Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Kepergian


__ADS_3

"Kamu beneran udah sehat?" tanya Ardan yang baru saja selesai mandi.


"Udah, kok." jawab Arini tanpa melihat Ardan, karena dia sedang mengemas barangnya.


Kondisi perempuan itu sudah membaik, setelah kemarin lusa demam. Kini ia sedang bersiap-siap untuk kembali ke villa.


Ardan menghampiri Arini dan memeluknya dari belakang.


"Kamu serius ingin kembali ke villa? Tidak ingin berlama-lama di sini dulu?" tanya Ardan sambil mengendus aroma tubuh sang istri.


"Tentu saja aku serius! Sudah sana, pakai pakaianmu!" seru Arini.


"Bisa mati kelelahan aku kalau di sini terus-terusan," gerutu Arini dalam hati.


"Kalau kamu yang pakaikan gimana?" goda Ardan.


Arini yang mendengar, langsung menjauh dari Ardan. "Kamu punya dua tangan, kenapa tidak kamu gunakan?"


"Galak banget," kata Ardan seraya berlalu.


Di perjalanan menuju villa, Ardan tidak lepas dengan genggamannya pada tangan Arini.


"Honey,?" panggil Ardan.


"Hhmm,"


"Apa kamu mengenal wanita bernama Mayang?"


Arini menyernyitkan alisnya. "Mayang? Tidak, aku tidak mengenal wanita bernama Mayang."


Mungkinkah Arini benar-benar tidak mengenal adik dari ibunya itu?


"Memangnya kenapa?"


"Sewaktu aku di Jakarta, aku bertemu dengan seorang wanita bernama Mayang. Dia bilang, dia mengenalmu," jelas Ardan.


"Tidak, aku sama sekali tidak mengenal Mayang," ungkap Arini.


Ardan mengangguk mengerti, ia paham sifat Arini. Walaupun bersikap dingin, tapi istrinya itu masih sangat polos dan mempunyai hati yang lembut. Maka dari itu Ardan mempercayainya.


Mobil yang dikendarai Ardan pun telah sampai di villa. Arini terlihat sangat bahagia, karena bisa kembali ke villa. Ia merasa tersiksa bila terus berada di resort itu. Bagaimana tidak, suaminya itu akan terus menetus meminta jatahnya. Tidak membiarkan dirinya untuk istirahat, bahkan setelah demamnya turun, pria itu dengan langsung menggempurnya kembali.


"Dasar maniak," umpat Arini dalam hati


Arini bergidik ketika membayangkan suaminya yang tidak pernah lelah menggunakannya. Pinggang Arini tiba-tiba sakit jika mengingat itu.


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Ardan seraya mengelus pinggang kecil Arini.


"Ini semua gara-gara kamu!" jawab Arini kesal.


"Iya, iya aku salah, aku minta maaf. Habisnya aku gak kuat kalo setiap kali liat kamu berbaring," kata Ardan jujur.


"Haaah...!!" teriak Arini. "Dasar maniak," umpat Arini terang-terangan. Lalu ia meninggalkan Ardan.


"Mbak Arini," sapa Rizky.


"Rizky? Kamu ngapain?" tanya Arini sambil mengusap rambut keponakannya itu.


"Kiki lagi belajar, Mbak. Bentar lagi 'kan Kiki mau ujian," jawab Rizky.


"Oh ya? Belajarnya lebih semangat kalo gitu"

__ADS_1


"Iya dong, oh iya Kak Ardan mana?"


"Di belakang, Mbak ke atas dulu ya, Ki?"


Ardan pun muncul. "Hai, Brother !" sapa Ardan.


"Hai, Kak Ardan!"


"Lagi apa?"


"Lagi belajar, Kak."


"Good job, ya...!"


Ardan pun meninggalkan Rizky, ia berniat ingin menemui Mr.Park di ruang baca.


Malam hari tiba, Arini tengah menyiapkan untuk makan malam.


"Ki, ayo makan!"


"Iya, Mbak."


Bocah yang kini berumur 11 tahun itu pun menghampiri Arini di meja makan.


"Yang lain mana, Ki?"


"Kak Ardan lagi mandi, Mr.Park di kamarnya, dan Tante Mia udah pulang ke rumahnya," jelas Rizky.


"Mbak Mia pulang ke rumahnya?" Arini terkejut.


"Iya, Mbak"


"Mbak Arini 'kan lagi bulan madu sama Kak Ardan," celetuk Rizky.


Wajah Arini seketika memerah.


"Huusstt... ya udah kamu panggil Kak Ardan dan Mr.Park!"


"Gak mau, Mbak Arini aja!"


Arini pun menuju lantai atas untuk memanggil Ardan dan Mr.Park. Sampai di kamar Ardan, Arini pun masuk.


