Perisai Hati.

Perisai Hati.
44. Bang Ganesha.


__ADS_3

"Tolong semua berkas BAP ini di periksa ulang..!!" Perintah Bang Ricky. "Serda Odi dan Sertu Irwanto satu jaringan tapi jangan pernah lupakan Yuni istri Sertu Irwanto, saya curiga dia juga terlibat. Usahakan jangan keluar prosedur penanganan dan jangan ada kekerasan fisik untuk menangani agar masalah ini cepat selesai karena korban kekerasan adalah istri saya dan Tisha putri Pak Panji yang memergoki keterlibatan jaringan mereka..!!" Perintah tegas Bang Ricky.


"Baik Pak. Pak Ricky hanya tinggal memantau saja karena semua berkas sudah lengkap..!!"


\=\=\=


Satu bulan kemudian.


Bang Ganesha membiarkan dering ponselnya. Ia tau betul Nia sedang marah dan kecewa sebab sejak menikah dengan Nava, dirinya benar-benar sangat jauh mengurangi intensitas komunikasi dengan Nia.


"Bang, kasihan Mbak Nia." Ucap Nava sembari menghidangkan sepiring nasi putih, tumis tahu kecap dan balado telur di atas meja makan.


"Nggak apa-apa. Biarkan dia merasakan renggang nya hubungan jadi saat kita bertemu dengan dia, hatinya tidak terlalu sakit" jawab Bang Ganesha.


"Abang.. Mau cepat atau lambat, hati wanita akan terasa sangat sakit jika tau kekasihnya telah memiliki hati yang lain." Kata Nava.


"Waktu akan mengajarkan segalanya. Seperti rasa Abang sama kamu, seperti perasaanmu untuk Abang. Kita tidak saling mengenal, awalnya datar, tidak ada rasa cinta.. tapi kita mengusahakan agar rumah tangga yang kita jalani aman dan damai. Pernikahan berlandaskan 'jalan' Allah.. tidak pernah buruk khan dek?" Bang Ganesha meraih tangan Nava dan mengarahkan untuk duduk di pahanya. "Surat pengajuan nikah kita sudah jadi, hari ini Bang Brigas akan memeriksanya dan kita akan menghadap Danyon. Kalau semuanya lancar, besok kita pindah ke asrama.. nggak ngontak lagi."


"Nava nggak berani berhadapan dengan keluarga Abang"


"Kamu harus berani, nanti Abang kenalkan kamu sama seluruh keluarga Abang." Bang Ganesha mendaratkan satu ciuman manis di bibir Nava.


~


"Bang.." Nava menatap mata Bang Ganesha usai mereka menyempatkan melakukan hubungan suami istri.


"Kenapa dek?"


"Kalau Nava hamil, bagaimana?" Tanya Nava.


"Ya nggak apa-apa. Alhamdulillah." Jawab Bang Ganesha santai sembari kembali mengenakan seragam lorengnya.

__ADS_1


"Nava telat Bang"


Seketika Bang Ganesh menoleh menatap wajah Nava. "Serius dek?"


Nava mengangguk dengan wajah pias dan takut.


"Alhamdulillah.." Bang Ganesha memeluk Nava dan mengusap perut datar itu. "Abang senang sekali dek. Di jaga baik-baik ya..!!" Pinta Bang Ganesha.


"Sungguhkah Abang sesenang itu?" Tanya Nava.


"Demi Allah Abang sangat bahagia. Hati suami mana yang tidak bahagia mendengar istrinya mengandung buah hatinya" Bang Ganesh menghujani wajah Nava dengan ciuman. "Sekarang Abang tau perasaan Bang Brigas dan Bang Ricky, ternyata istri hamil menambah semangat kerja meskipun hati juga was-was cemas" jawab Bang Ganesh.


...


"Astagfirullah Ganeshaaaa.. apa yang kamu lakukan sampai bisa menikah dengan gadis Kalimantan????" Bang Brigas membolak balik berkas pengajuan nikah adik kandungnya dan hanya ada nama Bentang Ceudah Navalia disana. Terlihat sudah satu bulan adik kandungnya menjalani pernikahan.


"Maaf Bang, semua terjadi dengan begitu cepat.


"Sumpah aku nggak seceroboh itu Bang. Ada beberapa insiden sampai aku harus menikahi Nava di bulan lalu" jawab Bang Ganesha.


"Lalu sekarang dimana istrimu???"


"Di kontrakan belakang Batalyon Bang" akhirnya Bang Ganesha mengakui karena tidak ingin semuanya berlarut-larut dan menimbulkan masalah pada akhirnya.


"Nanti sore bawa ke rumah Abang, kenalkan sama Bang Ricky dan Nindy juga baru besok kamu naik menghadap Danyon..!!" Perintah tegas Bang Brigas.


"Iya Bang."


...


Bang Brigas menatap tajam wajah Nava yang terus menunduk sedikit bersembunyi di belakang punggung Bang Ganesha sedangkan Bang Ricky mengamati gerak-gerik 'gadis Kalimantan' tersebut.

__ADS_1


Tidak ada suara dan kata hingga Bang Brigas menegurnya. "Kamu tidak mau melihat wajah kakak dan adik iparmu?? Saya Abangnya Ganesh dan Nindy adik iparmu..!!!"


Melihat Nava masih berdiam. Bang Ganesha mengajak Nava untuk sungkem pada Abangnya.


"Saya mohon maaf Bang, tolong jangan marah lagi..!!" Bujuk Bang Ganesha.


Nava yang ketakutan sudah cukup membuat Bang Brigas tidak tega, ia pun punya perasaan apalagi tangan Nava begitu dingin menyentuh kakinya yang juga terasa di kaki Maurin. Maurin pun memberi kode agar jangan terlampau keras pada Nava.


"Kamu ini berulah apa Ganesh.. satu keluarga ikut pusing" tegur Bang Ricky saat Bang Ganesh memilih menunduk di hadapan Bang Ricky, bukan karena adik ipar tetapi lebih kepada penghormatan pada 'kesenioran' Bang Ricky.


"Saya salah Bang, saya akan selesaikan semua masalah yang saya buat"


"Harus.. kamu tidak boleh menggantung perasaan perempuan. Mereka makhluk lembut hati."


"Mbak Nava, duduk disini..!!" Nindy mengarahkan agar Nava duduk di sampingnya. "Aku Nindy, adik kandung Bang Ganesha.. istrinya Bang Ricky." Kemudian Nindy memeluknya.


Tangis Nava pecah. Tubuhnya masih bergetar hebat. "Maafkan saya yang sudah hadir di tengah keluarga ini. Maaf..!!" Ucap Nava.


"Tidak apa-apa Mbak. Kami menerima mbak Nava dengan tangan terbuka. Yang sudah terjadi biar terjadi, nanti kami bantu menyelesaikan urusan dengan Mbak Nia" jawab Nindy langsung pada pokok perkara yang memang menjadi masalah mereka saat ini.


Ketiga pria pun saling pandang.


"Kamu benar-benar buat Abang sakit kepala Gan" kata Bang Brigas.


Bang Ricky hanya bisa memijat pelipisnya tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi nanti karena setahu dirinya Nia akan datang besok siang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2