
Kepala Bang Ricky terasa pening, tangannya terus menggenggam erat tangan Nindy.
"Abang makan ya..!! Iva suapi?"
Awalnya Bang Ricky tidak mau tapi karena memang tubuhnya sangat lemas, Iva pun berinisiatif menyuapinya dan akhirnya ada nasi yang masuk ke dalam perut Bang Ricky.
Beberapa suap Bang Ricky makan, perlahan Nindy tersadar dari obat bius sebagai penenang. Nindy memercing merasakan nyeri pada perutnya.
"Aaaahh.. sakiit" ucapnya lirih.
Bang Ricky berdiri dan kembali pada mode panik.
"Sayang.. Abang panggil dokter ya..!!"
:
"Keguguran spontan seharusnya tidak begini. Seperti yang saya bilang semalam.. Tekanan psikis dalam diri Nindy begitu kuat hingga ambang rasa sakit itu menyerang keseluruhan tubuhnya" kata dokter menjelaskan. "Pemulihan rahimnya bisa sekitar tiga bulan dan untuk waktu yang terbaik adalah enam bulan untuk Nindy benar-benar sehat. Itupun juga harus dalam keadaan yang tenang."
"Terima kasih infonya dok" jawab Bang Ricky.
Bang Adnan mendekap lengan sahabatnya. "Sabar.. banyak-banyak sabar menghadapi ujian hidupmu Rick..!!"
"Insya Allah aku baik-baik saja Ad. Thanks ya..!!"
...
"Saya akan langsung membawa Nindy masuk rumah dinas bersama Iva"
"Ricky.. hal ini tidak baik di lihat anggota yang lain" jawab Danyon. Ayah Gesang pun mengangguk membenarkan jawaban Danyon.
"Tidak ada yang tau saya menikah lagi kecuali kalangan perwira. Dan anggota hanya tau Iva sebagai saudara saya." Kata Bang Ricky menjelaskan. "Jika rahasia ini sampai bocor berarti kalangan kita yang buka suara"
"Tapi le, apa itu baik untuk mental Nindy dan Iva?" Tanya Ayah Gesang.
"Saya tau ini berat Yah, tapi kita tidak bisa mundur dari takdir. Selama kebersamaan kami nanti.. saya akan putuskan yang terbaik untuk kami bertiga." Jawab Bang Ricky. "Pasti akan ada hujan tangis.. tapi semua harus di jalani seberat apapun keadaannya." Berat sekali Bang Ricky mengungkapkan semua.
"Ayah percaya sama kamu. Hati-hati.. kalau ada apa-apa segera hubungi Ayah. Tak lelahnya Ayah mengingatkan.. adil lah kamu membagi waktu dan kasih sayang untuk istrimu. Jangan timpang..!!"
"Insya Allah saya mengerti Yah. Saya akan mengusahakan yang adil untuk Nindy dan Iva sampai menemukan titik penyelesaian."
***
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Bang Ricky menyatukan Nindy dan Iva. Ia paham resiko yang harus di hadapi tapi tidak mungkin dirinya 'membuang' Iva begitu saja setelah kehadiran Nindy dan tidak mungkin dirinya membiarkan Nindy tinggal bersama Yosh apalagi membiarkan kedua istrinya hidup terpisah dengannya. Segalanya harus bertahap dan terarah, bagaimanapun juga sifat memanusiakan manusia harus ada tetap dalam penyelesaian terbaik.
"Nindy tidur di kamar depan. Iva di kamar tengah..!! Ukuran kamar dan ranjang sama. Tidak ada yang Abang bedakan" kata Bang Ricky. "Abang tidur di ruang tamu. Tidak ada yang saling iri ya..!!" Ucap tegas Bang Ricky meskipun batinnya sangat ingin berduaan dengan Nindy.
"Abang tidur di kamar Nindy saja." Saran Iva.
"Di ruang tamu sudah cukup. Abang bisa jaga kalian semua."
"Abang tidurnya dimana Pa?" Tanya Isyad.
"Abang Isyad tidur di kamar belakang. Papa sudah benahi kamar yang sangat keren untuk Abang..!! Sama cepat di lihat kamar barunya..!!" Pinta Bang Ricky agar putranya tidak ikut melihat ketegangan orang tuanya.
"Oke Papa" Isyad pun berlari melihat kamar belakang dan memang benar, Papa Ricky sudah mendekorasi kamar menjadi motif the Cars sekalian dengan ranjang dan segala mainan.
"Abang Isyad sukaaa..!!" Teriaknya dari dalam kamar.
