
"Ayam hutan?" Om Munawar yang sedang menggantikan ajudan Bang Panji pun seketika bingung dimana harus mencari ayam hutan.
"Iyaa.. ayam hutan. Apa kamu tidak dengar????" Kata Bang Brigas.
"Ba_ik Dan.. saya cari sekarang juga..!!"
"Hmm.. cepat ya. Istri saya ngidam nih..!!"
"Siaap..!!"
***
Yani masuk ke dalam ruang rawat Nindy saat istri letnan Ricky tertidur pulas. Wajah marah Yani memenuhi seisi mimik mukanya.
"Ehm.. Selamat pagi Ibu Ricky yang terhormat..!!" Sapa Yani.
Mendengar suara Yani, mata Nindy terbuka. Ia melihat sosok wanita yang belum familiar ia lihat.
"Saya kesini meminta keadilan untuk suami saya.. Sertu Irwanto" Ucap Yani tanpa basa basi.
Nindy yang baru saja membuka matanya tidak begitu jelas dengan arah pembicaraan Yani apalagi dirinya tidak tau menahu tentang urusan Bang Irwanto.
"Maksudnya apa ya Bu Irwan?"
"Jangan di kira karena kamu istri atasan suami saya lantas saya tidak berani. Kamu itu umurnya masih jauh di bawah saya, anak kemarin sore saja sudah berulah. Asal kamu tau ya, apa yang di lakukan suami saya sama kamu itu tidak ada urusannya dengan perasaan, semua hanya murni mencari uang" jawab Yani merasa sangat dongkol melihat wajah polos Nindy.
Nindy yang masih kesulitan untuk bangun hanya bisa menghela nafas panjang. "Benar Bu, semua hanya murni mencari uang. Saya yang bodoh.. percaya dengan suami ibu yang Sholeh."
"Baguslah kalau kau sadar diri. Suamimu pun menikahimu juga pasti bukan karena cinta. Semua karena terpaksa. Tidak ada laki-laki yang mau menjerumuskan dirinya hanya karena wanita rusak seperti mu. Apa kau tau.. banyak wanita yang lebih baik dari kamu. Kau ingat kata-kata ku, nanti akan ada saatnya suamimu tergoda dengan pesona wanita lain, dirimu yang tidak ada apa-apa nya ini, lemah, hanya akan menyusahkan dirimu saja" kata Yani kemudian keluar dari kamar rawat.
...
Bang Ricky baru saja tiba di rumah sakit, terburu-buru dirinya menyelesaikan tugas kantor dan segera kembali ke rumah sakit untuk menemui Nindy.
__ADS_1
"Kenapa belum sarapan dek? Abang sudah minta perawat untuk merawat mu sebelum Abang datang."
"Abang darimana?"
"Kompi lah, dari mana lagi?" Jawab Bang Ricky kemudian sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Nindy yang sudah terbilang sangat telat.
"Apa Abang cinta sama Nindy"
"Kenapa tanya begitu?" Bang Ricky balik bertanya.
"Apa alasan Abang menikahi Nindy?"
"Apa ada kepentingan sampai kamu harus bertanya hal seperti itu?" Bang Ricky merasa heran karena pagi ini Nindy sangat berbeda.
'Apa ini yang di bilang bawaan bayi? Tapi aku merasa ada yang berbeda. Sebenarnya ada apa??'
"Pantas Abang tidak pernah bersikap lembut, tidak mencemaskan Nindy, tidak pernah mengucap kata sayang. Abang memang menikahi Nindy karena alasan lain dan suatu saat Abang akan tergoda pesona wanita lain yang lebih berkelas karena Nindy bukan apa-apa"
...
Sampai sore hari, Nindy sama sekali tidak ingin tersentuh tangan Bang Ricky dan semuanya hanya dengan bantuan perawat wanita.
"Sabar le, dulu Mama juga nggak suka lihat wajah Ayah waktu hamil Nindy. Dua bulan ayah merana karena Mama selalu pusing kalau lihat ayah seliweran di rumah" kata Ayah Wira menenangkan menantunya.
"Ya maaf Yah, Mama minta maaf sama Ayah. Tapi semua itu benar, kalau lihat Ayah rasanya pengen marah, mual dan muntah" imbuh Mama Nasha.
"Gitu ya Yah, apa saya harus menjauh?" Tanya Bang Ricky.
"Nggak usah menjauh, di awasi saja. Kalau Nindy nggak suka lihat wajahmu, ya kamu saja yang menghindar..!!" Saran Ayah Wira. "Tapi tenang, kalau kangen juga ujung-ujungnya nyari kok Rick"
"Baiklah Yah, saya paham" ucapnya sebelum panglima dan ibu kembali bertugas di tempat lain.
...
__ADS_1
Bang Ricky senang sekali mendengar kabar dari dokter bahwa perkembangan tubuh Nindy sangat cepat dan sehat hanya saja keadaan mentalnya belum begitu stabil, wajar saja.. insiden yang sudah di alami Nindy bukanlah perkara ringan, traumanya begitu melekat.
"Alhamdulillah kalau besok pagi sudah boleh pulang, saya akan terus menjaga kestabilan mentalnya dok" jawab Bang Ricky tersenyum penuh kelegaan.
***
Pagi hari Bang Ricky murka karena tidak ada satupun perawat, dokter maupun penjaga yang melihat Nindy keluar dari kamar rawat hingga dirinya panik menghubungi kesana sini.
"Kemana si Ega???" Bang Ricky mencoba menghubungi ajudannya berkali-kali namun tak ada jawaban sampai om Munawar datang untuk mengambil barang istrinya.
"Ijin Dan, saya pindahkan sekarang semua barang ibu?" Tanya Om Munawar.
"Iya.. Eehh . Ngomong-ngomong kamu tau nggak kemana perginya si Ega?? Daritadi saya hubungi nggak bisa"
"Ijin Dan, bukankah Ega sedang mengawal ibu atas arahan Danki??" Jawab Om Munawar.
"Arahan apa?? Saya nggak bilang apa-apa" Bang Ricky mulai cemas dengan situasi ini.
Om Munawar terhenyak sesaat. "Ijin.. Danki meminta ibu mewakili auto racing??????"
"Opo Warr?????? G****k kamu.. istri saya hamil, mana mungkin saya minta istri saya balap mobil..!!!" Bentak Bang Ricky dengan amarahnya yang memuncak.
"Maaf Dan, apa benar Ibu sedang hamil???" Tanya Om Munawar tidak percaya pendengarannya.
"Buat apa saya bohong?????" Suara Bang Ricky kembali meninggi.
.
.
.
.
__ADS_1