
"Selamat malam........"
"Lama sekali baru bisa di hubungi, Danki mu sampai tepar kepikiran Nindy." Tegur keras Bang Brigas.
"Maaf Bang, sepanjang jalan Nindy minta ini dan itu jadi kamu harus bolak-balik berhenti di jalan." Jawab Bang Hara.
"Paling tidak kamu kasih kabar lah Har, Bang Ricky sampai drop. Ini sekarang lagi rawat jalan di rumah"
"Sekali lagi saya minta maaf Bang..!!"
"Bagaimana Nindy sama Tisha?" Tanya Bang Brigas.
"Alhamdulillah aman Bang, Tisha langsung tidur dan Nindy baru saja saya antar beli nasi goreng"
"Waahh.. besar juga lambungnya. Ya sudah, yang penting aman khan. Senior mu buat panik satu kompi Har"
"Siaap..!!"
***
Wajah Bang Ricky masih saja pucat, badannya lemas dan sudah berkali-kali muntah.
"Ini benar nggak apa-apa Bang?" Tanya Bang Brigas ikut sibuk merawat Bang Ricky bersama Maurin.
"Nggak apa-apa, tapi kalau sampai sore tetap begini ya harus dapat perawatan di rumah sakit." Kata Dokter. "Istrinya kemana sih Bri?"
"Kuliah di kota Bang. Rencana awal tiga bulan, tapi kemarin belum sehari di tinggal Nindy pergi.. Bang Ricky sudah begini." Bang Brigas memberi penjelasan pada dokter.
"Weeess.. ono-ono wae. Ya begini lah, segarang-garangnya laki-laki terkadang ada yang nggak sanggup jauh dari istri, dalamnya perasaan suami kalau mikir itu kadang nggak terlihat apalagi yang nggak ekspresif macam seniormu ini, hanya di pendam sendiri dalam hati. Akhirnya saat hati sudah penuh sesak, nggak kuat, jadilah seperti ini"
"Iya Bang, saya merasakannya" jawab jujur Bang Brigas yang kini merasa sudah tak sanggup jauh dari Maurin. Istrinya yang kalem, tenang dan penakut. Sifat unik untuk sosok lembut sang istri.
praaank..
Bang Brigas menoleh ke arah suara dan segera berlari ke dapur.
"Deekk..!!" Bang Brigas membantu Maurin untuk berdiri. "Kenapa? Pusing lagi??"
Maurin mengangguk sambil menyangga tubuhnya berpegangan pada Bang Brigas.
"Makanya Abang tadi bilang, kamu duduk saja. Jangan jalan kesana kemari. Tadi Abang bilang diam di rumah saja kamu nggak mau"
"Maurin pengen sama Abang" jawab Maurin.
"Anakmu manja sekali Bri. Mungkin perempuan" kata dokter yang tadi mengikuti Bang Brigas keluar kamar.
__ADS_1
"Aamiin.. Alhamdulillah.." Bang Brigas melebarkan senyumnya.
//
Bang Ganesha mengarahkan beberapa anggotanya untuk berkumpul dan berunding soal pekerjaan mereka esok hari. Saat ini dirinya sudah tiba di pelosok perkampungan target TMMD.
Pemandangan penyadapan karet sangat kental mereka lihat, gadis Kalimantan yang sangat cantik mampu menghipnotis mata para bujangan dalam penugasan.
"Matamu..... kalau lihat perempuan sampai juling begitu matamu." Bang Ganesha menegur anak buahnya karena memang pada kenyataannya gadis Kalimantan sangatlah cantik. 'Astagfirullah, ingat calon istri di Jawa'.
"Siiiaap Dan..!!"
Bang Ganesha memalingkan wajahnya tak ingin berkhianat pada kekasih hatinya. "Kudu kuat mental" gumamnya menenangkan hatinya sendiri.
...
Nindy duduk sendiri di teras kamar asramanya. Suasana di sana cukup dingin dan dirinya teringat dengan Bang Ricky yang juga tidak menghubunginya sekedar untuk menanyakan kabar padahal dirinya sengaja tidak menghubungi Bang Ricky lebih dulu.
