
Disebuah club malam, Sean duduk seorang diri dengan beberapa botol bir menemaninya. Cara itu belum cukup efektif untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya. Semua yang ia miliki terasa tidak berguna, ketampanan dan kekayaannya tidak mampu membuat orang yang ia cintai balik mencintainya.
"Arrgghh ...." Sean berteriak dengan sangat kencang sampai wanita malam yang sedari tadi meneminya terkejut.
"Sean?" Panggil seseorang.
Sean menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. "Elsa?"
"Kamu mabuk?" tanya Elsa seraya duduk disamping Sean.
"Bukan urusanmu, j*lang!"
"Apa maksudmu?" Elsa yang awalnya ingin merayu Sean berubah menjadi kesal.
Sean menyeringai. "Pel*cur! J*lang! Lo kira gue gak tau apa yang lo kerjakan selama ini demi mendapat ketenaran, he?"
"Brengs*ek!"
Plakk ...
Elsa menampar Sean dengan keras. "Berani-beraninya lo bilang gue pel*cur, he? Dasar pria bodoh!"
"Lo emang pel*cur 'kan? Lo tidur dengan pejabat-pejabat jelek itu demi uang. Apa uang yang gue kasih ke lo kurang, heh? Gue tulus sayang sama lo, Sa. Gue pengen kita kayak yang dulu." Sean berkata dengan setengah sadar, untung saja mereka berdua ada di dalam ruangan. Jika tidak, maka semua pengunjung akan mendengar.
Elsa terkesiap. "Dari mana dia tahu soal itu?"
Sean dengan langkah sempoyongan mendekati Elsa yang berdiri. "Gue sayang sama lo, Sa. Gue cinta sama lo. Kita hadapi sama-sama orangtua lo."
"Jangan dekat-dekat gue! Gue udah gak butuh lo, lo cuma cowok bodoh yang dengan sangat mudah di permainkan." Elsa berkata seraya melipat tangannya ke dada.
Sean yang memang dalam keadaan setengah sadar tidak memperdulikan perkataan Elsa yang menghinanya. Ia malah memeluk wanita itu. Namun Elsa mendorongnya.
"Dasar gak berguna!" Setelah mengucapkan itu Elsa pergi meninggalkan Sean yang berusaha menghalanginya.
"Aarrgghh ..." Sean melempar semua botol bir yang ada di meja.
**
Di tempat lain, Arini baru saja pulang setelah seharian mencari keberadaan Rizky. Hasilnya nihil, ia tetap tidak menemukan Rizky.
"Kamu dimana, Ki?" gumam Arini.
Arini kemudian mengambil sesuatu di dapur untuk ia makan karena ia sangat lapar. Seharian ia hanya makan satu kali saja. Setelah menghabiskan cemilannya, ia berniat ingin mandi. Namun dari luar ada seseorang yang memanggilnya, buru-buru Arini membukakan pintu. Ia berharap jika yang memanggilnya tadi adalah Rizky, siapa tahu Rizky pulang, ternyata dugaannya salah. Setelah ia membuka pintu, sosok laki-laki dengan tampilan yang acak-acakan muncul dihadapannya.
"Dimitri?"
"Rin, gue boleh masuk gak?"
"Masuklah!" Arini mempersilahkan Sean masuk. Tapi Arini merasa ada yang aneh pada Sean. "Sepertinya dia sedang mabuk," ucap Arini dalam hati.
__ADS_1
"Rin, apa gue jelek?"
Arini tidak menjawab, ia tahu Sean sedang mabuk. Jadi dia tidak perlu menjawab pertanyaan orang yang sedang tidak waras.
"Rin, jawab?"
Arini masih tidak menjawab, ia malah ingin meninggalkan Sean. Tapi tangannya di tarik oleh pria itu, menyebabkan ia terduduk dipangkuan Sean. Arini menatap nanar wajah Sean yang terlihat begitu menyedihkan, matanya merah, rambutnya juga acak-acakan.
"Kamu ada masalah?" tanya Arini seraya beranjak dari pangkuan Sean.
Hoek ...
Bukannya menjawab, Sean malah muntah di depan Arini. Untung saja tidak mengenai Arini.
"Dimitri, kamu kenapa selalu membuat masalah?" omel Arini.
Tidak menjawab, Sean malah tertidur.
"Menyebalkan!"
