerus menggembur tubuhnya.
__ADS_1
Kenapa kau masih melakukan ini padaku, Ardan? Aku membencimu!
Suara detik jam dan sunyinya malam menjadi saksi percintaan Ardan dan Arini kala malam itu. Hanya ada suara des*han mereka yang terdengar di kostan yang sepit itu. Kala itu, Rizky memang sedang tidak ada di kostan. Ia mengikuti perkemahan di sekolahnya. Sedangkan Aliya sudah tidak tinggal di kostan Arini, gadis itu dipaksa sang ibu untuk tinggal di rumah, karena Aliya selalu saja merepotkan Arini. Belum lagi saat ada acara fansign, Aliya selalu hadir dan melupakan kuliahnya. Itulah yang membuat Denia ibu Aliya menyuruh Aliya tinggal di rumahnya.
Pelepasan Ardan kembali datang, ia menyemburkan benih terakhirnya pada rahim Arini. Ini sudah keempat kalinya Ardan mencapai pelepasannya. "Aarrgghh ...." Ardan mengerang merasakan pelepasannya.
Setelah itu ia menyelimuti tubuh Arini yang sudah terbaring lemah itu. Ia mencium singkat kening Arini, Ardan lalu memakai kembali pakaiannya. Sebelum ia pergi meninggalkan Arini yang sudah tertidur pulas, Ardan meletakkan amplop coklat di atas nakas. Ia juga kembali mencium kening Arini, kali ini Ardan meneteskan air matanya saat melihat wajah Arini.
Maafkan aku Arini, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku tahu, sekarang kau sangat membenciku. Jujur, aku sangat mencintaimu, namun keadaan terus memaksaku untuk membencimu. Andaikan kau meminta maaf karena kesalahanmu, mungkin aku akan bisa memaafkanmu dan keluargamu yang telah menyebabkan orangtuaku meninggal. Dan mungkin sekarang kita sudah bahagia, Arini.
Di lihatnya jam, ternyata sudah pukul 01.00 malam. Ardan pun pergi meninggalkan Arini yang tertidur pulas, dengan hati yang sangat hancur kali ini.
**
Pagi tiba, Arini masih tertidur dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, namun Arini tidak mendengarnya sama sekali.
"Mbak Arini!" Rizky sudah kesekian kali mengetuk pintu dan memanggil Arini, tapi tidak ada juga jawaban.
Arini berusaha membuka matanya, tubuhnya terasa remuk seperti habis dipukuli orang, terutama di bagian tubuh bawahnya yang terasa nyeri dan perih. Arini perlahan bangkit, ia melihat banyak tanda merah di bagian tubuhnya. Perempuan itu melihat sekitar kamarnya yang berantakan akibat perlawanannya pada Ardan tadi malam. Mengingat itu, Arini menangis, ia memukul-mukul tubuhnya yang dimana banyak tanda merah itu.
"Kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku tidak bisa melawanmu? Aku benci kau Ardan, aku benci!" Arini memaki sambil menangis tersedu-sedu.
Tangisan Arini terhenti ketika Rizky kembali mengetuk pintu dan memanggilnya.
"Rizky?" Arini mengusap air matanya, ia lalu melangkah menuju lemari pakaian. Bagaimana pun, tidak ada yang boleh tahu kejadian yang dialami Arini tadi malam. Selesai memakai pakaiannya Arini segera menuju depan untuk membukakan pintu. "Bentar, Ki Mbak lagi cari kuncinya!" seru Arini.
Arini berusaha mencari kunci pintu yang tadi malam di lempar oleh Ardan entah kemana. "Dimana ya kuncinya?"
Akhirnya kunci kostan itu ditemukan Arini, yang memang berada ditumpukan barang yang berjatuhan. Arini lekas membuka pintu, dilihatnya Rizky dan beberapa orang tetangga.
__ADS_1
"Mbak Arini? Mbak Arini gak papa 'kan?" tanya Rizky yang sangat khawatir.
"Mbak gak papa, Ki. Mbak tadi hanya ketiduran dan gak denger kalo kamu manggil Mbak," jawab Arini.
"Syukurlah kalau gitu, Neng. Kita semua takut kalo Neng Arini kenapa-kenapa," sahut tetangga Arini.
"Terimakasih ya, Bu. Maaf sudah membuat khawatir!" ucap Arini.
Tetangga Arini pun pergi, Arini dan Rizky juga masuk ke kostan.
"Mbak Arini, kok berantakan gini?" tanya Rizky yang melihat keadaan kostan yang berantakan. Buku dan barang-barang berjatuhan.
Arini bingung mencari alasan. "Tadi malam Mbak ... ngejar tikus."
Rizky dengan polosnya pun percaya pada Arini.
"Ya udah kamu istirahat! Biar Mbak yang beresin semuanya," ucap Arini seraya mengambil barang yang berserakan.
"Iya, Mbak."
Arini menghela napas kasar. Ia lalu lanjut membersihkan ruangan yang berantakan. Sebenarnya tubuhnya sangat lelah, ia juga masih mengantuk.
Saat masuk ke dalam kamarnya, ia teringat kembali kejadian tadi malam. Di kamar inilah Ardan memperkosanya berulang kali. Arini lalu mulai membersihkan kamarnya, saat ia hendak meletakkan barang di laci, ia melihat amplop coklat yang ada di atas nakas. Ia pun mengambil dan membukanya.
Di dalam amplop coklat itu ternyata berisi sebuah dokumen, saat Arini membacanya, ternyata itu adalah surat perceraian antara dirinya dan Ardan. Hati Arini kembali hancur, sakit yang ia terima dari Ardan belum juga sembuh tapi laki-laki itu kembali memberikannya rasa sakit. Tetesan air mata Arini membasahi surat perceraian itu, tangannya mengepal dengan kuat.
"Lebih baik memang diakhiri saja hubungan ini, aku sudah tidak berharap lagi pada sesuatu yang tidak pasti."
Arini kemudian mengambil bulpoin dan menandatangi surat itu.
__ADS_1
"Aku berharap tidak akan pernah melihatmu lagi."