Entah bagaimana perasaannya saat ini. Sejak mengetahui dirinya hamil, hatinya menjadi lebih sensitif dan perasa.
"Kemarin Abang nggak mau 'menyentuhku' lagi. Apa karena perempuan itu?" Pikiran Nindy mulai terganggu, sebersit rasa tidak suka begitu mempengaruhi suasana hatinya.
//
"Hhhhhkkkk.."
"Abang nggak apa-apa Long. Kamu bawa saja Maurin pulang. Kasihan istrimu"
"Santai saja Bang. Maurin juga sudah tidur" jawab Bang Brigas karena memang Maurin sudah tidur di kamar tamu rumah Bang Ricky.
"Kamu jangan pikirkan Abang. Kalau Maurin jelas butuh perhatian mu, hamil muda pasti pengen di manja" ucap lirih Bang Ricky.
Saat itu Bang Brigas baru memahami arah pemikiran Bang Ricky. Adik iparnya itu pasti tengah memikirkan Nindy yang sedang jauh disana.
"Apa Abang kuat menjalaninya? tiga bulan lumayan lama juga Bang" tanya Bang Brigas.
"Mau bagaimana lagi. Kuat nggak kuat Long."
"Hmm.. ijin memberi saran Bang. Lebih baik sesekali Abang minta ijin sama Danyon. Kompi khan berdiri di bawah Batalyon. Alasannya sudah jelas. Istri hamil muda. Danyon pasti paham lah keadaan Abang. Nindy belum pulih benar, tidak seperti istri anggota lain yang di tinggal bertugas. Memangnya Abang tidak ada kepentingan untuk memantau langsung misi ini?"
Barulah saat itu wajah Bang Ricky sedikit cerah dan terlihat lega.
"Benar juga kamu Bri.. Abang minta cuti saja dulu sekalian menjabarkan alasannya, siapa tau Danyon berkenan"
***
__ADS_1
Tisha masuk ke dalam kamar asrama milik Nindy.
'Indah sekali kamar Nindy. Nuansa ungu, tidak seperti kamarku yang memang sangat sederhana dan biasa saja.'
"Bisa-bisanya kamu dapat kamar seindah ini" tanya Tisha.
"Apa kamarmu tidak indah?" Nindy balik bertanya.
"Kau lihat saja kamarku. Layaknya kamar asrama mahasiswa. Tapi kenapa kamarmu berbeda??"
"Aku nggak tau Tishaa"
...
"Ibu Ricky sedang hamil muda, jadi Pak Ricky minta kamar private agar ibu merasa nyaman." jawab Om Ega.
"Apaaaa?? Kenapa nggak bilang dari kemarin sih Bang??" Pekik Tisha.
"Memangnya kenapa?"
"Tisha sudah daftarkan Nindy untuk ikut kegiatan ospek mahasiswa di bukit, itu susah di batalkan kalau walinya nggak menghadap dosen. Kalau Nindy hamil pasti nggak kuat" jawab Tisha.
Tiba-tiba Bang Hara muncul membawa wajah geramnya. "Lancang sekali kamu dek. Bang Ricky bisa ngamuk. Kenapa kamu nggak konfirmasi apapun sama Abang"
"Soalnya Tisha nggak suka Abang"
"Apa saya ini suka sama kamu????? Jenang dodol.. hhhhhhhhh" gerutu gemas Bang Hara. "Duuhh.. Piye iki, semoga aku nggak jadi lele" gumamnya.
"Bang, bagaimana kalau Bang Ricky marah sama Tisha?"
"Terima saja ulahmu..!!! Biar jadi rontokan kripik telo kamu di omelin Bang Ricky."
"Abaang.. bantu Tisha donk..!!!!!"
"Ogaaahh..!!"
"Baaang" suara Tisha mulai merayu manja.
"Nggak.. rasakan sendiri sensasi nabrak batu es" jawab tegas Bang Hara.
.
.
.
__ADS_1
.