Mau tidak mau, Arini membersihkan sisa muntah yang ada di lantai dengan kesal. Selesainya, ia bergegas mandi guna menghilangkan aroma bir yang menempel di bajunya.
"Kenapa harus kesini kalo mabuk, muntah sembarangan membuat aku semakin lelah aja," gerutu Arini setelah keluar dari kamar mandi.
"Rasain! Biarin tidur di luar, emang enak." Arini kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Pagi hari, Sean terbangun. Perlahan ia membuka matanya. Ia merasa asing dengan tempat yang ia tiduri, terasa sangat sempit dengan tubuhnya yang besar. "Dimana gue?"
Sean bergegas bangun berusaha mencari keberadaan Arini. Karena ia masih tidak ingat kejadian tadi malam, ia takut melakukan sesuatu pada Arini. "Bodoh lo!" uca Sean memaki dirinya sendiri.
Laki-laki itu mencari ke berbagai ruangan yang ada di kostan Arini. Tapi ia tetap tidak menemukan sosok gadis itu. "Kemana gadis itu?"
"Kamu ngapain?" tanya Arini yang baru muncul.
"Arini?" Sean langsung bersimpuh di kaki Arini. "Rin, maafin gue. Gue akan tanggung jawab kok kalo lo nanti hamil."
Arini melototkan matanya. "Hamil? Maksud kamu?" tanya Arini dengan bingung. "Kamu juga ngapain sujud di kaki aku? Berdiri!"
"Rin, gue benar-benar minta maaf. Gue tadi malam gak sadar karena gue mabuk."
"Maksud kamu apa sih?" Arini semakin dibuat bingung oleh perkataan Sean. "Berdiri gak!"
Sean menurut, ia berdiri.
"Maksud kamu apa bilang aku hamil?"
"Bukannya tadi malam gue memperkosa lo?"
Arini melototkan matanya dengan sempurna. "Perkosa? Kamu gak ngapa-ngapain aku kok."
__ADS_1
"Terus kenapa gue tidur di kamar lo? Gue juga gak pake baju?"
Ara menghela napas panjang. "Tadi malam kamu muntah, baju kamu kotor, ya udah aku lepas. Tuh lagi aku cuci!"
"Serius lo yang lepasin baju gue?" tanya Sean tidak percaya.
"Heem," jawab Ara sambil berjalan ke arah dapur dengan Sean yang mengekor di belakangnya.
"Lo juga yang bawa gue ke kamar lo?" Sean bertanya lagi karena dia belum puas atas jawaban Arini yang singkat.
"Iya, daripada kamu tidur di luar, masuk angin, aku juga nanti yang repot."
Sean terdiam. "Thank's, Rin."
"Iya. Nih, sarapan buat kamu!" Arini menyodorkan nasi goreng yang masih hangat dengan telur mata sapi di atasnya kepada Sean.
"Buat gue?"
Arini kembali menarik kembali nasi gorengnya. "Mandi dulu sana!"
Sean menurut, ia berlalu menuju kamar mandi.
Selesai mandi Sean memakan sarapannya dengan hanya menggunakan celana yang ia gunakan tadi.
"Ini kaos buat kamu!" Arini memberikan Sean kaos berwarna abu-abu.
"Lo beliin kaos buat gue?" tanya Sean dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.
"PD banget, itu punya Rizky. Cepet pakai!"
Sean tidak menjawab, ia malah mendekati Arini dengan sangat dekat. "Lo tumben baik sama gue? Sudah mulai suka sama gue?" bisik Sean.
Tahu reaksi Arini? Jangan pikir Arini akan gugup atupun pipinya memerah. Sebaliknya, Arini hanya bereaksi datar, merasa biasa saja ketika didekati seorang pria seperti Sean yang banyak digilai wanita.
Sean mengernyitkan dahinya ketika melihat wajah Arini. "Gadis ini?" ucapnya dalam hati.
Arini kemudian menjambak rambut Sean.
"Aw, sakit bego," pekik Sean.
"Jangan-jangan kamu yang suka aku?" tanya Arini sambil menjauh dari Sean.
"E–enggak, gak mungkin lah gue suka sama cewek datar kaya lo," sanggah Sean, tapi wajahnya memerah.
"Hmm ...," Arini hanya berdehem sambil menuangkan air mineral ke gelas. "Pulanglah, sehabis ini aku harus pergi."
"Kemana?"
"Bukan urusan kamu,"
__ADS_1
*Yang pengen tahu kelanjutan kisahnya ada Platform ********!!*