
Nindy dan Iva bertemu wajah saat Bang Ricky berangkat berdinas.
"Bisakah kita bicara?" Sapa Iva.
Nindy mengangguk dan tersenyum. "Ayo..!!"
~
"Kamu jangan salah paham, aku dan Abang menikah bukan karena cinta. Abang menyelamatkan aku dari tindak perkos**n dan menikahiku agar Isy memiliki status yang sah.
"Aku seorang wanita sepertimu Iva, katakanlah memang benar apa yang kamu katakan.. tapi sedikit banyak, di dalam pernikahan pasti menimbulkan bekas. Begitu pula aku dan Bang Yosh." Jawab Nindy. "Tapi bedanya.. aku sulit membuka hati untuk Bang Yosh.
"Inilah yang terjadi padaku dan Abang. Abang tidak mencintaiku.. dan ini sungguh" kata Iva. "Aku akan meminta cerai dari Abang"
"Kamu tidak boleh gegabah. Bagaimana kalau kamu sedang mengandung anak Bang Ricky"
Iva terdiam sejenak dan menunduk dan Nindy menahan kuat perasaannya. Kemungkinan saat ini Iva mengandung janin dari Bang Ricky sebab sejak di rumah sakit.. Nindy beberapa kali melihat Iva mual dan muntah.
...
"Ini obat sakit kepalanya Bang" Bang Hara menyerahkan obat yang di minta Bang Ricky.
"Terima kasih Har"
"Sama-sama Bang" jawab Bang Hara usai seniornya menerima obat darinya.
"Apa yang terjadi Bang, kenapa Abang masih terlihat stress?" Tanya Bang Brigas.
"Bagaimana tidak stress Bri.. Nindy menghindari Abang dan tidak mau mendengar Abang bicara, sedangkan Iva hanya menangis dalam diam. Abang pusing memikirkan dua istri" jawab Bang Ricky.
"Abang biruu lampune diiscoooo.. awak kuruu.. mikir bojo loroooo" Bang Ludoyo tanpa sadar berdendang sembari menanda tangani beberapa berkas di atas meja.
"Heehh Doyy... jungkir balik kamu..!!!! Kamu kira enak jadi saya??" Gerutu Bang Ricky jadi kesal mendengar suara Bang Ludoyo.
"Siap salah Bang..!!"
"Jungkiiirr..!!!!!" Perintah Bang Ricky.
"Siaaapp..!!"
__ADS_1
\=\=\=
Dua minggu ini suasana di rumah Bang Ricky selalu dingin seperti biasanya. Nindy yang melakukan pekerjaan rumahnya seperti biasa namun tidak menyamai apa yang sedang di kerjakan Iva. Jika Iva mencuci maka Nindy yang akan menjemurnya, jika Iva memotong bahan makanan maka Nindy yang akan memasaknya begitu pula sebaliknya namun Bang Ricky tau betul Nindy banyak mengalah apalagi saat Iva mengambilkannya makan. Nindy hanya diam menunduk pura-pura tidak melihat semua itu.
Pagi hari saat Bang Ricky akan berangkat, Iva lebih banyak mengambil posisi untuk melayani Bang Ricky sehingga Nindy mengembalikan barang yang sudah di siapkan ke dalam almari. Memang sebelum ada Nindy sikap Iva sudah seperti itu namun terkadang dirinya lupa jika di rumah itu sudah ada Nindy.
"Abang mau di masakin apa? Biar Iva masak" tanyanya lembut seperti biasa dan tidak pernah berubah. Iva mengancingkan pakaian seragam Nindy dan perlahan Nindy masuk ke dalam kamar.
"Hari ini biarkan Nindy yang melakukan semua. Kamu jaga anak-anak..!!" Pesan Bang Ricky menegur Iva secara halus.
Saat itu juga Iva baru tersadar kekeliruan nya. "Ma_af Bang..!!"
"Nggak apa-apa. Nanti kamu gantian jaga anak-anak...!!" Bang Ricky mengecup kening Iva lalu berjalan menuju kamar Nindy.
~
"Nanti kamu masakin Abang ya..!!"
Nindy menunduk menunduk dengan pandangan kosong.
"Abang berangkat dulu ya..!! Hari ini Abang pasti cepat pulang" pamit Bang Ricky mengecup kening Nindy kemudian berniat mengecup bibir Nindy tapi istrinya itu menolak.
"Kamarnya sudah Abang kunci" jawab Bang Ricky kemudian mengejar bibir Nindy lagi.
Nindy tetap menolaknya.
"Ada apa dek? Abang masih suamimu?" Frustasi menggelayuti hati Bang Ricky. Sang istri sudah sangat dekat dengannya namun ia tidak bisa mencurahkan rasa sayangnya.
"Nindy nggak mau menyakiti hati wanita lain"
"Kamu akan sakit sendiri kalau punya pikiran seperti itu. Abang ingin dekat sama kamu..!!" Kata Bang Ricky.
"Iva yang lebih berhak Bang. Apapun alasannya.. Iva istri Abang"
Dengan membawa rasa kesal. Bang Ricky meninggalkan tempat. Hatinya sedang beradu antara memaklumi dan tidak.. atas sikap Nindy padanya.
...
'Ceraikan Nindy..!!'
__ADS_1
Pesan singkat dari Nindy membuat Bang Ricky begitu terpukul.
'Ya Allah, hambaMu ini punya batas kekuatan. Hatiku begitu tersiksa. Setengah mati aku merindukan Nindy, dia yang ku cari selama ini. Yang kutitipkan namanya dalam penjagaanMu.'
Sejak Nindy kembali dalam hidupnya.. desir darah dalam diri Bang Ricky naik turun dengan cepat. Ingin rasanya memeluk sang istri dalam peraduan namun segala rasa dan rindunya terhalang keadaan yang sangat menyakitkan. Namun sekarang sang istri meminta perpisahan yang begitu ia hindari.
tok.. tok.. tok..
"Abang.. mau ikut latihan menembak?" Bang sedikit membuka pintu ruangan Bang Ricky.
"Iya.. sebentar lagi saya menyusul" jawab Bang Ricky.
:
door.. dooorr.. doooorr..
Dengan brutal Bang Ricky melepaskan tembakan meskipun tidak ada yang meleset sedikitpun dari bidikan Bang Ricky. Ia meluapkan amarahnya dalam diam.
Bang Brigas mendekap lengan adik iparnya. "Mau nongkrong nggak Bang?" Ajak Bang Brigas.
Bang Ricky menurunkan senjatanya. "Ayo..!!"
...
Bang Brigas tau perasaan Bang Ricky sedang tidak baik-baik saja. Ia pun mengajaknya ke tempat yang sepi.
"Saya tau perasaan Abang sedang tidak baik-baik saja. Disini tidak ada orang Bang. Luapkan saja..!!" Kata Bang Brigas.
Tanpa menunggu lama, Bang Ricky melepaskan seragam luarnya lalu membuangnya kasar. "Aku lelaaaahh..!!!!!" Bang Ricky menendang kasar ranting dan bebatuan di sekitarnya. "Aku rindu Nindy.. aku rindu istrikuuu..!!!!!"
Tangis Bang Ricky begitu lepas meluapkan perasaan, meraung-raung hingga suaranya nyaris hilang. Bang Brigas mengerti.. mencintai memang butuh banyak pengorbanan dan tidak bisa di arahkan pada siapa hati akan berlabuh seperti dirinya yang kini mencintaimu Maurin hingga enggan jika harus kehilangan wanita yang saat ini telah kembali mengandung buah hatinya.
.
.
.
.
__ADS_1