Perisai Hati.

Perisai Hati.
34. Perasaan yang tersimpan dalam.


__ADS_3

Nindy terlihat sangat kecewa saat Bang Ricky hanya 'bermain-main' saja dengannya. Bang Ricky tau Nindy sangat kecewa, hatinya pun tak kalah tersiksa namun calon bayinya masih sangat kecil juga luka Nindy belum sepenuhnya pulih, tentu saja dirinya tidak tega meskipun hasratnya sudah menjulang tinggi naik hingga ubun-ubun kepala.


Satu kecupan di bibir ia hadiahkan untuk menenangkan Nindy. "Abang mandi dulu ya, kamu cepat tidur..!! Besok pagi kamu berangkat.


***


Bang Ricky menutup pintu mobil saat Nindy akan berangkat menuju asrama tempat kuliah. "Secepatnya kabari Abang kalau sudah sampai..!!"


"Kami jalan dulu Bang..!!" Pamit Bang Hara.


"Hati-hati. Jaga istri saya..!!" Pesan Bang Ricky entah yang keberapa kalinya.


Nindy meraih tangan Bang Ricky lalu mencium punggung tangannya.


Bang Ricky tak hanya mengecup keningnya. Bang Ricky pun memeluk erat tubuh Nindy seakan tidak ingin berpisah. "Banyak istirahat disana dan jangan terlalu memforsir tenaga. Secepatnya Abang temui kamu disana" kata Bang Ricky.


Nindy mengangguk tak bisa merasakan hatinya saat ini.


Mobil Nindy berangkat, Letnan Ricky masih terpaku hingga mobil itu tak lagi terlihat.


"Saya ijin tidak masuk ya. Nggak enak badan" alasan Bang Ricky pada para


:


Bang Ricky melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Saat ini rumah itu terasa kosong, sunyi dan sepi tanpa suara Nindy. Belum ada satu jam Nindy pergi, rasanya ia sudah tak sanggup hidup 'sendiri'. "Cepat pulang ya sayang.. Abang rindu"


Ia membuka pintu kamar lalu merebahkan diri di atas ranjang, tangannya meraih ponsel dan memperhatikan foto Nindy di galeri foto ponselnya, foto yang di dominasi wajah sang istri hingga akhirnya tertidur memeluk guling sembari menatap foto cantik Nindy.


...


Bang Brigas berkali-kali menghubungi Bang Ricky tapi tidak ada jawaban dari seniornya itu padahal mereka sudah ada janji untuk membahas kasus Sertu Irwanto.


"Abang mau makan?" Maurin menegur suaminya.


"Nanti saja dek. Kamu makan dulu ya..!!"


"Ada apa Bang?"

__ADS_1


"Hmm.. nggak biasanya Bang Ricky nggak merespon. Ada apa ya?" Gumam Bang Brigas menjawab cemas.


"Nindy sudah berangkat ya Bang?" Tanya Maurin.


"Sudah tadi pagi. Bang Ricky kelihatan sedih sekali" jawabnya kemudian terdiam sejenak. "Eehh masa iya Bang Ricky galau di tinggal Nindy???"


"Abang lihat kesana saja" saran Maurin.


"Ya sudah, Abang kesana sebentar ya..!!" Bang Brigas sedikit membungkuk kemudian mencium perut Maurin namun.. Bang Brigas juga meninggalkan satu kecupan di bibir istrinya. "Kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang..!!"


//


Berkali-kali Bang Brigas menyapa tapi tak ada jawaban. Hari sudah gelap tapi tak ada satupun lampu menyala.


"Kita masuk saja lah Bang..!!" Ajak Bang Ganesha sebelum besok pagi berangkat bertugas.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah Bang Ricky.


~


"Nindy sudah sampai apa belum Long, daritadi nggak ada kabar." Jawab Bang Ricky. "Istriku dimana Long????"


//


Bang Hara dan Om Ega tak berani membantah pinta bumil yang sedang mengidam pengen makan apapun yang di lihatnya sepanjang jalan.


"Bang Hara, ada buah durian tuh" kata Tisha.


"Kamu diam ya dek. Perutmu itu karung juga ternyata. Lebih baik sekarang kamu tidur dan diam, jangan memanasi Nindy. Kalau ada apa-apa sama Nindy.. Abang yang habis di g**ok suaminya Nindy." tegur Bang Hara.


"Tapi sedikit saja khan nggak apa-apa Bang" rengek Nindy.


"Jangan ya Nindy.. please. Lebih baik Abang lompat ke jurang dah daripada harus berurusan sama suamimu." Kata Bang Hara memelas penuh permohonan.


"Ayolah Bang..!!" Rengek Nindy.


Tisha pun setengah berdiri dan meletakan dagunya di bahu Bang Hara, tangannya pun bermain nakal masuk di dalam jaket Bang Hara dan bergerak manis di dada Bang Hara. "Please Bang, sedikit aja" bisik Tisha.

__ADS_1


Jedag jedug dada Bang Hara. Meskipun tak ada rasa, normal saja naluri prianya terpancing hingga darahnya memanas.


"Baang..!!" Bujuk Tisha lagi semakin memasukan jarinya hingga mencubit sesuatu.


"Aagghh.." d***hnya tanpa sadar. "Astagfirullah hal adzim.." Bang Hara mengeluarkan tangan Tisha dari jaketnya. "Bahaya kamu ini, jangan di ulang lagi..!!!!" Tegur Bang Hara. "Ya wes Ga, turun disini..!! Beli durian dulu. Kalau kebablasan mati aku" ucap jujur Bang Hara.


"Hahaha.. saya tutup mata, tutup telinga Bang. Kalau nggak kuat bablas saja." jawabnya karena mereka sedang berada di luar 'area'.


"Matamu Gaaa.." Bang Hara menepak belakang kepala Om Ega saking kesalnya. "Eehh.. tolong kamu temani ladies-ladies dulu ya..!! Saya mau 'ngadem' sebentar"


Om Ega tertawa saja karena ia pun seorang pria pastinya ia paham perasaan sesama pria. "Cepat nikah Bang, biar aman"


"Halaah wes sana..!!" Bang Hara segera menutup pintu mobilnya rapat.


Mata Bang Hara terus tertuju pada putri Pak Panji. "Pecicilan, cerewet, lancang... tapi kok ayu tenan yo" senyum Bang Hara menghias wajahnya. Sejenak ia memejamkan mata menenangkan batin yang tidak tenang. Sekilas kembali terbayang wajah Teratai Shamirana hingga sekujur tubuhnya kembali menegang. "Astagfirullah.. aaarrghh" Bang Hara mengusap wajahnya kemudian memilih keluar dari mobil.


"Lho.. cepat amat Bang??" Tanya Om Ega.


"Apanya yang cepat???" Bang Hara sampai mendelik mendengar ocehan Om Ega. "Tolong ambilkan saya air mineral yang dingin."


Om Ega segera mengambil minuman dingin dari dalam kotak pendingin di pedagang durian kaki lima.


"Ini Bang"


Bang Hara segera menyambar, membuka lalu menunduk menyiram di kepalanya.


"Abang pengen mandi?" Tanya Tisha dengan polosnya melihat Bang Hara menyiram kepalanya.


"Nggak, kepala Abang baru terkena tegangan arus pendek" jawab Bang Hara mengundang gelak tawa Om Ega.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2