
Bang Ricky mengusap perut Nindy. "Kamu jangan terlalu capek dek. Sejak kembali dari kampus kamu malah sibuk dengan kegiatan kompi"
"Mau bagaimana lagi Bang. Bukannya ini semua resiko menjadi istri dari Lettu Ricky??" Jawab Nindy belakangan ini bersikap dingin sedingin sikap Bang Ricky padanya.
Bang Ricky mulai gusar karena Nindy seakan tak lagi bermanja padanya dan itu membuatnya sangat cemas. "Kenapa kamu nggak manja lagi sama Abang?" Perut Nindy yang sudah berusia empat bulan membuat hatinya bergetar, aura seksi sang istri menggoyahkan batinnya, naluri lelakinya tergugah.
"Untuk apa Nindy manja. Bukankan Abang ingin istri yang mandiri?" Nindy menyingkirkan tangan Bang Ricky kemudian sibuk menghubungi sana sini untuk acara idul qurban.
Tak patah arang, Bang Ricky memeluk Nindy dari belakang. Nindy tidak menolak tapi sikapnya seakan tak peduli dengan Bang Ricky.
"Sayaang.. Abang pengen" ucap jujur Bang Ricky karena sudah dua minggu ini dirinya pun terlalu sibuk dengan segala penyelesaian urusan kasus Nindy juga dengan pekerjaan ini dan itu yang tidak bisa di tunda bahkan dirinya baru pulang setelah dua hari dua malam menyelesaikan pekerjaan dan inilah puncaknya Bang Ricky tak sanggup lagi menahan rasa rindu.
Nindy mendengarnya sangat jelas dan amat sangat jelas bahkan dirinya bisa merasakan tubuh Bang Ricky yang bereaksi menuntut penyelesaian namun rasa kesalnya pada Bang Ricky tak lantas hilang begitu saja.
Terdengar suara d***h kecil menandakan Bang Ricky sudah luar biasa tersiksa. "Ayoo..!!" Bisik Bang Ricky di telinga Nindy yang sedang sibuk mengurus pekerjaan bersama para ibu pengurus ranting.
"Nindy malas Bang" jawab Nindy singkat padat dan jelas namun cukup menghantam telak batin Bang Ricky.
Sekujur tubuh Bang Ricky rasanya memanas. Harga dirinya seketika runtuh dan merasa tidak di inginkan. Tanpa kata ia melepas dekapannya dari Nindy dan pergi menjauh bersamaan dengan Nindy yang usai menghubungi rekannya.
"Abang mau kemana?" Tanya Nindy.
"Cari l***e." Jawab Bang Ricky kemudian berjalan masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Nindy ternganga masih belum menyadari kesalahannya. Niatnya menghukum Bang Ricky malah membuat suaminya amat sangat murka.
Tak lama Bang Ricky keluar rumah sembari menyambar kunci motor.
***
__ADS_1
"Ada apa???" Bang Brigas sampai mendatangi rumah Nindy karena adiknya itu menghubungi nya di tengah malam.
"Bang Ricky marah lalu pergi. Wangi sekali, ganteng, katanya mau cari l***e" jawab Nindy mengagetkan Bang Brigas.
"Kenapa sampai Abang bicara begitu? Kamu bertengkar????" Bentak Bang Brigas tiba-tiba ikut pusing memikirkan Nindy.
"Ehmm.. itu.. anuu Bang"
"Anu apa???? Yang jelas bicaramu..!!! Itu ucapan nggak sepele Nindy..!!!!!!!!" Suara Bang Brigas semakin keras terdengar.
"Nindy nggak mau di 'ajakin' Bang Ricky" jawab jujur Nindy.
"Kenapa????? Kamu sakit????" Tanya Bang Brigas mencoba menerka keadaan untuk masalah adik kandungnya.
"Nindy jengkel Abang nggak pernah bilang cinta. Jadi Nindy hukum Abang.
"G****k, yo ora ngono carane. Pikir dulu sebelum bertindak, kamu jangan main-main sama hal yang kamu anggap sepele..!!!!!!" Bang Brigas langsung terduduk dan ikut pusing.
"Kamu masuk ke kamar dan tunggu Bang Ricky. Abang bantu cari suamimu..!! Ada-ada saja kamu buat ulah..!!!" Secepatnya Bang Brigas meninggalkan rumah Bang Ricky.
:
Bang Brigas menyusuri sekitar kompi, tak ada tanda Bang Ricky ada disana kemudian dirinya melanjutkan perjalanan untuk masuk ke Batalyon. Saat melintasi sekitar Batalyon, matanya melihat motor milik Bang Ricky terparkir di masjid Batalyon. Bang Brigas segera menghampiri dan turun dari motor.
~
"Bang..!!" Sapa Bang Brigas setelah Bang Ricky selesai membaca Al Qur'an.
Bang Ricky pun menoleh. "Kenapa disini Long? Maurin nggak nyari?" Jawab Bang Ricky terlihat santai.
__ADS_1
"Sudah tidur Bang. Abang sendiri kenapa di sini?" Tanya Bang Brigas.
"Cari angin saja"
"Hmm.. Bang, saya minta maaf kalau mungkin
Nindy membuat Abang kesal" kata Bang Brigas juga jadi tidak enak, bagaimana pun juga ia sudah ikut campur urusan rumah tangga seniornya.
Mendengar nya Bang Ricky hanya tersenyum getir. "Apa Nindy bilang sesuatu?"
Bang Brigas menggaruk kepalanya bingung untuk menjawab. "Yaa.. hanya bilang ke arah mana Abang pergi"
"Saya yang salah, saya yang tidak dewasa. Seharusnya saya lebih sabar karena inilah resiko menikahi gadis se imut Nindy" jawab Bang Ricky kemudian berdiri dan beranjak duduk di luar masjid karena saat ini, hanya rokok yang bisa menenangkan pikirnya.
"Nindy pengen dengar kata 'I love you' Bang" senyum Bang Brigas tak tanggung-tanggung pasalnya terlalu aneh juga di ucapkan seorang Brigas yang sebenarnya juga gengsi jika harus mengucap kata yang menurutnya 'kekanakan'.
"B******n, aku selalu sial setiap berhadapan dengan kata-kata mutiara itu" gerutu Bang Ricky.
"Jangankan Abang, saya saja tidak pernah mengucapkan kalimat munafik macam itu. Cinta ya cinta saja, tidak perlu banyak rayuan gombal" jawab Bang Brigas. "Ehmm.. Bang. Abang nggak punya niat pergi ke............."
"Lidah tidak bertulang Long. Pikiran panas, hati tertekan. Adikmu itu luar biasa menguras mental. Kamu tau khan saya mampu melakukannya? Saya bukan orang suci" Jawab Bang Ricky membuat wajah Bang Brigas selaku Abang Nindy menatapnya tajam. "Tapi saya waras, punya akal dan iman. Satu wanita sudah cukup untuk lapar dan dahaga saya. Maaf gertakan saya terlalu keras dan tidak mendidik"
Ada kelegaan dalam hati Bang Brigas. "Saya percaya Bang"
.
.
.
__ADS_1
.