"Kamu cepat masuk kamar dan istirahat dek. Badanmu belum pulih" kata Bang Ricky mengarahkan Nindy. "Kamu juga cepat tidurkan Isy. Beberapa hari di rumah sakit pasti badannya juga capek..!!" Bang Ricky pun mengarahkan Iva.
"Iya Bang" jawab Iva dan Nindy hanya mengangguk saja menjawabnya.
...
Sore hari Bang Ricky mengajak bercanda dan bermain Abang Isyad dan Isy karena Iva sedang sibuk memasak. Nindy yang belum pulih dengan keadaannya masih terbaring di atas ranjang. Kepalanya terasa pening memikirkan waktu yang tepat mengungkapkan fakta tentang pernikahannya dan Iva sedangkan ia juga harus memilih waktu yang tepat untuk mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin memiliki dua istri dalam hidupnya.
~
"Masak sop ayam sama perkedel Pa" jawab Iva mengikuti gaya bahasa Bang Ricky untuk membiasakan pada putrinya untuk mendengar sapaan itu.
"Hmm.. kamu bisa masak ikan gabus goreng nggak Va? Sama sayur bayam untuk Nindy besok" tanya Bang Ricky hati-hati.
"Bisa Bang. Tapi Iva pesan dulu di tukang sayur ya"
"Abang sudah minta anak-anak cari di sungai." Jawab Bang Ricky.
"Mudah-mudahan Nindy cepat sembuh ya Bang." Iva tersenyum sembari kembali mengaduk sayur sopnya.
"Kamuu.. nggak marah khan sama Abang?" Tanya Bang Ricky.
"Tidak ada hak untuk Iva marah. Nindy istri Abang, Iva lah penengah di antara kalian berdua."
Bang Ricky memahami perasaan Iva. Meskipun terlihat tegar tapi pasti ada rasa sakit tak terlukiskan dalam hati Iva.
__ADS_1
Bang Ricky mengecup kening Iva. "Abang minta maaf ya Va. Bukan maksud Abang menggiring mu dalam masalah ini"
"Nggak apa-apa Bang, kita jalani saja takdir Tuhan..!!" Jawab iva
pyaaar..
Nindy meraba-raba dinding untuk kembali ke kamar setelah menyenggol vas bunga.
"Nindy..!!" Bang Ricky cemas karena pasti Nindy sudah melihat dan mendengar apapun yang ia lakukan dengan Iva.
Iva meminta putrinya dari gendongan Bang Ricky lalu mematikan kompor. "Cepat ikuti Nindy Bang..!!"
~
"Nggak ada apa-apa antara Abang dan Iva"
Nindy tersenyum tulus mendengarnya.
"Nindy minta maaf Bang, sudah hadir di tengah rumah tangga kalian yang bahagia. Putri kalian juga sangat cantik."
Bang Ricky memeluk Nindy dengan erat. "Jangan salah paham sayang. Di hati ini hanya ada kamu. Abang cinta, sayang sekali sama kamu."
Senyum Nindy kembali tersungging cantik. "Dulu Nindy sangat ingin mendengarnya Bang, tapi sekarang ribuan kata itu tak ada artinya lagi. Abang pun telah memiliki hati yang lain. Tidak pantas juga Nindy menuntut hal lebih karena Nindy pun pernah terjamah pria lain."
"Abang berani bersumpah tidak ada yang menggeser posisimu dalam hati ini. Abang tetap memiliki perisai untuk hatimu agar cinta dan sayang ini selalu menjadi milikmu."
Nindy mencondongkan tubuhnya lalu mengecup bibir Bang Ricky. "Terima kasih banyak Abang. Sekarang kembalilah temui Iva. Dia juga butuh perhatian dan sayangmu" senyum Nindy terlihat sangat tegar.
Bang Ricky terlihat takut dan cemas dengan sikap Nindy tapi Nindy mendorongnya agar keluar dari kamar. "Iva berhak bahagia.. Nindy bahagia pernah menjadi bagian dari hidup Abang..!!"
"Dek.. sayang..!!"
Nindy mengunci rapat pintunya setelah Bang Ricky keluar dari kamar. "Nindy juga perempuan Bang. Nindy tak mungkin merebut kebahagiaan wanita lain" gumamnya.
Disisi lain Iva mengusap air matanya. 'Aku sudah mendapatkan bahagiaku bersama Isy. Aku tidak pantas bersaing denganmu. Aku hanya wanita yang di angkat derajatnya oleh suamimu.'
.
.
.
__ADS_1
.