Perisai Hati.

Perisai Hati.
67. Syok berat.


__ADS_3

"Masih mual Va. Abang antar ke Dokter ya..!! Dua bulan ini kamu mual terus." Ajak Bang Ricky.


"Iya Bang" jawab Iva takut.


Nindy pun menghindar tak berani ikut campur urusan kamar Bang Ricky dan Iva.


...


"Maag kronis dan asam lambung naik." Kata dokter Adnan.


"Penyebabnya apa?" Tanya Bang Ricky.


"Stress, banyak pikiran Rick."


Bang Ricky mengusap rambut Iva. Ia cukup tau akar permasalahan Iva.


"Kamu tunggu di luar sebentar ya Va. Abang mau bicara sama Adnan urusan pekerjaan. Mumpung ketemu disini..!!" Kata Bang Ricky.


"Iya Bang."


~


"Amaan Ric.. aku ini dokter. Aku bisa pastikan seribu persen Iva tidak hamil. Cek darah ini sudah akurat. Iva hanya asam lambung"


"Alhamdulillah Ya Allah" Bang Ricky mengusap wajahnya. Dadanya seakan plong tanpa beban. "Seingatku, aku juga lepas di luar. Itu pertama dan terakhir kali aku menyentuh Iva. Cukup itu saja. Nggak sanggup lagi aku jadi pengkhianat. Jahat sekali aku menyakiti hati Nindy"


Bang Adnan tertawa mendengarnya. "Baru kali ini ada suami yang takut setengah mati kalau istrinya hamil. Di kasih yang enak pun menolak, kalau aku mah sikat saja Rick" kata Bang Adnan dengan sengaja.


"Enak hanya sesaat, manis saat lepas. Pahit getir kau rasa pada akhirnya. Satu istri saja cukup Ad." Jawab Bang Ricky.


"Okeeeyy.. Kapten Ricky yang tebal iman." Bang Adnan masih mengurai tawanya. "Oiya Rick.. kalau mau test Drive sama Nindy bulan depan saja ya. Pas sekali Nindy sudah pulih. Aman lah lepas landas"


Bang Ricky pun tersentak mendengarnya.


"Kamu sudah nabung?" Tanya Bang Adnan curiga.


"Yaaaaaa.. nggak lah." Jawab Bang Ricky terdengar tidak meyakinkan di telinga.


"Aku pegang kata-katamu ya. Hamil di masa rawan itu sangat beresiko lho Rick" kata Bang Adnan menegaskan.


"Iyaaaa"


"Masalahnya aku ragu. Pistolmu ngadat kalau sama Iva. Aku takut giliran sekarang ada Nindy.. Pistolmu malah aktif"


"Nggaak pot. Nggak percaya amat sih lu"


"Lain soal aku bisa percaya. Kecuali yang ini" jawab jujur Bang Adnan.


-_-_-_-_-


Iva menahan mual dan langsung masuk ke dalam kamar.


Nindy pun menjauh dari Bang Ricky.


Ingin rasanya Bang Ricky mengulang kembali bercinta dengan sang istri namun waktunya tidak pernah tepat.


"Mau kemana?"

__ADS_1


"Mau menidurkan anak-anak." Jawab Nindy kemudian menuju kamar belakang.


Bang Ricky mengikutinya tapi ternyata anak-anak sudah tidur pulang. Abang Isyad memeluk adiknya.


"Anak-anak sudah tidur, sekarang giliran mamanya" Bang Ricky mengangkat tubuh Nindy seakan tak peduli dengan Iva yang sedang berada di kamar lain.


"Baaang.. jangan..!!" Tolak Nindy.


"Kamu diam atau Iva bangun..!!" Ancam Bang Ricky.


"Tolong Bang..!!"


Bang Ricky pun tak sanggup melihat sorot mata kesedihan dari Nindy. "Kapan Abang bisa memelukmu lagi?"


\=\=\=


"Hhhhhhggg" Nindy terus saja muntah pagi ini. Tubuhnya sampai demam.


Bang Ricky memijat tengkuk Nindy dengan sabar. "Kecapekan kamu dek. Istirahat saja ya..!!"


"Nindy nggak apa-apa Bang" jawab Nindy menepis tangan Bang Ricky.


Tak menghiraukan ucapan Nindy. Bang Ricky segera membawa Nindy ke dalam kamar.


"Nindy kenapa Bang?" Tanya Iva.


"Pusing.. kecapekan Va."


"Istirahatkan saja Bang, biar Iva kerokin..!!"


"Dari kemarin kamu makan sedikit sekali. Kamu mau apa?" Tanya Bang Ricky.


"Buah rambai Bang, tapi Nindy pengen cari sendiri..!!"


"Ya sudah, kamu ganti pakaian dulu. Abang tunggu di mobil." Kata Bang Ricky. "Kamu mau ikut nggak Va?"


"Nggak Bang, Iva di rumah saja..!!"


...


