Perisai Hati.

Perisai Hati.
49. Cinta tulus.


__ADS_3

"Sah"


"Alhamdulillah..!!"


~


Om Panji dan Tante Nisa merestui dengan ikhlas pernikahan Tisha dan Bang Hara hanya saja Bang Revan masih setengah. Ia enggan bertemu wajah dengan Bang Hara yang kini telah menjadi adik iparnya.


"Abang" sapa Tisha yang sejak kemarin tak banyak berbicara dengan Abangnya, Abang tiri yang sangat menyayanginya lebih dari apapun.


"Abang ingin mengantar mu, sebagai pengantin yang anggun yang cantik, menggandeng mu duduk di samping pria yang menikahimu secara jantan dan terhormat. Bukan seperti ini Tisha" ucap sesal Bang Revan terasa hingga menusuk jantung Tisha.


"Tisha minta maaf Bang"


"Nasi sudah menjadi bubur, semua hanya akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata." Jawab Bang Revan memalingkan wajahnya, ia pun menjauhkan asap rokok dari sang adik yang tengah mengandung.


Tisha duduk bersimpuh memeluk kaki Bang Revan dan menyandarkan kepalanya di paha Abangnya.


"Tisha lapar Bang, pengen di suapi Abang" pinta Tisha.


Tak lama Mama Nisa membawakan nasi, ayam goreng dan sambal goreng kentang.


Tak ada suara dari Bang Revan. Ia membuang rokok lalu mencuci tangannya pada wadah kecil yang juga di bawakan Mama Nisa. Dengan tangannya itu, Bang Revan menyuapi Tisha.


"Apa Abang tetap sayang sama Tisha? Apa Tisha tetap jadi adik kecilnya Abang?" Tanya Tisha lirih.


Pertanyaan Tisha membuat hati Bang Revan teriris perih. Sekuatnya ia menahan perasaannya dan tetap menyuapi Tisha.


Tisha kembali memeluk kaki Bang Revan. "Abang.. Tisha tau ada kesalahan Bang Hara, tapi semua ini tak luput dari kesalahan Tisha juga. Bang Hara adalah pria pilihan hati Tisha. Tisha mohon sudilah kiranya Abang merestui pernikahan Tisha dan Bang Hara. Percayalah Tisha akan bahagia bersama Bang Hara"


Mulai dari detik ini Bang Revan mulai menitikan air mata. Ia mencuci tangannya yang kotor, sembari menata hatinya yang sulit tertata. Tak tahan juga hatinya pilu melepas sang adik. Tangan kirinya mulai membelai rambut dan mengusap pipi Tisha.


"Tak terhitung banyaknya kasih dan sayang Abang untuk Tisha hingga Tisha kecilmu merasa sangat nyaman dalam dekapan sayangmu. Terima kasih Tisha untuk Abang karena telah bersedia menjaga Tisha. Maafkan Tisha sudah sangat menyusahkan Abang. Kini biarlah Bang Hara menggantikan tugas Abang. Tisha mohon restu Abang..!!" Tangis Tisha menambah suasana haru.


Seketika Bang Revan memeluk erat Tisha. Tangisnya pecah. "B******n kau Hara.. kalau sekali lagi kau buat adikku menangis.. Disini Abangnya yang akan turun tangan menghajarmu..!!!!" Tangis Bang Revan meraung-raung tak sanggup melepaskan Tisha.


Bang Hara ikut bersimpuh di kaki Bang Revan. "Saya akan menyayangi Tisha sepenuh hati dan tidak akan pernah menyakiti Tisha" janji Bang Hara.


Nindy yang melihat kejadian itu jadi terpengaruh, seketika istri Lettu Ricky itu pingsan.


"Allahu Akbar..!!" Bang Ricky langsung membawa Nindy masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Perhatian semua orang langsung tertuju pada Nindy.


...


"Namanya juga ibu hamil, perasaannya jadi sangat sensitif. Meskipun bukan tertuju pada dirinya, tapi secara tidak langsung Nindy jadi kepikiran." Kata dokter.


