
Arini yang baru saja keluar dari kamar ibunya mendadak terdiam dengan seribu pertanyaan diotaknya.
Apakah benar aku menyukai Kak Ardan? itu tidak mungkin.
Lamunannya terhenti saat kedua matanya tertutup oleh tangan seseorang.
"Lepaskan, Mirae! Aku sedang membawa nampan, kau mau aku pukul dengan nampan ini?" sindir Arini pada Mirae.
"Gak asik banget kamu Ar, kamu tahu dari mana kalo ini aku?"
"Siapa yang tidak mengenali tangan kurus tanpa daging ini?" seraya mencubit kedua tangan milik Mirae.
"Aduh ... sakit tau, tega banget kamu Es batu!" pekik Mirae sambil mengusap tangannya yang panas karena dicubit Arini.
Dengan raut muka tanpa bersalah, Arini pergi ke dapur untuk mencuci mangkuk kotor yang ia bawa dengan diikuti Mirae di belakangnya.
"Es batu, ibu kamu udah sehat?" tanya Mirae sambil menarik kursi meja makan.
"Liat aja sendiri!" jawab Arini ketus.
"Nanti aja deh, ini aku bawain buah untuk ibu kamu."
"Terimakasih," jawab Arini singkat.
"Arini, kita keluar sebentar yuk! Aku ingin bicara sesuatu sama kamu," ajak Mirae.
"Bicara apa? Paling juga soal oppa-oppa Korea, drama Korea. Bosen dengernya," jawab Arini.
"Iih ... bukan itu, ini soal hubungan kamu sama Kak Ardan," ucap Mirae sedikit berbisik.
"Itu bukan urusanmu," jawab Arini dengan kasar.
"Ayolah sahabatku yang paliiiiing baik sedunia! Oke, oke ...." sambil memohon dengan wajah yang memelas.
"Terserah kau saja."
Kedua sahabat itu sekarang berada di tepi sebuah danau kecil yang berada tidak jauh dari rumah Arini.
Dengan memberanikan diri Mirae membuka suara, "Apa hubunganmu dengan Kak Ardan baik-baik saja, Arini?" tanyanya sedikit takut, karena yang dia tahu Arini tidak akan mudah untuk langsung menjawab pertanyaan ini.
"Itu bukan urusanmu," jawab Arink cuek.
__ADS_1
"Ayolah, Arini! Setelah aku tahu pernikahanmu dengan Kak Ardan aku begitu terkejut dan kau tidak menceritakan itu semua kepadaku," lirih Mirae.
"Mirae, aku tidak ingin membahas masalah itu, jika kau menemuiku hanya untuk membahas ini, pulanglah!" jawab Arini.
"Maaf Arini, bukan maksud aku menyinggung masalah ini, tapi ini semua tidak masuk akal. Hanya karena kesalapahaman kau harus menikah, dengan umurmu yang belum cukup untuk menikah. Kenapa kau tidak berusaha menjelaskan kesalahfahaman itu kepada warga?" ucap Mirae yang sedang menelisik kebohongan dari mata sahabatnya itu. Ya ... dia tahu Arini sedang sedih dengan keadaannya sekarang, namun Arini terlalu tertutup dengan kesedihannya.
Mendengar ucapan dari Mirae, Arini pun beranjak dari duduknya. "Aku pulang!"
Mirae pun menyusul Arini yang sudah beranjak duluan. "Arini, tunggu dulu! Aku belum selesai bicara."
"Pulanglah, Mirae!"
"Arini, jangan simpan sendiri kesedihanmu itu! Ungkapkanlah agar kau merasa sedikit lega!" teriak Mirae.
"Diamlah, Mirae! Kau tidak akan mengerti keadaanku."
Mirae terdiam dengan jawaban yang tidak memuaskan bagi dirinya, ia sudah menduga jika Arini tidak akan mau menceritakan kepadanya.
Tanpa mendapatkan kejelasan dari sahabatnya, ia pun hanya pasrah dengan rasa penasaran dihatinya dan pulang. Dia tahu, sahabatnya itu bukan seseorang yang mudah untuk mengutarakan perasaannya. Bahkan, Arini sosok gadis yang susah ditebak. Dia lebih memilih untuk menutupi kehidupannya dan tidak membiarkan seseorang masuk lebih jauh kehidupannya.
Gadis ceria itu berubah menjadi gadis yang tertutup dan sulit untuk dimasuki semenjak sepeninggalan ayah dan kakak perempuannya. Ada trauma di dalam hatinya, sehingga ia dilebih memilih diam.
Aku tidak menyukai perasaanku ini.
Akhirnya dia pergi ke villa milik Ardan untuk sekedar membersihkannya.
