Perisai Hati.

Perisai Hati.
61. Pertemuan ( 2 ).


__ADS_3

Bang Yosh membantu menyadarkan Bang Ricky. Dari bibirnya selalu terucap nama Nindy yang membuat hatinya terasa sangat sakit. Ada rasa cemburu namun ia sadari tak pantas untuknya mencintai wanita yang seharusnya bukan menjadi miliknya.


Perlahan mata Bang Ricky terbuka. "Aku harus bertemu Nindy.. aku mau Nindykuu..!!"


"Iyaa le.. iyaaa.. nanti kita selesaikan masalah pelan-pelan ya..!! Ada ayah disini..!!" Ayah Gesang sampai harus memeluk untuk menenangkan Bang Ricky yang histeris. Terlihat sekali suami Nindy itu sangat hancur.


Bang Yosh pun ikut bersandar lemas di samping Bang Ricky. "Saya janji akan mengembalikan Nindy. Saya hanya butuh waktu sebentar saja. Tidak mungkin kita mengungkapkan semua secara frontal."


Ayah Gesang Wira pun menepuk bahu Bang Yosh yang kini juga mulai menangis. "Sabar.. jalani segala takdir Tuhan dengan ikhlas le..!!"


//


Malam ini Iva harus tidur di rumah kontrakan hanya berdua dengan Isy karena Bang Brigas dan Bang Ludoyo mengabarkan bahwa Bang Ricky tidak bisa pulang karena ada tugas mendadak.


"Baiklah Bang, saya paham. Tidak apa-apa kalau Abang ada tugas. Pantas saja Iva tidak melihat Abang online sama sekali di ponselnya" kata Iva.


Beberapa saat kemudian terdengar suara Isy menangis.


"Suara Isy ya? Abang boleh lihat?" Mendengar suara Isy, Bang Ludoyo mengembangkan senyumnya.


"Boleh Bang, sebentar ya..!!"


~


Isy tenang sekali dalam gendongan Bang Ludoyo dan tanpa sadar mereka bertiga bercanda layaknya keluarga kecil. Bang Brigas sempat ternganga melihat pemandangan di hadapannya sampai ada telepon dari piketan menghubungi ponsel Bang Ludoyo.


"Selamat malam Dan..!!"


"Malam... Ada apa?"


"Ijin Dan.. beberapa orang anggota sudah lajur dari rumah Lettu Brigas menuju rumah sakit karena istrinya mual sampai lemas"


"Laahh.. ini Lettu Brigas sedang bersama saya" jawab Bang Ludoyo. "Kenapa tidak hubungi ponselnya langsung?"


"Ijin Dan, tidak bisa di hubungi. Jadi para tetangga membawanya ke rumah sakit dan melapor di piketan"

__ADS_1


"Ponsel Abang mati??" Bisik Bang Ludoyo.


Bang Brigas melihat layar ponselnya. "Astaga.. iya mati. Memangnya ada apa?" Tanya Bang Brigas.


"Istri Lettu Brigas mual, sekarang masuk rumah sakit" jawab Bang Ludoyo.


"Astagfirullah.. bukannya bilang dari tadi. Maurin hamil Doy.. Gimana sih kamu..!!" Bang Brigas segera beralih dari posisinya. "Iva.. saya pamit dulu ya. Saya ajak tikus sawah ini sekalian" pamit Bang Ludoyo pada Iva.


"Iya Bang, silakan" jawab Iva.


"Yaaa Bang.. mana saya tau istri Abang sedang hamil" Bang Ludoyo hanya menggaruk kepalanya tanpa rasa bersalah.


"Ya Tuhan.. mudah-mudahan istriku nggak apa-apa" gumam Bang Brigas sembari berjalan pelan.


