
Pembaca yang baik, jika bosen dengan cerita Nara Monggo skip tanpa jejak. Gaya bahasa Nara sama???? Wajar, pembuatnya satu kepala. Beda hal jika orang lain yang menulis. Jika pembaca ingin baca sesuai dengan keinginan pembaca perseorangan.. monggo buat cerita sendiri dan silakan mendukung karya terfavorit 'anda' sendiri..!!!! Nara penuh kekurangan.
Tanyakan pada diri 'anda'..!! mengikuti cerita tapi tidak pernah mendukung dan malah meninggalkan 'cuitan manis'. Taukah dengan perasaan penulisnya??.
#Nara koreksi diri
#Isi hati author remukan telo
🌹🌹🌹
Bang Ricky sudah melepas pakaiannya, dengan style celana pendek dan bertelanjang dada ia segera masuk ke dalam kamar.
Pandangan matanya tertuju pada Nindy yang tidur tidak mengenakan selimut. Hanya dress satin tipis membalut tubuh Nindy yang bahkan tidak bisa menghalangi rasa dingin.
Perlahan Bang Ricky menggelar selimut lalu naik ke atas ranjang menutup tubuhnya dan Nindy tak lupa Bang Ricky mengecup keningnya. Tangan itu meraba perut Nindy yang sudah mulai besar. "Abang sayang sama Nindy, sayang sekali" bisiknya di telinga Nindy.
Lamat Bang Ricky merasa ada gerakan kecil menendang telapak tangannya, seperti kedutan tapi lebih terasa kuat. Bang Ricky tau itu gerakan dari buah hatinya.
Niatnya ingin tidur pun berubah haluan dan menepi mendekati perut Nindy. "Sayangnya Papa lagi apa nak? Mainnya pelan-pelan, Mama tidur..!!" Bisik Bang Ricky.
Entah apa saja yang di bicarakan Bang Ricky dengan calon bayinya hingga tak terasa hari sudah menjelang subuh.
...
Satu minggu ini Bang Hara sama sekali tidak tau kabar tentang Tisha. Sejak kemarin dirinya mencemaskan gadis itu dan karena kecemasannya itulah Bang Hara menemui Tisha di kost nya.
"Kenapa kamu menghindari Abang???" Tanya Bang Hara.
"Nggak apa-apa. Abang kembali kerja saja..!! Tisha mau kuliah" usir Tisha.
"Kita harus bicara dek..!! Jangan menghindari Abang terus..!!" Pinta Bang Hara.
Tisha mendorong lengan Bang Hara agar secepatnya keluar dari kostnya yang hanya berupa kamar tidur saja. "Keluaaarr..!!!!!!"
Tak sengaja mata Bang Hara melihat benda kecil di atas meja. Ia pun mendekatinya. Tisha berusaha merebut tapi tangannya kalah cepat dari Bang Hara. "Ini test pack punya kamu??" Tanya Bang Hara.
"Itu punya teman Tisha"
"Kamu jangan bodohi Abang..!! Sejak kapan kamu punya teman perempuan??? Temanmu hanya Nindy dan semua mata tau kalau Nindy sedang hamil" bentak Bang Hara. "Punya siapa???" Bang Hara mengulang pertanyaan nya bentakan itu jauh lebih keras sampai kepala Tisha tiba-tiba berat dan pusing.
Saking takutnya Tisha sampai oleng tapi akhirnya Bang Hara bisa menahannya.
"Cepat katakan..!!!!" desak Bang Hara.
"Punya Tishaaa.. Tisha hamil Bang, bagaimana???" Tisha meremas kuat lengan Bang Hara, terlihat sekali Tisha sangat frustasi dengan keadaannya.
Bang Hara mengusap wajahnya. "Kenapa kamu malah membatasi komunikasi sama Abang?? Apa maumu???"
Tak ada kata dari bibir Tisha. Pikirannya sudah penuh.
__ADS_1
"Nanti siang Bang Revan datang karena ada tugas disini. Biar Abang bicara sama Abangmu..!!" Kata Bang Hara.
"Jangan Bang, Bang Revan pasti marah besar." Cegah Tisha.
"Anak ini akan semakin tumbuh besar dalam rahim mu. Dia punya ayah"
"Nggak, Tisha nggak mau" tak hentinya perdebatan terus terjadi antara Bang Hara dan Tisha.
"Abang berhak melindungi anak ini. Dia anakku..!!!" Ucap Bang Hara menghentikan kepanikan Tisha.
//
Bang Ricky memeluk Nindy yang menghindarinya usai menghidangkan sarapan pagi.
"Masih marah ya sama Abang? Abang minta maaf..!!"
"Apa Nindy harus tertawa melihat suaminya kabur ke tempat wanita lain?" Jawab Nindy masih menyimpan rasa kesal.
"Wanita lain yang mana? Abang hanya pulang untuk satu wanita" dengan lembut Bang Ricky mengecup pelipis Nindy.
