Perisai Hati.

Perisai Hati.
31. Ingat kemarin.


__ADS_3

Bang Ricky membukakan pintu mobil untuk Nindy dan memapahnya turun. Nindy pun langsung masuk ke dalam rumah setelah membuka kuncinya.


-_-_-_-


Hingga sore hari tidak ada kata dan suara dari bibir Nindy.


Bang Ricky tau pasti penyebabnya namun dirinya bukan type seperti kebanyakan para pria yang bisa mengobral janji manis. Dirinya menganggap tindakan jauh lebih baik dari sekedar kata cinta. Kata-kata bisa saja hilang tak berbekas namun tindakan akan selalu ada dalam hati dan pikiran.


"Dek.. Abang beli ikan bakar. Mau makan sekarang?"


Nindy mengunci rapat bibirnya. Ia sungguh tidak paham jalan pikiran Bang Ricky. Apa sulitnya katakan cinta.. itu pun jika Bang Ricky benar-benar cinta. Pernah sekali ia seakan merasa Bang Ricky menangisinya tapi ia segera menepis perasaan percaya dirinya. 'Tidak mungkin seorang Letnan Ricky menangisi seorang gadis kecil. Jika aku tidak terjebak dalam masalah ini, tak mungkin juga Bang Ricky menikahiku.'


"Dek.. makan ya..!!" Bang Ricky kembali mengajak Nindy untuk makan malam.


Melihat Nindy keras hati, tak mungkin Bang Ricky juga bersikap sama kerasnya seperti sang istri. Ia mengalah dan melangkah ke dapur mengambilkan makan malam untuk Nindy.


~


Bang Ricky menyimpan senyumnya, mungkin benar Nindy hanya ingin di manjakan saja. Terlihat dari sikapnya yang tidak menolak saat dirinya menyuapi Nindy.


Bang Ricky juga tidak mengucap banyak kata. Ia kembali menambahkan nasi, lauk dan cah kangkung di piring untuk menyuapi Nindy lagi.


'Alhamdulillah..'


"Setelah ini tidurlah dulu, Abang ada pekerjaan..!!"


//


"Ijin Bang, ternyata saya nggak bisa bantu banyak dalam masalah ini. Besok saya penugasan ke pelosok untuk TMMD" kata Bang Ganesha.


"Saya bisa, tapi tidak maksimal karena Maurin mabuk parah Bang" jawab Bang Brigas yang kemudian melirik Bang Hara, litting Bang Ganesha. "Kamu bantu Abang bisa nggak Har? Kasus Nindy harus segera selesai dan kita harus bicara dengan Yani."


"Baik Bang, Insya Allah saya handle." Kata Bang Hara menyanggupi.


Ada rasa tidak nyaman dalam hati Bang Ricky. Bagaimana pun alasannya, Hara tetaplah laki-laki, orang luar yang akan masuk dalam ranah pribadi nya.


~


"Abang tenang saja, Hara itu bisa di percaya. Saya kenal betul siapa dia." Kata Bang Ganesha yang paham kecemasan Bang Ricky.


"Saya pun sempat mendengar gaungnya Nesh, tapi ya kamu tau lah....."


"Saya paham perasaan Abang, sindikat Irwanto sangat banyak. Saya yakin Hara tidak akan berbuat macam-macam pada istri seniornya." Bang Ganesha berusaha keras menenangkan hati Bang Ricky yang kemungkinan besar sedang cemburu berat.


"Jika saya bisa menjaga Nindy sepanjang waktu, maka akan saya lakukan. Sayangnya saya adalah pimpinan di kompi ini. Saya juga punya tanggung jawab tersendiri pada pekerjaan dan anak buah saya."

__ADS_1


***Flashback on.


POV Bang Ricky on***.


Malam itu usai perbincangan dan perdebatan Bang Ricky dengan semua Abang Nindy termasuk Bang Setha via video call. Terjadilah titik temu.


