
"Tolong jaga Nindy baik-baik ya Har..!!"
"Siap Abang, saya akan jaga Nindy." Jawab Bang Hara.
"Sekalian si Tisha, jangan sampai mereka bersatu padu membangun kekuatan..!!" Pesan Bang Brigas.
"Siaap.. ada Ega yang bantu saya."
Om Ega tersenyum bahagia. Gayanya bak mahasiswa. Setelah pertimbangan panjang akhirnya Om Ega di libatkan dalam 'tugas'.
"Kamu harus selalu memantau kegiatan apapun yang ada disana. Siapkan kamar Nindy senyaman mungkin. Jaga istri saya dengan benar..!!" Imbuh Bang Ricky sampai Bang Ganesha harus mengusap punggung Bang Ricky yang tengah cemas dan galau karena Nindy akan pergi untuk pengenalan awal pada kampusnya selama kurang lebih tiga bulan.
Urusan kampus memang sedikit lama karena Nindy dan Tisha akan mengambil jalur online untuk pendidikan selanjutnya.
"Kamu urus segala administrasi Nindy, teliti sampai clear dan jangan terlalu lama. Perut Nindy akan semakin terlihat. Sekarang saja sudah tujuh Minggu" kata Bang Ricky mengingatkan Bang Hara. "Kalau Nindy minta apapun, segera laporkan sama saya..!!" Pesan Bang Ricky panjang lebar, wajahnya sudah meremang merah. Para sahabatnya pun mengerti bagaimana perasaan Bang Ricky saat ini.
"Siaaaapp..!!"
"Benar-benar yang serius lho Har, sampai ada apa-apa sama Nindy.. saya sampai kesana, saya hajar betul kamu, remuk jadi lele" Ancam Bang Ricky.
"Lailaha Illallah.. iyaa Abaaaang..!!!!!!" Bang Hara tak tau lagi bagaimana harus bersikap di hadapan seniornya yang luar biasa ini.
...
Nindy melirik Bang Ricky hanya sibuk dengan ponselnya saja.
'Padahal aku mau pergi lama, tapi tidak sedikit pun Abang cemas. Raut wajahnya pun biasa saja.'
Nindy segera pergi ke belakang untuk mencuci pakaian yang sudah terlalu menumpuk. Nindy memasukan pakaian ke dalam mesin cuci, pakaian olahraga Bang Ricky terjatuh dan ia memungutnya. Saat itu tanpa sengaja Nindy melihat bekas lipstik berwarna pink di baju bagian bahu. Entah kenapa rasa emosinya tiba-tiba naik. Nindy melangkah menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa baju Abang ada noda lipstik perempuan?" Tanya Nindy.
"Mungkin lipstikmu" jawab Bang Ricky santai sambil mengerjakan tugas di laptop.
"Nindy nggak punya lipstik warna merah darah" ucap ketus Nindy.
Mendengar suara Nindy yang semakin meninggi, Bang Ricky pun menoleh. Ia melihat pakaian sumber keributan dalam rumah tangganya. "Oohh.. baju itu. Tadi ada perempuan kecelakaan di depan perbatasan kompi dan Batalyon terus Abang tolong."
"Benar begitu ceritanya??"
"Iyaa" jawab Bang Ricky kemudian kembali fokus pada laptop.
"Kenapa harus ada bekas lipstik?? Apa perempuan itu nempel sama Abang???"
Bang Ricky mulai cemas karena Nindy mulai menyelidik dan pertanyaan Nindy jauh lebih menakutkan dari bagian intelijen.
"Abang bantu angkat dia, Abang juga nggak sadar kalau dia nempel. Yang ada di pikiran Abang hanya membantu saja. Nggak lebih dek" ucap jujur Bang Ricky.
"Kamu nggak usah mikir macam-macam. Yang Abang tolong itu luka. Apa kamu pikir Abang gendong dia, saling pandang, melempar senyum, ciuman terus berakhir sampai ke ranjang???" Detail sekali Bang Ricky menjabarkan dan pastilah itu yang ada dalam pikiran Nindy.
"Nindy nggak bilang begitu ya Bang, tapi Abang sendiri yang berpikir seperti itu. Abang niat selingkuh??" Tuduh Nindy yang masih terbakar emosi.
Bang Ricky menggeleng heran tapi tidak juga tidak ingin menanggapi amarah Nindy, sebisa mungkin dirinya menghindari pertengkaran dengan sang istri.
Nindy membanting pakaian Bang Ricky dan berjalan cepat menuju ke kamar.
~
Nindy tertelungkup terisak kuat. "Abang jahat, kalau nggak cinta ya sudah.. tapi jangan selingkuh" cicitnya masih tetap kesal dengan Bang Ricky.
__ADS_1
Bang Ricky mengusap rambut Nindy. "Yang nggak cinta itu siapa? Kamu sendiri yang bilang begitu"
Nindy menepis tangan Bang Ricky. "Bohong, Abang nggak pernah sayang sama Nindy. Kalau Abang sayang, nggak mungkin ada perempuan lain, minimal Abang tau bagaimana Nindy disana"
"Sudah ada Hara dan Ega yang bantu."
"Abang lebih percaya orang lain daripada Abang jaga Nindy???" Sungguh Nindy begitu kecewa karena Bang Ricky sama sekali tidak peduli dengan dirinya. Selain dingin, Bang Ricky juga sangat cuek dan itu membuat hati Nindy sangat sedih.
"Maafin Abang dek, suamimu ini memang banyak kurangnya." Bang Ricky berdiri hendak meninggalkan Nindy tapi kemudian Nindy memeluk Bang Ricky. Tangisnya terdengar begitu sedih.
"Nindy tau.. Nindy tidak bisa menyenangkan Abang, Nindy tidak pintar seperti perempuan di luar sana, tapi Nindy tidak ingin di duakan."
Hati Bang Ricky sangat sakit mendengarnya, sampai dadanya terasa sesak. "Di dunia ini terkadang kamu harus belajar memahami sikap seseorang, bukan hanya lewat kata. Apalah arti sebuah kata jika berbanding terbalik dengan sikapnya. Tanggung jawab.. kita harus siap menanggung segala keputusan dan tindakan yang sudah kita lakukan, bukan hanya pandai menjawab 'siap' saja"
Nindy mendongak mencerna setiap kata dari Bang Ricky.
"Pernikahan.. adalah menyatukan dua lawan jenis dalam satu ikatan yang suci di mata hukum agama. Landasannya adalah.. menghalalkan yang haram untuk menjadi halal, memperjelas keturunan yang akan lahir ke dunia. Tidak masalah jika awalnya tidak ada cinta.. Allah yang menjamin kesucian isi hati manusia. Maka dari itu halal tersebut ada, karena dari penyatuan dua tubuh manusia berbeda jenis, akan menimbulkan rasa sayang dan cinta. Perasaan itu terkunci dan mengunci.. tepat seperti perasaan Abang Ricky untuk Nindy" ucap Bang Ricky yang entah di mengerti oleh Nindy atau tidak.
Nindy melepaskan pelukannya lalu menunduk tapi Bang Ricky mengangkat dagu Nindy agar menatap wajahnya. "Nindy paham apa yang Abang bilang?"
"Abang sayang nggak sih sama Nindy?" air mata Nindy kembali menetes.
Bang mendongak mengerjab mata sejenak kemudian berjongkok dan menciumi perut datar Nindy. "Dedek mau mandi keramas sama Papa? Papa panas nih dek!!"
.
.
.
__ADS_1
.