"Kak Ardan, ayo makan malam!" ajak Arini, namun tidak ada jawaban. Perempuan itu pun mencari ke sudut ruang, tapi sosok yang dicarinya tidak ada.


"Cari aku ya?"


Ardan muncul dengan tiba-tiba dan memeluk Arini dari belakang.


"Astaga...!" Arini terkejut dengan kedatangan Ardan.


"Makan malamnya sudah siap," ucap Arini.


"Sayang, aku ingin berbicara sesuatu sama kamu!" ucap Ardan dengan tetap memeluk Arini.


"Bicara saja!"


"Malam ini aku harus kembali ke Jakarta," kata Ardan.


Arini tersentak, namun ia tidak memperlihatkanya.


"Gak papa 'kan?"

__ADS_1


"Ti–tidak, tidak masalah"


"Serius, kamu gak marah 'kan?"


"Tentu saja tidak," jawab Arini.


"Tapi... apakah kamu nanti akan kembali?"


"Tentu saja, Sayang."


Ardan membalikan tubuh Arini agar menghadapnya. "Aku akan kembali, aku akan menuntaskan konflik diantara keluarga kita. Setelah itu aku akan membawamu dan juga Rizky ke Jakarta," jelas Ardan.


"Apa semuanya akan tertuntaskan?" tanya Arini seraya menundukan wajahnya.


Ardan pun menangkup wajah Arini. "Heii, Sayang. Kamu harus percaya semuanya akan terselesaikan."


Arini pun memeluk Ardan dengan erat. "Apa kau benar-benar tulus mencintaiku?" tanya Arini.


"Tentu saja, aku sangat mencintaimu, karenanya aku menikahimu," jawab Ardan meyakinkan.


"Jangan pernah meninggalkanku! Aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hanya punya kamu," ucap Arini sambil menangis.


"Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang."


Ardan membawa Arini ke sofa, dan mereka pun bercinta di sana. Tanpa menghiraukan seorang anak kecil yang sedang menunggu mereka di meja makan.


Selesai bercinta, Ardan dan Arini turun menuju meja makan. Di sana ternyata sudah ada Mr.Park dan tentunya Rizky yang sudah menunggu lama.


"Mbak Arini dan Kak Ardan, lama banget sih? Kiki udah makan duluan deh," celetuk Rizky polos.


"Ee... itu, Mbak Arini tadi lagi bantuin Kak Ardan beres-beres," jawab Arini beralasan.


Mr.Park yang mendengar alasan dari Arini pun tersenyum. Ia tahu persis apa yang dilakukan kedua majikannya itu tadi di atas. Karena saat ia melewati kamar Ardan, terdengar sangat jelas ******* kedua pengantin baru yang tengah bercinta itu.


Ardan hanya santai menanggapi pertanyaan dari Rizky yang masih kecil itu.


Selesai makan malam, Ardan pun bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta bersama Mr.Park. Ada rasa tidak tenang di dalam hatinya, ia mengkhawatirkan istrinya itu jika harus tinggal sendirian di villa ini. Sedangkan, Mia dan Danang telah kembali kepekerjaan awalnya. Mia sebagai asisten Mr.Park dan Danang sebagai supir pribadi Ardan.


Bagaimana pun ia mencintai Arini, tapi ia harus kembali ke kewajibannya sebagai CEO Grup. Untuk mengajak Arini, ia masih ragu, karena ia belum juga mendapat jawaban dari konflik keluarganya dan Arini. Ia terpaksa menyembunyikan pernikahannya bersama Arini.


Setelah sampai Jakarta, ia akan langsung menanyakannya pada sang nenek.


"Sayang, kamu dan Rizky baik-baik di sini! Aku akan sering menghubungimu," ucap Ardan.


"Iya, kamu hati-hati," jawab Arini dengan mata berkaca-kaca.


Ardan pun membawa Arini kepelukannya, ia tahu istrinya itu masih ingin lebih lama bersamanya.


"Jangan sedih! Aku janji akan kembali lagi," ucap Ardan.


Dengan terpaksa ia melepaskan pelukannya dari Arini.


"Brother, jagin Kak Arini ya!" kata Ardan pada Rizky.


"Siap, Kak! Nanti Kak Ardan kembali lagi ke sini 'kan?"


"Tentu," jawab Ardan. Ian pun mengecup kening Rizky yag sudah ia anggap adiknya sendiri itu, lalu ia juga mengecup kening, bibir, dan pipi Arini.


Setelah itu, ia memasuki mobil dan meninggalkan Arini dan juga Rizky. Rasanya tidak rela meninggalkan mereka berdua.


Arini tidak hentinya menatap ke arah mobil Ardan yang perlahan menghilang.

__ADS_1


__ADS_2