
Tisha bangun dalam posisi memeluk Bang Hara di dalam mobil. Teriaknya sangat kencang sampai membuat Bang Hara kaget dan terkejut setengah mati.
"Sebentar.. jangan salah paham dulu dek"
buugghh..
"Aaarrghh.. Allahu Akbar.. dengar dulu...!!!"
~
"Bilang donk kalau Tisha muntah" kata Tisha sembari mengusap hidung Bang Hara yang sempat mimisan karena tonjokan nya. Ia pun hanya menutupi tubuhnya yang polos dengan jaket Bang Hara.
Sesaat kemudian Bang Hara mulai bersin. Udara sangat dingin tapi dirinya berusaha mengalah demi gadis barbar di sampingnya.
Wajah cemas Tisha membuat sifat jahil Bang Hara muncul tiba-tiba. Bang Hara mulai terbatuk. Ia merebahkan diri dengan kasar pada sandaran jok yang sudah di rentangkan hingga menjadi seperti ranjang.
"Bang.. Abang kenapa?" Tanya Tisha berusaha mengusik panik dalam dirinya.
"Dada Abang sesak sekali dek. Abang nggak bisa nafas."
Tisha mulai kebingungan tak tau harus berbuat apa. Bang Hara menggelinjang kesakitan.
"Abaaaaaaaaaaanngg.. iiiiihh..!!!" Tanpa berpikir panjang Tisha langsung menyambar bibir Bang Hara dan seketika itu juga tubuh Bang Hara menjadi kaku.
'Ya ampun, Tisha mau apa? Kenapa Tisha malah menciumiku seperti ini?? Dia bisa bedakan nafas buatan sama ciuman nggak sih?'
Baru saja Bang Hara berusaha menghindar, tapi suara d***h manja Tisha membuat naluri nya terpancing.
~
Tisha melepas pagutannya di saat Bang Hara merasakan pikirannya melayang terbang membuat hati Bang Hara sangat kecewa.
"Abang jangan mati"
Tangan Bang Hara mengusap lembut pipi Tisha. "Siapa yang mau mati? Abang nggak tega meninggalkan gadis seceroboh kamu"
"Jangan sakit lagi..!!"
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Tanya Bang Hara.
"Tisha sedih, mau bertengkar sama siapa" jawab Tisha.
Mata keduanya saling memandang.
"Kamu mau nggak sama Abang?"
"Nggak, Abang jahat" Tisha tersenyum memalingkan wajahnya.
"Beneran nih nggak mau, nikah sama Abang tuh enak lho dek..!!" Bang Hara terus mencoba menggoda Tisha.
"Apa enaknya?"
"Ya semua yang Abang punya pasti menjadi milik Nyonya Hara Jayanegara." Jawab Bang Hara meyakinkan.
"Ucapan laki-laki tidak bisa di percaya"
"Lalu bagaimana cara Abang membuktikan? Apa harus ada Tisha junior di antara kita?" Entah setan apa yang membuat Bang Hara jadi lepas kendali, ia mendekati wajah Tisha. "Cepat jawab..!!" Pinta Bang Hara.
"Nggak mau"
"Hara junior bagaimana?"
"Ka_mu serius dek?" Logika dan hati Bang Hara menanjak perang dingin.
Tak disangka Tisha malah tertawa terbahak melihat ekspresi wajah Bang Hara. Tisha menyangka Bang Hara hanya sekedar bercanda hingga dirinya pun menanggapinya dengan candaan pula.
"Ya nggak lah, Tisha itu mau laki-laki yang nggak seperti Abang. Tisha juga nggak suka sama tentara" jawab Tisha.
Merasa di permainkan, darah Bang Ricky dua kali mendidih. Mata Bang Hara menatap tajam wajah Tisha tapi gadis itu seakan tidak menganggap kekesalan Bang Hara.
"Iiihh kenapa? Abang benar-benar mau punya anak dari Tisha??" Tawa nakal Tisha masih terdengar di telinga Bang Hara.
Tanpa banyak bicara, dengan cepat tangan Bang Hara kembali merebahkan tubuh Tisha dan seketika tawa nakal Tisha menghilang.
"Jangan pernah menguji ketahanan batin seorang pria. Kau tau bagaimana sulitnya Abang menahan diri?? asal kamu tau dek, sebejatnya kelakuan Abang.. Abang tidak akan menebar jejak di sembarang wanita. Ibu dari anak-anak Abang hanya wanita yang Abang cintai..!!!!"
__ADS_1
"Aaaaaaa... Abaaaaaanngg" Tisha berteriak ketakutan saat Bang Hara mendekapnya kuat.
***
Nava terlihat canggung dan malu-malu saat masuk ke dalam kamar dengan gulungan handuk di atas kepala.
"Sudah selesai?"
"Sudah Bang" jawab Nava melihat Bang Ganesha melepas sprei dan membalik kasur busa yang mereka tiduri semalam.
"Baru Abang mau kesana. Nggak ada siapa pun khan?"
Nava menggeleng pelan sebagai jawaban. Bang Ganesha tersenyum kemudian mengecup kening Nava. "Terima kasih banyak dek" begitu dalam Bang Ganesh mengecup kening Nava.
Nava memberanikan diri bertanya pada Bang Ganesha. "Abang, semalam ada perempuan yang berkali-kali hubungi Abang........."
Bang Ganesha tersenyum kecut. Tapi kemudian menepuk bahu Nava. "Itu Nia. Tunangan Abang" jawab jujur Bang Ganesha.
"Na_va minta maaf Bang. Sebaiknya Nava pergi. Mbak Nia pasti sakit hati sekali" Nava kaget dan kebingungan kemudian mencari pakaiannya. Tangannya gemetar.
Bang Ganesha mencegah tangan Nava untuk membereskan barang. "Deek.. kamu nggak akan pergi kemana-mana. Kamu harus tetap ada di samping Abang. Kamu istri sah Abang"
"Nava perempuan, Mbak Nia juga perempuan.. Nava salah Bang, tolong biarkan Nava pergi." Nava berusaha keras untuk melepaskan genggaman tangan Bang Ganesh.
"Navaaa..!!"
"Biarkan Nava pergi saja Bang, Nava berjanji tidak akan kembali dalam hidup Abang" pinta Nava.
Bang Ganesha memeluk Nava untuk menenangkan Nava. "Setelah apa yang kita lakukan semalam lalu kamu ingin pergi?? Kita berdua sadar untuk menikah dan pernikahan kita sah, secara sadar sudah melakukan hubungan suami istri. Abang janji akan selesaikan masalah ini secepatnya. Jangan kemana-mana ya..!!" Bujuk Bang Ganesha. "Maaf kalau keadaan ini menyakiti hatimu, tapi kamu istri Abang dan kamu harus tau keadaannya dek.." ucap jujur Bang Ganesha.
"Nava salah Bang, Nava merebut kebahagiaan wanita lain" isaknya sangat sedih.
Bang Ganesha tak sanggup berkata-kata karena dirinya sadar telah menyakiti dua orang wanita sekaligus dan sejak melakukan kewajiban sebagai suami, ia memang sudah berniat menyelesaikan masalah ini karena kini sudah ada hati yang harus di jaga.
.
.
__ADS_1
.
.