Bang Ricky menghentikan mobilnya di tempat yang lumayan sepi, jalan alternatif yang hampir tidak pernah di lewati penduduk sekitar.


"Kenapa berhenti disini Bang?" Tanya Nindy.


"Disini nggak ada Iva. Kamu mau alasan apalagi? Kita harus bicara berdua dari hati ke hati."


"Apalagi Bang? Iva sudah hamil. Nindy tau diri dengan keadaan ini?"


"Siapa yang bilang Iva hamil??? Sifat sok tau mu itu sejak dulu sudah berkerak di kepala" kata Bang Ricky.


"Iva selalu mual, sudah pasti Iva hamil. Abang nggak usah bohong"


"Sebelum itu terjadi.. lebih baik kamu saja yang hamil..!!" Bang Ricky mengangkat dagu Nindy dan menekan tengkuk istrinya itu sampai Nindy gelagapan. Bang Ricky pun memberi jeda pada Nindy. "Abang minta maaf sudah menyakiti hatimu. Jangan cemburu..!! Percayalah hati Abang tidak pernah berpaling.. Abang hanya..........." Mata Bang Ricky memerah berkaca-kaca, takut mengakui karena takut menyakiti perasaan Nindy.


Nindy memalingkan wajahnya juga menyimpan lukanya sendiri. Luka yang seharusnya tidak boleh ia rasakan karena suaminya pun memiliki istri yang lain.


"Tidak hanya hatimu yang sakit dek. Abang juga. Biarkan Abang egois. Abang ingin memiliki kamu seutuhnya. Maaf kalau Abang terpaksa melakukannya dek. Abang akui, Abang setengah mati merindukanmu, tapi hidup ini memang penuh perjuangan dan pengorbanan. Kamu harus dan memang wajib hamil anak Kapten Ricky agar posisimu tidak goyah. Hanya itu caranya agar kamu tidak terlepas dari Abang." Bang Ricky pun menurunkan sandaran jok Nindy kemudian beralih posisi.

__ADS_1


"Abaaang.. Nindy...............!!!"


Tak ada lagi jawaban karena Bang Ricky sedang kalap gelap mata.


~


"Aaaaaaahh..." Nindy memercing merasakan perutnya tertekan tubuh Bang Ricky.


"Tahan sebentar lagi..!!" Bang Ricky sungguh menikmati pelepasan kali ini, tuntas, puas penuh kelegaan. Beberapa saat kemudian ia menarik tubuhnya dan merebahkan diri di jok kemudi. Matanya terpejam merasakan lelah dan terkapar tanpa daya tak mengingat berapa kali naik dan turun bersama Nindy.


"Perut Nindy sakit Bang." Nindy menggoyang lengan Bang Ricky. Tubuhnya pun terasa sangat lemas.


"Hhh.." rasanya tak sanggup menjawab lagi. Bang Ricky hanya menggenggam tangan Nindy sebagai respon.


"Ayo beli buahnya Bang..!!"


Mendengar rengekan Nindy.. Bang Ricky membuka matanya dan membereskan diri. "Ayoo.. sabar ya..!!"


:


Bang Ricky menghentikan mobilnya di satu lapak buah.


"Bu..." sapa Nindy.


Pedagang buah tersebut menoleh dan ternyata ibu tersebut adalah Yani.


"Dasar kau wanita iblis. Masih hidup kau rupanya ya..!!" Pekik Yani.


Bang Ricky segera berlari menghampiri. Belum sampai Nindy menjawab, Yani sudah mendorongnya hingga Nindy terjungkal.


"Astagfirullah.." syukur tangan Bang Ricky masih sanggup menahan tubuh Nindy.


Bang Ricky sudah mengangkat tangan, nyaris khilaf menampar Yani.


"Baaang..!!!!! Aaaaaaahh..!!!!!" Nindy sampai menjerit mencengkeram lengan Bang Ricky.


Perhatian Bang Ricky pun teralihkan. "Kenapa??? Ada apa???? Jujur sama Abang..!!!!" Suara Bang Ricky menekan lebih kencang karena Nindy semakin membuat hatinya resah.


"Nindy sudah telat haid Bang"


"Apaaaa?????" Ya Allah dek. Kamu ini benar-benar ya. Kenapa baru bilang?????" Bentak Bang Ricky kemudian mengangkat Nindy kembali ke dalam mobil.


"Nindy nggak mau ganggu rumah tangga Abang sama Iva. Kasihan anak di perut Iva. Nindy nggak akan biarkan Iva hamil sendirian"


"Anak lagi.. anak lagi. Buka telingamu. Iva nggak hamil." Jawab kesal Bang Ricky.


"Nindy nggak mau jadi kepik di antara kalian." Ucap Nindy terisak.


"Bagus sekali kepik. Levelmu sudah laron" jawab Bang Ricky semakin kesal bercampur cemas. "Duuh Gustii.. Ya Allah..!!" Bang Ricky mengusap dadanya yang mendadak merasa jantungan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2