
Suasana sedikit lebih landai. Bang Ricky meminta pembahasan di lakukan di rumahnya saja agar urusan ini tidak sampai meluas pada ranah kantor.
Sesampainya di rumah, Bang Ricky langsung duduk membanting punggungnya di sofa. Kepalanya terasa berdenyut dan pening memikirkan masalah juniornya.
"Dek..!!" Panggil Bang Ricky.
Nindy pun keluar dari kamar mendengar suara Bang Ricky. "Kenapa Bang?"
"Tolong buatkan Abang teh hangat donk sayang. Abang sakit kepala" pinta Bang Ricky. "Hhhkkkkk... Ya Allah, perutku" Bang Ricky menggelinjang menggigit bibirnya merasakan sakit yang berbeda di sekujur tubuhnya.
tok.. tok.. tok..
"Bang" sapa Bang Hara dari teras.
"Masuk Har..!!"
Pintu terbuka dan Bang Hara masuk ke dalam rumah Bang Ricky. "Ijin Bang..!!"
"Duduk..!!!" Perintah Bang Ricky.
Nindy sudah paham jika ada pembicaraan antar lelaki yang harus di selesaikan. Nindy segera menuju dapur dan membuatkan suguhan untuk tamunya.
:
"Siap salah Bang, saya memang ceroboh. Saya sungguh tidak menyangka malam itu akan menjadi petaka hari ini"
"Sudahlah, jangan bahas lagi yang sudah terjadi. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah bagaimana caranya agar Tisha kembali kesini. Dia mengandung anakmu, darah dagingmu. Apa kamu tega membiarkan Tisha dalam tekanan sendirian?" Kata Bang Ricky.
"Sejak kejadian itu saya sudah menaikan surat pengajuan nikah. Saya tidak tinggal diam Bang"
"Baguslah Har, setidaknya kamu tidak lari dari tanggung jawab mu, dan lagi saya harap para anggota tidak mengetahui semua ini. Kita adalah contoh bagi anggota kita, jika pemimpin nya saja amburadul bagaimana dengan anggota nya? Masalah Sertu Irwanto sudah mencoreng nama kompi dan menyeret batalyon. Saya tidak mau kecerobohan mu akan menimbulkan stigma negatif" ucap tegas Bang Ricky.
"Siap Abang, saya paham."
__ADS_1
"Di minum Har kopinya. Nindy buatkan kopi tuh" Bang Ricky menguatkan diri untuk bicara. Hari ini ia merasakan sekujur tubuhnya sakit dan tidak enak badan.
"Siap Bang" Bang Hara menyeruput kopinya yang sudah tidak seberapa panas. Ekor matanya masih sempat melirik Bang Ricky. "Abang kenapa? Masuk angin?"
"Mau saya bantu kerokin badan Bang?"
"Nggak usah, biar Nindy saja.
Bang Hara mengangguk kopinya, ia terus memperhatikan keadaan seniornya.
ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..
Bang Hara mengambil ponsel di sakunya, terlihat nama Pak Panji disana. Bang Hara pun mengangkatnya.
-_-_-_-_-
Malam itu rumah Bang Ricky lumayan rame. Seluruh permasalahan di pusatkan di rumahnya. Sebagai orang yang di tuakan tentu saja selalu ada ruang bagi yang membutuhkan.
"Awalnya saja sudah seperti ini, Hara tidak akan bisa mencintai Tisha dengan sepenuh hati Yah" kata Bang Revan menolak tegas lamaran Bang Hara hingga ia menyobek kertas pengajuan nikah yang sudah jadi.
"Revan..!! Ayah tau kamu cemas, tapi bagaimana anak yang ada dalam perut Tisha???" Kata Ayah Panji.
"Ungsikan dia sampai melahirkan, nanti anak Tisha biar aku saja yang merawatnya. Aku mampu membesarkan dia" ucap Bang Revan dengan egois.
"Bang Revan, Om Panji.. maaf kalau Nindy menyela dan ikut campur." Kata Nindy kemudian ikut angkat bicara. Ia berjalan pelan memegangi perutnya yang mulai membesar, Bang Ricky pun memberikan kursinya untuk sang istri dan ia mengambil kursi yang lain. "Om.. apa tidak sebaiknya kita menanyakan keinginan bumil, Nindy tau saat ini semua posisi memang serba salah. Nindy yakin tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi.. pasti ada hal yang melatar belakangi semua permasalahan termasuk kehamilan Tisha. Nindy tidak membenarkan kekhilafan Tisha dan Bang Hara, tapi Nindy yang sedang mengandung pasti ingin lebih dekat dengan ayahnya si adek, ingin di sayang, ingin di manjakan. Awal kehamilan Nindy sangat berat karena jauh dari Abang"
Mendengar isi hati sang istri, perasaan Bang Ricky menjadi tersentil dan merasa sangat bersalah. Waktu yang seharusnya bisa di pergunakan untuk memanjakan Nindy malah harus terpotong karena perkenalan suasana kampus dan tugasnya sebagai Danki yang menumpuk membuatnya harus sementara terpisah sejenak.
"Nggak, saya nggak mau Tisha nikah sama Hara..!!" Bang Revan tetap pada pendiriannya yang keras hati. Ia menyeret Tisha keluar dari rumah.
Bang Hara pun sigap mengejarnya. "Bang.. tolong, jangan kasar sama Tisha..!!" Pinta Bang Hara.
"Apa hak mu? Kamu hanya pria b******n yang bisanya merusak kehormatan wanita." Bentak Bang Revan kemudian kembali menyeret Tisha.
__ADS_1
Papa Panji panik melihat situasi ini sampai akhirnya Tisha ambruk dengan sempurna.
"Tishaaa..!!" Bang Hara hendak menolong bumil namun Bang Revan lebih dulu mengangkatnya.
"Ini semua karena kamu Hara..!!!"
~
Hingga malam tiba Tisha tak kunjung sadarkan diri. Mama Nisa semakin sedih melihat keadaan putrinya.
"Aku mau bawa Tisha pergi Pa" kata Bang Revan.
"Sudah cukup Revan. Papa akan menikahkan Tisha dan Hara"
"Tapi Pa......"
"Keputusan Papa sudah bulat. Adikmu sangat membutuhkan Hara di sampingnya. Jika bukan karena cinta, mereka tidak mungkin melakukannya. Penolakan Tisha bukan karena tidak cinta, tapi dia menyadari betul kesalahannya." Jawab Papa Panji.
Bang Revan terdiam. Tak ada yang salah dari ucapan Papanya.
"Ikhlaskan adikmu menikah. Tisha akan baik-baik saja bersama Hara" kata Papa Panji.
"Baiklah, aku merestui mereka. Tapi kalau sampai Hara menyakiti Tisha, aku sendiri yang akan turun tangan Pa..!!"
"Siap Bang, hukuman apapun akan saya terima jika menyakiti Tisha" jawab Bang Hara.
.
.
.
.
__ADS_1