"Baiklah, Ayah juga mengijinkan Nindy kuliah di jurusan listrik. Karena hanya mengambil jurusan tersebut dia mau masuk bangku kuliah"


"Saya nggak setuju yah, jurusan instalasi listrik cukup berbahaya apalagi di dalamnya lebih banyak kalangan mahasiswa"


"Maka dari itu saya mengusulkan Ganesha masuk untuk ikut menjadi dosen pengganti atau mahasiswa di kampus tersebut, juga saya sudah menghubungi Om Panji yang juga setuju membantu kita, memasukan putrinya.. Tisha dengan pertimbangan Tisha dan Nindy satu 'aliran sesat', mereka secara alami akan memancing para komplotan perusak bangsa untuk keluar..!!"


Bang Ricky masih terdiam, hatinya belum ikhlas dan tidak akan pernah siap Nindy terlibat dalam hal berbahaya seperti ini.


POV Bang Ricky off.


"Baiklah, saya percaya dengan kalian.. tapi ingat, jangan menodai kepercayaan saya..!!" ucap tegas Bang Ricky.


***


Di hari berikutnya.


Bang Ganesha dan Bang Hara saling pandang sampai Bang Hara menggaruk kepalanya melihat tingkah putri Dan Panji.


"Masa ini putrinya Pak Panji. Bukankah anaknya Pak Panji laki-laki semua?" Bisik Bang Hara.


"Apa kau yakin?? Jangan-jangan dulu dia adalah bayi yang tertukar. Masa anak Pak Panji merokok???"


"Kau diam saja Har, diam-diam adikku juga merokok. Bang Ricky saja yang menutupi nya dari ayahku" Jawab Bang Ganesha.


"Kamu serius????? Sebenarnya Panglima tidak tau??" Wajah Bang Hara syok dan tak percaya.


"Iya, Bang Ricky selalu menutup nya. Makannya kamu simpan rahasia ini karena Bang Ricky melindungi adikku dengan taruhan nyawanya"


"Memangnya aku ini se bocor dirimu???" Ledek Bang Ganesha.


~


"Kalau kamu masih merokok, saya ganti rokok mu dengan 'rokok jagung'..!!"


Tisha melirik jengah pada sosok yang sedari tadi seolah ingin mencari ribut dengannya. "Jangan mengurusi urusan orang lain, kalau kamu mau merokok ya merokok saja..!!"


"Yang sopan kamu ya..!! Ke WC masih minta di antar saja bertingkah."


"Idiiiihh.. kaos kaki masih di carikan saja masih mau mengaturku..!!" Tisha membalikan ucapan Bang Hara yang sok cool di hadapannya.

__ADS_1


"Kalau kau bukan putri perwira tinggi, sudah ku jepit itu bibir cerewet"


Tak di sangka Tisha memegang kedua bahu Bang Hara lalu melompat menghantamkan keningnya pada kening Bang Hara.


duuugghh...


"Awwwwhh.. sakiiiiiiiitt" pekik Tisha kemudian menangis mengusap keningnya.


~


"Di dunia ini saya belum pernah melihat dua gadis sedungu kamu dan......." Ucap Bang Hara pun terhenti karena takut salah bicara.


"Siapa??? Jangan bandingkan Tisha dengan perempuan lain..!!"


"Siapa???? Pikir sendiri.. apa kamu ini pintar?????" Tegur Bang Hara kemudian mengompres kening Tisha. "Mana ada manusia seculun dirimu, mau menghantam musuh tapi malah kesakitan sendiri"


Tisha mencibir Bang Hara yang sibuk mencari salep di kotak obat ruang kesehatan Batalyon.


cckkllkk..


Terdengar suara pintu ruang kesehatan terbuka.


"Hai Bang Bri...." Sapa Tisha dengan genitnya.


"Hai Tisha.. kenapa kamu disini??"


"Kepala Tisha di hantam Bang Hara" jawabnya.


Refleks Bang Hara mengangkat kedua tangan dengan panik. "Nggak Bang, sumpah demi Allah saya nggak pernah kasar sama perempuan"


"Bohong Bang.. ini kening Tisha sakit sekali" rengek Tisha.


"Yang benar saja kamu Har, sama perempuan masa kasar...!!" Bang Brigas memposisikan dirinya seakan menyalahkan Bang Hara.


"Bang.... Abang kenal saya khan. Saya nggak mungkin 'nangani' fisik perempuan"


Bang Brigas menahan tawa gelinya melihat wajah panik juniornya.


"Duuuhh.. mulut silet, kalau bukan anak Dan Panji sudah kulipat kau" gumam Bang Hara.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2