"Semalam Abang pergi kemana?" Tanya Nindy
"Sholat di masjid" jawab jujur Bang Ricky.
Nindy hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Sayaang" bisik Bang Ricky di telinga Nindy. Suara Bang Ricky membuat bulu kuduk Nindy merinding. "Abang pijat yuk..!!" tanpa menunggu persetujuan Nindy, Bang Ricky langsung mengangkat Nindy masuk ke dalam kamar dan mengurungkan niatnya untuk berangkat apel pagi.
Siang hari Bang Ganesha menjemput Nia di bandara. Nia sudah sangat rindu pada tunangannya itu, ia berniat memeluknya tapi terlihat sangat jelas Bang Ganesha menghindarinya.
"Kenapa Bang? Abang tidak rindu Nia?" Tanya Nia merasakan aura yang berbeda dari Bang Ganesha.
Tak ada jawaban dari Bang Ganesha. Wajah pria itu datar saja.
:
Sepanjang perjalanan pun Bang Ganesha lebih banyak diam tidak seperti Nia yang lebih sering bertanya ini dan itu.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di rumah dinas Bang Ganesha.
"Ini rumah dinas kita Bang?" Tanya Nia.
"Ini rumah Abang" jawab Bang Ganesha.
"Ijin Danton, barang Bu Nia di letakan dimana?" Tanya seorang anggota Bang Ganesha.
"Disini saja. Terima kasih ya..!!"
"Siap Danton."
__ADS_1
Fokus Nia terpecah saat seorang wanita membuka pintu rumah tersebut. Nava menunduk tak sanggup melihat wajah Nia yang anggun dan cantik khas cantiknya wajah putri pasundan.
"Ayo masuk.. kita bicara di dalam..!!"
Nia hendak menggandeng tangan Bang Ganesha tapi Bang Ganesha sudah lebih dulu menggandeng tangan Nava.
~
"Maaf Nia, Abang sudah menikah dengan Nava"
Terasa sesak hati Nia mendengar semua pengakuan Bang Ganesha. Ingin rasanya menjerit karena perjuangan tujuh tahun cinta mereka berakhir sia-sia. Dirinya yang telah menemani Bang Ganesha dari titik nol, belum menjadi apa-apa hingga kini sudah menjadi seorang pria yang sukses.
Dalam hati Bang Ganesha tak kalah sesaknya namun takdir sudah berkata lain. Saat ini sudah ada hati yang harus di jaga dan kini Nava sudah memenuhi jiwa dan batinnya. Sebegitu dahsyatnya kuasa Tuhan hingga dirinya tak sanggup menahan perasaannya untuk wanita yang tengah mengandung buah hatinya.
Nava tidak tahan untuk tidak bersuara ia mendekati Nia dan menyentuh tangan nya. "Mbak Nia, Nava mohon maaf. Nava yang salah"
Nia bersandar lemas, kesadarannya nyaris hilang. "Kenapa kalian lakukan ini di belakang Nia?? Apa salah Nia???" Tanya Nia dengan pilunya. "Kamu siapa? Sejak kapan kamu masuk di tengah kehidupan kami???" Nia menatap mata Nava.
"Nava nggak bermaksud mbak, tolong ampuni Nava..!!"
"Dasar kau wanita rendah" Nia yang kalut mengangkat tangan dan melayang bersiap menampar Nava tapi Bang Ganesha mencekalnya.
"Jangan sakiti istri saya, salahkan saya Nia..!!"
Nia semakin sakit hati karena sekarang kata-kata Bang Ganesha seakan berjarak dengannya.
"Nia hanya ingin tau apa salah Nia sampai Abang menduakan Nia???" Sungguh sesak hati Nia merasakan semua ini.
"Kamu tidak salah, Nava juga tidak salah.. saat kejadian hari itu, Abang dengan sadar da tanpa paksaan memutuskan untuk menikahi Nava."
Nava tak sanggup lagi menahan beban perasaannya, rasa bersalah begitu menghantui pikiran dan hatinya. "Nikahilah Mbak Nia Bang, Nava akan mundur. Nava salah sudah menjadi penengah di antara kalian."
"Navaaa.. tenang dulu..!!"
"Aghhgghh" tekanan batin Nava begitu kuat, tak sanggup menanggung semua rasa bersalahnya, Nava ambruk hingga kepalanya menghantam dinding.
"Navaaaa..!!" Bang Ganesha panik dan segera mengangkat Nava dan memindahkannya ke dalam kamar. "Deekk.. Navaa"
Saat itu Nia bisa melihat rasa cinta yang Bang Ganesha yang besar untuk Nava. Langkahnya tidak pasti, wajahnya datar terus menatap Nava.
Refleks Bang Ganesha berdiri memasang badan melindungi Nava.
"Nia tidak berniat jahat Bang. Nia juga perempuan" kata Nia.
.
.
.
__ADS_1
.