Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Aku Tidak Akan Kalah Olehmu!


__ADS_3

Di sebuah taman kota, Arini menjual bunga-bunga yang ia bawa dari toko bunga Gardenia. Bunga yang terjual juga cukup banyak, tidak sia-sia ia menjual bunga di situ.


Tiba-tiba 2 orang preman muncul dan mengacak bunga-bunga yang Arini jual.


"Hei ... apa yang kalian lakukan?" teriak Arini yang baru datang dari membeli minuman. Segera Arini berlari menghampiri 2 orang preman itu, ia mendorong tubuh besar preman-preman yang lagi bunga-bunga milik Arini.


"Berhenti!" teriak Arini lagi. "Apa yang kalian lakukan dengan bunga-bungaku?"


Salah satu preman menjambak rambut panjang Arini. "Lo udah berani jualan di wilayah gue, jadi lo harus usir!" ucap preman itu.


Arini tidak mau kalah, ia menedang sisi sensitif preman itu dan ia bisa melepaskan rambutnya yang tadi dijambak.


"Penjual di sini bukan aku aja, kenapa harus jualanku yang kalian rusak?" ujar Arini. "Oh ... aku tahu, kalian suruhannya Ardan Daviez?" tebak Arini. Ia langsung bisa menebak siapa dibalik semua ini.


"Sok tahu lo!" jawab preman itu. Lalu ia menyuruh temannya untuk terus menginjak-injak bunga Arini.


Pedagang lain yang melihat Arini merasa kasihan, satu persatu dari mereka membantu Arini melawan kedua preman itu. Karena pedagang disitu cukup banyak sedangkan preman itu hanya berdua, kedua preman itu akhirnya pergi. Tidak lupa, sebelum kedua preman itu pergi, Arini mengatakan sesuatu pada kedua preman tersebut. "Bilang pada Ardan Daviez, 'Aku tidak akan kalah darinya'."


Arini pun mengumpulkan bunga-bunga yang sudah rusak itu, dibantu oleh ibu-ibu yang sama-sama berjualan disana.


"Neng, gak papa 'kan?" tanya ibu itu.


"Gak papa, Bu. Terimakasih banyak sudah membantu saya," ucap Arini pada ibu tersebut.


"Sama-sama, Neng."


Selesai memunguti bunga yang hancur, Arini meletakkan bunga yang sudah hancur itu di tempat sampah. "Gimana bilangnya sama Bu Denia?" gumam Arini.


"Nanti gue yang bayar semua," jawab seseorang yang tiba-tiba menyahut gumaman Arini.


Mendengar suara bass dari seseorang itu, Arini bisa menebak siapa dia. Siapa lagi kalau bukan Sean.


Arini menoleh. "Ngapain kamu di sini?" tanya Arini. Ia merasa belakangan ini laki-laki itu selalu saja muncul dihadapannya, pada saat Arini membutuhkan pertolongan. Namun kemunculannya selalu membuat Arini kesal.


"Buat bantu lo lah, Arini Elina Putri!" jawab Sean. Sebenarnya Sean sengaja menghampiri Arini karena ia saat ini butuh bantuan perempuan itu untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Tahu dari mana kamu namaku?" tanya Arini seraya berjalan menghampiri Sean.


"Apa sih yang gue gak tahu?" jawab Sean seraya melangkah mundur dari Arini yang semakin mendekat. "Lo–lo ngapain deket-deket gue?" tanya Sean gugup.


Arini menyipitkan matanya. "Jangan-jangan kamu suka ya sama aku?" tanya Arini tiba-tiba.


"What? Suka sama lo? Gak banget!" jawab Sean.


Arini pun berlalu pergi meninggalkan Sean menuju motornya yang terparkir di parkiran. Begitu juga Sean, ia mengikuti Arini dari belakang dengan mobilnya.


Sampai di toko bunga Gardenia, Arini mencari keberadaan sang pemilik. Ternyata sang pemilik sedang berada di ruangannya.


"Permisi, Bu Denia!"