"Hmm.. Bang, ini saya tanya di luar jalur adik kakak di antara Abang dan Nindy ya. Pertanyaan saya ini sifatnya netral. Kira-kira menurut Abang.. Apa benar-benar Bang Ricky sanggup melepaskan salah satunya. Karena tidak mungkin untuk aparat beristri dua. Nindy cantik, Iva tak kalah cantik. Apa jiwa laki-laki Bang Ricky tidak tergoda?" Tanya Bang Ludoyo.


"Saya sangat kenal sama Abang. Jika Nindy kembali, pasti Abang akan mengambil Nindy kembali meskipun Nindy telah mengandung janin dari pria lain. Jika Iva yang hamil, Bang Ricky tidak akan melepas Iva karena tanggung jawab. Dan jika Bang Ricky sayang keduanya. Bang Ricky akan melepaskan seragamnya demi kedua istrinya dan berusaha mengakurkan kedua istrinya atau yang terpahit.. Bang Ricky akan melepaskan Nindy dan Iva" jawab Bang Brigas.


"Begitu kah Bang??" Heran Bang Ludoyo mendengarnya.


"Iya.. masa nakal Bang Ricky sudah tamat. Sudah kenyang bertualang cinta di masa muda.. dan sekarang keimanannya sedang di uji secara telak. Saya saja.. belum tentu sanggup menghadapi masalah serumit ini" kata Bang Brigas.


//


Bang Yosh menemani Bang Ricky yang benar-benar lemas tanpa daya. Tangannya dingin dan terus mengepal.


"Bagaimana ini?" Tanya Bang Yosh bingung, hatinya tak kalah hancur dari Bang Ricky.


"Tunggu pagi dan kita akan selesaikan semua" Papa Gesang Wira sudah mantap dengan keputusan nya.


***


Nindy berjalan di antara kerumunan para istri anggota. Saat itu kericuhan pun terjadi bagi yang mengenal sosok 'Ibu Ricky'.


"Ibu Ricky.." sapa para istri anggota tersebut.

__ADS_1


Nindy tampak bingung. Ia melihat keadaan sekitar, seolah ia pernah melihat segala seperti ini tapi entah kapan dan dimana.


Para istri anggota sudah mendengar kabar 'buruk' yang menimpa Nindy dan mereka turut prihatin dalam tangis.


"Selamat datang kembali Ibu Ricky" sapa anggota yang lain.


Nindy hanya tersenyum kecil sembari menangkupkan kedua tangan tanpa tau apa yang terjadi.


Sesuai arahan Om Abdul, ia pun masuk dalam ruangan khusus.


Disisi lain juga berjalan sosok Iva bersama Bang Ludoyo menuju ruang Danyon.


Tak ada salam dan sapa dari Nindy yang hanya melebarkan senyumnya namun tidak dengan Iva yang tersenyum pahit menatap Nindy.


~


Pintu terbuka lebar, untuk pertama kalinya Bang Ricky melihat Nindy dari jarak yang sangat dekat.


Tak sanggup lagi membendung perasaannya ia berjalan cepat menghampiri di antara dua wanitanya.


Saat itu pandangan mata Nindy masih menatap lekat sosok yang berjalan ke arahnya. Hantaman kuat terasa memukul puncak kepala hingga sampai ke dadanya. Siluet buram berkelebat hilang dan timbul dalam pikirnya.


Bang Ricky memeluk dengan erat tubuh Nindy. Di luapkan segala rindu serindu rindunya melupakan Iva yang berdiri mematung di sampingnya. "Sayang.. Nindyku sayang" Bang Ricky menciumi wajah Nindy.


Tangan Iva begitu lemas, kakinya gemetar tapi ia tetap mengusap punggung sang suami.. tanpa kata hanya menahan derai air mata.


Bang Yosh memejamkan mata tak sanggup melihat wanita yang ia cintai berada dalam dekapan pria lain.


"Eeegghh" kepala Nindy terasa berputar dalam pelukan Bang Ricky. Wangi parfum yang tiba-tiba mengingatkan dirinya pada sosok gelap dalam hatinya.


"Ini Abang sayang.. Bang Ricky"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2