***
"Baiklah, kita akhiri rapat hari. Saya harap kalian semua bisa bekerja dengan lebih baik lagi dibawah pimpinan saya"
"Baik, Tuan." serentak karyawan menjawab dan mereka semua pun juga ikut keluar dari ruang rapat.
Seusai memimpin rapat, Ardan segera pulang.
"Mr.Park, tolong atur keberangkatanku menuju Malang. Aku ingin mengunjungi kebun dan villa di sana"
"Kenapa tidak menggunakan jet pribadi saja, Tuan?"
"Aku sedang tidak ingin,"
"Baik Tuan, saya akan pesankan."
__ADS_1
Sesampainya di rumah sang Oma, Ardan melihat Oma-nya yang tengah menonton tv. Ia pun lalu menghampirinya.
"Selamat malam, Oma." seraya memegang pundak sang oma dari belakang.
"Oh ... rupanya cucu Oma sudah pulang, cepat bersihkan diri kamu habis itu kita makan malam bersama!" ujar Maria.
"Iya, Oma."
Di ruang makan, Ardan dan Maria menikmati hidangan mereka masing-masing.
"Apa Sean sudah pulang, Oma?"
"Sudah tadi pagi, katanya dia lagi sibuk dengan konsernya," jawab Maria.
"Konser? Bagimana dengan kuliahnya?"
"Entahlah anak itu, dia terlalu dimanjakan oleh Anna. Sampai-sampai kuliahnya jadi terbengkalai." seraya mengangkat kedua bahunya.
Drrett ... drreet ...
Ponsel milik Ardan berbunyi dan dia segera mengambil ponsel di sakunya.
"Ya Mr.Park ..., oke terimakasih." Ardan meletakkan ponselnya di meja
"Ada apa, Ardan?" tanya Maria penasaran.
"Oh ini, aku meminta Mr.Park untuk memesan tiket untukku ke Malang besok." jawab Ardan.
"Untuk apa kau kembali ke Malang lagi, bukannya urusan di sana sudah kamu serahkan ke Danu?" tanya Maria curiga.
"Iya, memang sudah aku serahkan ke Paman Danu tapi untuk memastikannya tidak lega rasanya kalau aku tidak mengecek sendiri," jawab Ardan bohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada sang Oma, ini belum waktu yang tepat. Lagipula ini semua hanya sementara.
Kau bukan pembohong yang handal Ardan, Oma tahu apa maksudmu mengunjungi perkebunan di Malang. Oma akan membiarkanmu untuk saat ini, tapi lihatlah yang akan terjadi nanti. Aku tidak akan rela cucuku berhubungan dengan anak perempuan pengkhianat itu.
"Oh seperti itu rupanya, baiklah Oma setuju saja" tersenyum licik dengan mengepalkan tangannya.
"Baiklah, aku sudah selesai. Aku ke ruang kerja dulu, Oma."
Tanpa disadari oleh Ardan, rupanya Maria ibu dari Joonien Daviez masih menaruh dendam terhadap wanita itu atas kejadian beberapa tahun yang lalu. Yang menyebabkan Joonien menjadi laki-laki bajingan dan pembangkang, sampai-sampai saat acara pernikahan mereka menjadi gagal.
Kejadian itu tidak akan pernah terlupakan oleh Maria, karena wanita itu suaminya meninggal akibat serangan jantung dan belum lagi rasa malu yang dia terima. Kabar gagalnya pernikahan putranya menyebar luas di masyarakat maupun media cetak, hingga perusahan miliknya hampir mengalami kebangkrutan. Mau tidak mau Jooniean harus menggantikan posisi ayahnya dan demi perusahaan dia menikahi seorang perempuan, anak dari pemilik perusahaan terbesar dia Asia, yaitu Rose ibu dari Ardan Daviez. Pernikahan yang didasari tanpa cinta itu membuat Jooniean menjadi laki-laki suka mempermainkan wanita, hingga akhirnya dia jatuh cinta terhadap wanita malam bernama Anna. Anna yang notabennya sebagai wanita penghibur itu dinikahi Jooniean secara diam-diam dan memiliki anak bernama Dimitri Sean Daviez. Namun pernikahan diam-diam itu tercium oleh Rose istri sah Jooniean, Rose pun dengan iklas menerima Anna sebagai madunya karena dia sadar bahwa Jooniean tidak mencintainya dari dulu. Rose dan Anna hidup dalam satu rumah, mereka sudah seperti kakak adik, walaupun terbesit rasa iri di hati Rose karena Jooniean lebih memperdulikan Anna dari pada dirinya. Dengan rasa sakit yang ia terima, Rose hanya bisa bersabar. Sampai ketika dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia lumpuh total dan akhirnya Rose meninggal saat Ardan masih duduk di bangku SMA.
__ADS_1