Perisai Hati.

Perisai Hati.
22. Kata suami istri.


__ADS_3

"Ternyata... Kamu dan Danton kompi A ada main" seringai Bang Irwanto terdengar penuh ancaman. "Bagaimana reaksi Danki Ricky kalau tau istrinya serong dengan pria lain??"


Nindy tak menggubris ucapan Bang Irwan dan segera menemui Abangnya di pintu belakang Batalyon.


~


"Bohong..!!"


"Sudah Nindy bilang, Bang Ricky nggak pernah kasar sama Nindy..!!"


"Lalu kenapa pergelangan tanganmu biru memar???" Selidik Bang Brigas.


"Ya kemarin Nindy nggak sengaja menghantam meja." Kata Nindy.


"Kamu pikir Abangmu ini bodoh???? Ini kekerasan fisik dek. Di apakan saja kamu sama Bang Ricky????? Apa selama ini juga Bang Ricky mengg***i kamu dengan kasar???" Tak hentinya Bang Brigas menyelidik.


"Nggak Bang"


"Memangnya Abang tidak tau kalau kamu sama Bang Ricky tidak pernah akur" suara bentakan Bang Brigas lumayan mengagetkan Nindy.


Dari jauh, Bang Ricky memicingkan matanya melihat perdebatan antara Bang Brigas dan istrinya. Hatinya yang masih kesal tak karuan malah harus melihat adegan Nindy menangis karena bentakan Bang Brigas. Ia pun segera menghampiri.


"Kalau Bang Ricky hanya bisa menyakitimu saja, lebih baik pisah saja kalian..!!!"


"Apa-apaan omongan mu itu Long.. nggak tau aturan..!!!!!!" Tegur keras Bang Ricky.


"Abang atau saya yang tidak tau aturan??? Saya ijinkan Abang menikahi Nindy bukan untuk di sakiti. Kalau Abang nggak bisa menyayangi dia, biar saya yang menyayangi dia..!!!!!!"


Di balik gedung tak jauh di sana, Bang Irwanto tersenyum puas lalu meninggalkan tempat.


"Ayo ikut Abang..!!" Bang Brigas menarik tangan Nindy tapi Bang Ricky menepis dan berdiri mengarahkan Nindy ke belakang punggungnya.


"Kamu ingat baik-baik..!! Nindy istri sah saya Long. Tidak ada hak kamu membawanya pergi tanpa ijin dari saya..!!" Kata Bang Ricky.


"Nindy.. kamu ikut Abang..!!!!" Bentak Bang Brigas hendak menarik tangan Nindy.


"Kita bicara baik-baik Long, ada yang harus kamu tau."


"Persetan..!!!!!!!"


Nindy memeluk punggung Bang Ricky dengan erat. "Jangan Bang, Abang sudah janji. Nindy janji akan jadi istri yang baik..!!"


"Abang mencoba menyelamatkan kamu Nindy, tapi kalau memang kamu lebih memilih laki-laki ini. Kau tanggung sendiri akibatnya..!!!!!!" Bang Brigas meninggalkan Nindy dengan rasa marah tak terkira.

__ADS_1


~


"Kita pulang saja ya, nggak mungkin kamu bertemu ibu-ibu yang lain dengan wajah sembab seperti ini." Wajah Bang Ricky nampak tidak bersemangat. Semalaman tidak tidur, hatinya resah. Sejak tadi ubun-ubun nya terasa panas. Tidak ada yang tau betapa tersiksanya batin setiap berdekatan dengan Nindy namun tidak sampai hati jika sampai Nindy trauma atau menangis ketakutan.


"Nggak apa-apa. Nindy cuci muka saja Bang nanti pakai make up lagi. Ibu-ibu juga tau kalau Nindy kurang sehat" jawab Nindy.


"Ya sudah ayo, Abang antar ke toilet..!!"


"Nindy bisa sendiri Bang"


"Abang nggak mau terulang lagi kejadian yang kemarin" jawab Bang Ricky. "Mulai hari ini, kemanapun kamu pergi harus dengan sepengetahuan dan seijin Abang"


Nindy melirik Bang Ricky. "Dasar Om-om, pasti mau nakal lagi ya??" Ucap Nindy begitu menggemaskan dan kembali menguji nalurinya sebagai seorang pria.


"Memangnya kenapa? Apa kamu nggak kangen di 'ehm' sama Abang?" Tanya Bang Ricky dengan senyum genitnya.


"Kangen lah" jawab Nindy kemudian berjalan mendahului Bang Ricky.


