Perisai Hati.

Perisai Hati.
21. Kesal.


__ADS_3

Malam hari Bang Ricky baru bisa meluangkan waktu berdua dengan Nindy.


"Buka bajumu..!!" Pinta Bang Ricky.


"Mau apa? Abang jangan macam-macam ya??"


"Teriaklah sampai lehermu putus, tidak akan ada orang yang bisa menolong mu.." dengan jahilnya Bang Ricky menarik kollor celana pendeknya.


"Baaang..!!!" Awalnya Nindy takut tapi secepat kilat pikirannya pun berubah, dengan segenap keberanian yang ada. Nindy pun membuka beberapa kancing seragamnya kemudian menggulung rambut dan mengikatnya.


'J****k, astagfirullah hal adzim.. koyo ngene sido megap-megap to dek'


"Kalau sudah begitu terus mau apa? Sebegitu saja keberanianmu??" Tantang Bang Ricky padanya livernya terasa mau pecah karena tak kuat memikirkan 'godaan' sang istri.


"Mau di sayang Om Ricky donk..!!" Suara itu terdengar nakal dengan gaya centilnya. Tangannya mulai menjelajah dada Letnan gagah di hadapannya.


"Oohh begitu????" Bang Ricky mendekatkan wajahnya dan menggigit kecil telinga Nindy.


Helaan nafas Bang Ricky membuat bulu kuduk Nindy merinding. Sekujur tubuhnya memanas sampai tanpa sadar ia menepikan tubuhnya dalam pelukan Bang Ricky dan Bang Ricky pun menaikan dagu Nindy agar menatapnya. "Kenapa kita tidak pacaran saja?"


"Tapi Nindy maunya di lamar..!!" Pinta Nindy.


"Baiklah.. besok Abang akan melamar mu..!!"


Bang Ricky mendekatkan bibirnya, desir hatinya sudah naik turun tak karuan. Tangannya menyentuh dan menjabarkan rasa rindunya yang terpendam.


ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..


Bang Ricky mengabaikan nya dan menekan tengkuk Nindy agar pagutan mereka terasa lebih dalam. D***h keduanya terlepas. Bang Ricky pun semakin melekatkan diri pada Nindy. Nindy membuka matanya saat merasakan ada tubuh Bang Ricky yang tegak menantang tanpa rasa takut.


ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtt..


Emosi Bang Ricky tersulut karena konsentrasi nya terganggu. Darahnya seketika mendidih merasakan 'kegagalan' untuk kesekian kalinya. Ia pun melepas pagutannya lalu menyambar ponsel di atas nakas. Terlihat Ega ajudannya memanggil.

__ADS_1


"Egaaa.. bang_s.........." Ingin sekali bibirnya mengumpat karena saat ini tiba-tiba kepalanya terasa sakit. "Ada apa??" Jawab Bang Ricky tanpa basa-basi.


"Selamat malam, ijin Danki.. Kasi Intel mengajak Danki mengatur tiang tenda untuk acara lomba ibu-ibu besok sore"


"Astagaaaa... Tiang saya juga ambruk. Besok pagi saya hadir" gerutu Bang Ricky sudah badmood tak karuan sembari mematikan sambungan telepon.


Sesaat kemudian Bang Ricky menoleh dan melihat beberapa lebam di tubuh Nindy tapi Nindy segera mengancing kembali pakaian lalu berjalan keluar dari kamar.


Tak lantas diam saja, Bang Ricky menggapai tangan Nindy. "Apa saja yang dia lakukan sama kamu????" Sorot mata Bang Ricky terasa sangat tajam menusuk.


"Nggak Bang, bukan dia" jawab Nindy.


"Satuuuu..!!" ancam Bang Ricky tidak main-main.


Nindy masih tetap diam seribu bahasa.


"Duaaa..!!!!!!!!"


"Bang Irwanto mengancam lagi" jawab Nindy kemudian.


Nindy pun berlutut. "Tolong tutup masalah ini Bang..!!" Pinta Nindy sampai menangis.


"Tidak ada suami yang bisa menerima istrinya di perlakukan tidak sopan oleh pria lain apalagi sampai memukul dan melecehkan. Apa si Irwan mau mati di tangan Abang??? Beraninya dia memperlakukan kamu seperti ini" kata Bang Ricky.


"Nindy menjaga nama Ayah juga nama ketiga Abang Nindy, terlebih sekarang Nindy sudah punya suami."


"Abang nggak perlu nama baik itu, kamu adalah tanggung jawab dunia akhirat Abang.. dek..!!!!!" Bentak Bang Ricky.


"Tolong Bang, Nindy nggak mau ada keributan..!!"


Darah dalam tubuh Bang Ricky sudah mendidih, namun rasa tidak teganya pada Nindy mengalahkan segalanya. Dengan cepat dirinya memutar otak mencari jalan terbaik untuk memecahkan masalah.


"Ada syarat untuk setiap kesepakatan..!!!" Ucap tegas Bang Ricky.

__ADS_1


Nindy hanya berani menatap mata Bang Ricky sekilas.


"Kamu harus benar-benar jadi istri Lettu Ricky.. tanpa kecuali..!!!!!!!!"


Nindy menunduk menyembunyikan tangisnya.


"Sekarang cepat kamu bersih-bersih badan dan tidur..!!!"


...


Bang Ricky mengambil salep di kotak obat kemudian mengoleskan pada tangan Nindy kemudian juga dengan pundaknya, hati-hati sekali agar Nindy tidak terbangun.


'Maaf dek, bukan Abang tidak bisa memegang janji, tapi ini soal harga diri. Abang tidak mungkin kamu semakin masuk dalam pusaran setan yang sudah Irwan buat.'


Dengan punggung tangan, di hapusnya air mata Nindy yang menetes di pipi. Sungguh batinnya ikut sakit dan sangat terluka.


***


Diam-diam Bang Brigas datang ke kompi. Saat itu tak sengaja Bang Brigas bertemu dengan Sertu Irwanto.


"Selamat pagi Dan. Mohon ijin.. komandan mencari Danki??" Sapa Sertu Irwan.


"Saya mau cari istri Lettu Ricky. Katanya hari ini ibu-ibu kompi ada kegiatan?" Tanya Bang Brigas.


"Siap.. nanti sore akan di adakan lomba, bergabung dengan batalyon. Ijin arahan Dan..!! Mungkin bisa sampaikan..!!"


"Tolong sampaikan pada Nindy.. saya menunggu nya di pintu belakang Batalyon dan jangan sampai Dankimu tau..!!" Arahan Bang Brigas.


Ada sekilas senyum licik menyeringai seakan menemukan titik cerah permasalahannya. "Siap Dan.. saya akan menyampaikan pada Bu Nindy secepatnya..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2