"Arini?" Denia langsung menghampiri Arini dan mengajaknya duduk. "Gimana, Arini apa bunganya laku?"


"Alhamdulillah, Bu Denia lumayan terjual banyak. Tapi saya minta maaf, sebagian bunganya hancur karena tadi saya tidak sengaja terjatuh dari motor," jawab Arini berbohong. Bukannya ia tidak mau jujur, namun jika ia jujur Denia akan sangat mengkhawatirkannya dan tidak mengizinkannya lagi berjualan bunga keliling.


"Ya ampun, tapi kamu gak papa 'kan Arini?" tanya Denia khawatir sambil memeriksa tubuh Arini barang kali ada yang terluka.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan membuat Arini dan Denia menoleh ke arah pintu.


"Permisi!" Sean tiba-tiba muncul.


Betapa terkejutnya Denia melihat kedatangan Sean yang merupakan idolanya. "Se–sean?" teriak Denia sambil berlari menghampiri Sean yang berada di depan pintu.


"Ya Tuhan, beruntungnya aku bertemu dengan idolaku!" ucap Denia heboh. Ia mengeluarkan ponselnya. "Boleh foto bareng ya, boleh?"


"Tentu saja boleh," jawab Sean. Denia pun bersua foto dengan Sean beberapa kali.


"Tampannya, ya Tuhan. Tampanku sedang mencari bunga?" tanya Denia.


"Saya sudah membelinya dari perempuan itu," jawab Sean sambil melihat ke arah Arini yang tengah duduk di kursi.

__ADS_1


"Boleh saya bicara dengan gadis itu?" Sean meminta izin kepada Denia.


"Oh tentu saja." Denia pun memanggil Arini. "Arini sini deh, ada yang mau bicara sama kamu!"


Arini sebenarnya sangat malas bertemu dengan Sean, karena ujung-ujungnya pasti akan berdebat. "Iya, Bu Denia?" jawab Arini lesu sambil menatap penuh arti pada Sean yang cengengesan.


"Arini, kamu tau 'kan dia siapa?" tanya Denia.


"Dia manusia, Bu." Arini sengaja menjawab seperti itu agar Sean merasa kesal. Tapi rupanya itu tidak membuat Sean kesal, malah laki-laki itu tertawa mendengar ejekan Arini.


"Ya ampun Arini ... semua juga tahu kalau dia manusia,"


Arini tersenyum masam. "Hehehe...."


"Ya udah kalian bicara aja! Tante mau menyelesaikan pekerjaan Tante dulu.


Sean membalasnya dengan tersenyum manis kepada Denia. Lalu ia menarik tangan Arini.


"Eh ... lepasin, aku bisa jalan sendiri!" ucap Arini namun tidak digubris Sean. Laki-laki itu tetap menarik tangan Arini menuju mobilnya yang terparkir di depan toko.


Sampai di dalam mobil milik Sean, Arini menekuk wajahnya kesal. Laki-laki di sampingnya ini selalu saja memaksa orang lain untuk mengikuti kehendaknya. Benar-benar egois.


Entahlah Arini dibawa kemana oleh Sean, Arini malas mempertanyakannya karena pasti ujungnya adu mulut. Jadi ia hanya menurut saja yang penting Sean tidak melakukan hal yang aneh pada dirinya.


Sampai di suatu pusat perbelanjaan, mobil Sean berhenti. Sebelum keluar dari mobil, Sean selalu memakai masker dan topi terlebih dahulu agar tidak ada yang mengenalinya. Bisa jadi bahan gosip sejagat jika ada yang tahu dirinya berkeliaran ke pusat perbelanjaan dengan seorang gadis.


"Ayo turun!" membukakan pintu untuk Arini.


Arini pun turun. Ia merasa bingung sekaligus kagum pada mall besar ini.


"Mau ngapain kamu ngajak aku kesini?" Akhirnya bibir Arini tidak mampu menahan rasa keingintahuannya sejak tadi.


"Kerja lah," jawab Sean santai sambil berjalan.


Kerja di sini maksudnya?

__ADS_1


__ADS_2