"Gitu ya Bang." Bang Ricky tak hentinya mengusap perut Nindy.


"Baang..!!" Nindy mulai membuka mata, dan mata itu langsung basah.


"Iya dek, kenapa sayang? Ada yang sakit? Mau makan apa?" Tanya Bang Ricky lembut.


"Nindy pengen ketemu sama Bang Setha" pinta Nindy.


Bang Ricky menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Iyaa.. sabar ya..!!"


~


Om Panji akhirnya tersenyum geli melihat bumil Bang Ricky mulai rewel. Mungkin karena melihat Bang Revan memeluk Tisha, Nindy jadi merindukan Abangnya.


"Apa Nindy nggak mau bertemu Brigas saja? Brigas dan Setha khan kembar identik." Tanya Om Panji.


"Kalau mau sih sudah dari tadi Om. Nindy maunya Setha yang datang tapi Setha sedang patah hati" jawab Bang Ricky.


"Pacarnya di jodohkan dengan pengusaha batubara dan Minggu kemarin menikah"


Om Panji mengangguk tak bisa lagi menanggapi hal yang sifatnya sangat sensitif.


***


Demi sang adik, menggunakan penerbangan terakhir.. lewat tengah malam Bang Setha sudah datang di rumah Bang Ricky.


"Maaf Abang merepotkan..!!" Kata Bang Ricky.


"Nggak apa-apa Bang. Mana Nindy?" Tanya Bang Setha menanyakan keberadaan adiknya.


"Ada di kamar, masuk saja..!!"


~


Desir haru melihat perut Nindy yang sudah membesar. Pipinya pun juga sudah tampak lebih berisi.

__ADS_1


"Ini laki apa perempuan Bang?" Tanya Bang Setha.


"Belum di cek USG. Insya Allah besok. Belakangan ini kompi dan Batalyon sedang sibuk sampai Abang juga belum bisa antar Nindy periksakan kandungan." Jawab Bang Ricky.


Bang Setha menyentuh tangan Nindy. "Mana nih yang cari Abang? Abang sudah datang malah di cuekin"


Suara Bang Setha membangunkan Nindy yang masih pucat.


"Abaaaaaanngg...!!!" Derai air mata Nindy runtuh begitu saja, tangan lembutnya langsung menarik lengan sang Abang agar memeluknya.


Tak pernah Bang Setha merasakan hal seperti ini tapi hatinya turut bersedih.


"Idiiihh.. kenapa nih? Bang Ricky jahat ya?" Ledek Bang Setha.


Nindy menggeleng.


"Gendong Nindy donk Bang..!!" Pinta Nindy membuat desir nyeri di hati Bang Ricky dan Bang Setha.


"Abang sih mau saja, tapi bagaimana caranya? Perutmu sudah besar" kata Bang Setha.


"Tapi Nindy pengen di gendong Abang"


Bang Setha melirik Bang Ricky meminta bantuan tapi Bang Ricky hanya mengendik kan bahunya saja.


"Abang nggak tau, sekali-kali kau bantulah Abangmu ini mikir..!!"


:


Bang Setha memanggul Nindy di bahu kanan.


"Abang.. Nindy nggak punya kakak perempuan, juga nggak punya adik. Tapi Nindy bahagia di sayangi Abang sebaik Bang Setha" kata Nindy.


Tiba-tiba nyeri kembali menyerang perasaan Bang Setha. Wajahnya meremang merah namun ia mencoba untuk tersenyum.


"Tahan sebentar ya Bang, Nindy ingin merasakan di sayang Abang, siapa tau.. saat Abang menggendong Nindy lagi.. Nindy sudah tidak bisa merasakannya." Lirih ucap Nindy membuat lelehan bening itu akhirnya tidak bisa di tahan lagi untuk tetap berada di sana.


"Aagggggh..!!" Dan duduk di tempatnya, Bang Ricky sangat syok sampai nafasnya terasa tersengal. "Turun dek, jangan bicara macam-macam kalau kamu nggak mau lihat Abang mati duluan..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2