Perisai Hati.

Perisai Hati.
38. Kalau sudah sayang.


__ADS_3

Tidak ada yang berani berkutik saat Bang Ricky mengawasi Nindy secara langsung. Kawan Nindy pun bertanya-tanya mengapa Nindy bisa sangat dekat dengan 'Om tentara' itu.


"Kalian jangan banyak tanya. Saya suaminya Nindy"


Mata para mahasiswa disana saling pandang, tak menyangka Nindy sudah bersuami dan suaminya itu adalah Pak tentara yang sangat galak.


Dosen rekan Bang Hara pun tak bersuara saking syoknya. Namun kemudian Bang Hara menjelaskan duduk persoalan bahwa Nindy selain sebagai mahasiswa juga bertugas untuk membantu kinerja para tentara sehingga tidak ada sanksi apapun dari kampus karena status administrasi Nindy pun jelas adanya bahkan akhirnya Bang Hara mengungkapkan keadaan Nindy yang tengah hamil muda agar tidak terjadi kesalah pahaman.


...


"Nindy nggak mau makan itu..!!" Rengek Nindy.


"Terus kamu mau makan apa? Ini di hutan, nggak ada yang jual martabak." Jawab Bang Ricky sudah pusing sendiri. "Makan yang ada dulu ya, besok kita turun.. Abang belikan makanan yang kamu mau" bujuk Bang Ricky kemudian menyuapi Nindy makan mie instan dan nasi.


Jauh di sudut sana Bang Hara sedang menuang makan malam Tisha. "Kamu lihat itu. Nindy sedang hamil tapi harus tidur di tempat seperti ini. Makanya hal sekecil apapun itu nanya dek. Jangan asal aja kamu" tegur Bang Hara.


"Bisa nggak sih Abang nggak marah terus. Telinga Tisha pengang rasanya." Protes Tisha.


"Sudah cepat makan. Kalau lapar kamu selalu rewel" gerutu Bang Hara.


Ekor mata Tisha hanya melirik Bang Hara yang kemudian sibuk dengan ponselnya.


"Bang, ini kok ada bubuk cabai nya?? Tisha nggak bisa makan pedas."


"Sabar dek, Abang telepon dinas dulu..!!" Kata Bang Hara.


"Iihh sok sibuk" Tisha mengangkat panci dengan tangan kosong hingga air rebusan mie tumpah menyiram tangannya. "Aaawwhh.." pekik Tisha hingga air di panci tersebut semakin tumpah di tangannya.


"Astaga dek.. ada apa??"


Bang Hara mematikan sambungan teleponnya begitu saja dan segera menolong Tisha.


:


"Baru kali ini Abang lihat perempuan yang kepintarannya hanya satu cangkir. Sudah tau panci itu panas, kenapa langsung pegang tanpa alas? Kamu mau ganti kulit???????" Tegur keras Bang Hara.


Plaaakk..

__ADS_1


Tisha menepak lengan Bang Hara. "Abang punya perasaan nggak sih??? Tisha sudah sakit masih saja di ceramahi. Apa nggak bisa obati Tisha dulu?????"


"Memangnya Abang lagi apa sekarang?? Oles roti pakai mentega??? Ini Abang oles salep di tanganmu..!!!"


Tisha memalingkan wajah mendengar suara keras Bang Hara.


Melihat wajah mendung Tisha akhirnya Bang Hara tidak tega juga. "Abang suapi makan ya??"


"Nggak usah" Tisha menyambar piring di tangan Bang Hara dan akhirnya mie tersebut tumpah di atas tanah. Tisha pun akhirnya menangis sesenggukan dan berjalan masuk ke dalam tenda.


"Astagfirullah.." Bang Hara mengusap dadanya menyabarkan hati.


"Ga.. kamu bawa persediaan makanan apa saja?" Tanya Bang Hara menyapa Om Ega yang sedang membawa kayu bakar untuk menambah api unggun.


"Bawa nasi kaleng Bang. Mau bawa apalagi yang praktis" jawab Om Ega.


"Saya kepikiran bawa tapi tidak jadi saya bawa. Apa boleh saya minta untuk Tisha?"


"Boleh Bang, ambil saja di tenda. Sudah saya keluarkan dari ransel" kata Om Ega.


"Terima kasih banyak ya. Tapi kamu makan apa?" Bang Hara balik bertanya.


"Nanti saya temani kamu makan ubi, saya mau momong si cantik saya dulu" ucap jujur Bang Hara.


"Ciyeeee.. si cantik. Awas Bang,. Ini hutan.. dua orang anak manusia yang ketiga setan. Hahaha.." ledek Om Ega.


"Kamu mau saya jungkir??" ancam Bang Hara.


"Siap salah Bang" jawab Om Ega dengan kikikan tawanya.


:


Tisha melirik piring nasi di tangan Bang Hara, sebenarnya perutnya sudah lapar tapi gengsinya sungguh melebihi rasa laparnya.


"Mau nggak, kalau nggak mau Abang makan sendiri nih?"


Mata Tisha kembali melirik, aroma nasi sangat menggangu indera penciuman nya.

__ADS_1


"Waaahh.. nasi semur ayam" gumam Bang Hara memanasi Tisha.


Tak menunggu lama perut Tisha mulai keroncongan."


"Perut siapa tuh minta tumbal" ledek Bang Hara. "Apa gunanya gengsi? Kalau kamu sampai pingsan.. Abang seret kamu ke sungai biar di makan ikan cu.pang"


Tisha sudah mau merebut piring tersebut tapi Bang Hara menjauhkannya. "Ini nasi hanya ada satu piring, kalau tumpah lagi.. alamat kau puasa sampai besok pagi. Duduk diam..!! Abang suapi..!!" Ucap tegas Bang Hara.


Mau tidak mau Tisha menurut dan membuka mulutnya saat Bang Hara menyuapinya.


//


"Alhamdulillah.. habis makannya." Hanya dengan melihat Nindy mau makan saja hari Bang Ricky begitu tenang. "Kamu bawa vitamin dan susu nggak dek?"


"Susunya habis. Kalau vitamin ada" jawab Nindy.


"Minum dulu vitaminnya. Besok kita beli susu, kasihan anak Abang" Bang Ricky mengusap perut Nindy, sudah terasa berisi saat di raba. Jiwanya sebagai seorang ayah muncul begitu saja.


Nindy meraih vitamin di sampingnya lalu meneguknya.


"Dek, kita cari penginapan saja yuk..!! Malam disini sangat dingin. Kamu nggak akan kuat" ajak Bang Ricky.


"Nindy mau lihat suasana malam di bukit" tolak Nindy.


Bang Ricky menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Hampir satu bulan nggak sama Abang.. apa kamu nggak kangen nggak rindu?" Tangan Bang Ricky menyelipkan anak rambut di belakang telinga Nindy.


"Rindu.." jawab Nindy lirih.


Bang Ricky tersenyum mendengarnya. "Mau naik atau mau turun? Abang juga rindu.. rindu sekali sama kamu"


"Naik Bang" jawab Nindy yang malu-malu manja membuat tubuh Bang Ricky terasa tersengat aliran listrik.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2