Mata Bang Ricky membulat besar seakan tak percaya pendengaran nya. Senyumnya hilang berganti syok. "Yang bener dek???"


"He'emb" pipi Nindy memerah malu-malu.


"Asyiiikk.. nanti malam Abang dapat jatah tilang donk ya..!!"


"Abang tagih lah, hardware sudah dooll semua minta di service." Bang Ricky melangkah masuk berniat masuk bersama Nindy ke dalam kamar mandi tapi Nindy mendorongnya.


"Iiiihh.. Abang di luaaarr..!!!!" pekik Nindy.


...


Bang Brigas bingung melihat kedekatan Bang Ricky dan Nindy. Tangan Bang Ricky menggamit pinggang Nindy begitu juga sebaliknya. Seakan tak ada paksaan dan tekanan, mereka berdua tidak ingin saling berjauhan.


"Apa aku salah?? Sejak awal aku merasa Bang Ricky memang sayang sekali dengan Nindy, tapii.. darimana Nindy mendapatkan semua memar itu?" Gumamnya kemudian berlalu.


Udara di sekitar Batalyon dan kompi memang dingin. Nindy menyilang kan kedua tangan menggosok lengannya. Tau Nindy merasa dingin, Bang Ricky melepas jaket olahraga dan memakaikan pada Nindy.


Nindy melirik Bang Ricky. "Tumben Abang baik sekali. Apa karena perkara jatah?" Pandangan Nindy kembali pada ibu-ibu yang tengah berlomba.


"Iyalah.. apalagi. Abang nggak ada pilihan lain." Bang Ricky mendekap Nindy kemudian mengecup puncak kepalanya. "Punya kasihan sedikit lah kamu sama suamimu."


Nindy ingin berontak tapi Bang Ricky semakin erat mendekapnya dan Nindy merasakan deru nafas tak beraturan juga 'sesuatu' yang menekan kuat di sekitar punggungnya.


Tangan Nindy mengarah ke belakang dan wajahnya memerah saat mulai menyadari 'sesuatu', lirikannya pun kembali menatap tajam ke arah Bang Ricky.

__ADS_1


"Apa tuuhh..?????" Ledek Bang Ricky berbisik di telinga Nindy.


"Bang.. Nindy nggak suka lho..!!" Ancam Nindy.


"Hhssssttt.. pelankan suaramu. Nanti saja protesnya di dalam kamar kita..!!" Bang Ricky semakin gencar nakal menggoda.


"Mulut buaya."


Bang Ricky tersenyum geli mendengarnya. "Kamu ini jual mahal sekali, padahal belum kena lidah buaya milik Lettu Ricky dek."


...


Acara lomba telah usai untuk hari ini tapi Bang Ricky masih berbincang dengan para anggota yang lain.


"Ric, sepertinya istrimu nggak enak badan" kata Bang Prasetya melihat Nindy cemberut sembari mengacak-acak tas Bang Ricky bagai anak kucing yang penasaran dengan barang baru.


Bang Ricky menoleh ikut melihat arah pandangan Bang Prasetya. "Iya Bang. Dari semalam sudah nggak enak badan" jawab Bang Ricky.


"Kamu pulang saja. Kasihan Ric, siapa tau hamil muda"


"Abang ini pandai sekali bergosip. Saya menikah baru dua minggu Bang."


"Nggak ada yang nggak mungkin Ric. Auranya persis seperti istri saya. Ngambeknya juga, suka acak-acak tas Abang sampai berantakan." Jawab Bang Prasetya. "Lagipula kamu yang menikah, masa nggak tau jadwal palang merah nya istrimu??"


Tak lama Om Ega berlarian tergopoh-gopoh menenteng tas kresek di tangannya.


"Ijin Dan.. ini jamunya, sudah sama plusnya sekalian"


"Astagfirullah hal adzim.. Egaaaa..!! Duwe lambe kok bodhol tenan" Bang Ricky menepuk dahinya karena mulut Om Ega yang tidak bisa menyimpan rahasia.


"Oooohh.. Danki mau cek rudal serbu rupanya."


"Ijin Bang, saya masuk angin" alasan Bang Ricky sudah tak enak hati karena ulah Om Ega.


Bang Prasetya pun langsung merangkul pundak Bang Ricky. "Nggak usah main rahasia sama saya. Saya tau rasanya jadi pengantin baru."


"Siap Abang" wajah Bang Ricky sudah kebakaran bagai ufuk tenggelam sembari melirik Ega dengan rasa dongkol.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2