Perisai Hati.

Perisai Hati.
52. Menjaga bumil.


__ADS_3

"Kenapa Abang beli gudeg? Abang belikan perempuan lain ya?" Tuduh Nindy.


"Astagfirullah.. nggak lah dek. Ini tertukar.."


"Sama punya siapa??"


"Tisha??"


"Kenapa Abang malah belikan Tishaaa???" Nindy kesal sampai berjalan masuk ke dalam kamar.


//


"Dek.. sayang, ini nggak seperti yang kamu pikirkan"


"Kalau begitu apa yang Abang pikir???? Abang nggak ingat Gudeg nya Tisha, sekarang yang datang malah ayam buluh" Tisha sesenggukan masuk ke dalam kamar. "Bisa-bisanya Abang carikan maunya Nindy"


"Lailaha Illallah..!!" Bang Hara menepuk keningnya.


"Abang tukar ke rumah Bang Ricky dulu ya..!!" Pamit Bang Hara.


"Nggak usah, Tisha mau ayam buluh nya. Abang masih hutang gudeg"


//


"Yakin ini nggak di kembalikan sama Tisha?" Bang Ricky mencoba menegaskan.


"Abang tetap harus belikan Nindy ayam buluh" ucap Nindy sampai menangis sesenggukan tapi mulutnya tidak berhenti mengunyah nasi gudeg.


Bang Ricky mengangguk mantap mengiyakan permintaan Nindy. Dirinya sangat takut jika Nindy marah dan tidak mau makan.


...


Bang Ricky baru bisa bernafas lega saat Nindy sudah memutuskan untuk tidur. Ia pun duduk di teras menikmati sisa waktu dalam jeda tenang.


Dari jauh terlihat Bang Hara melangkahkan kaki menuju rumah Bang Ricky.


"Bang..!!"

__ADS_1


"Duduk sini, Tisha marah nggak?" Tanya Bang Ricky.


"Ya lumayan Bang, padahal tinggal di tukar saja tapi memang perempuan hobby ribet dan ribut." Jawab Bang Hara.


"Perempuan biasa memang begitu, tapi ini lagi hamil.. juga ngidam. Di bedakan donk..!!" Kata Bang Ricky jauh lebih santai.


"Ini berat Bang. Rasanya saya nggak mampu berhadapan sama bumil" imbuh Bang Hara.


Bang Ricky terkikik mendengar ucap juniornya. Pasalnya belum ada lima belas persen kesulitan yang akan di hadapi Bang Hara.


"Kamu tenang saja. Tidak akan terjadi riak kecil seperti ini lagi. Hanya saja.. sabarlah sedikit..!!"


"Siap Bang. Hmm.. ngomong-ngomong. Saya mau melaporkan tentang Yani.. istri Irwanto." Hati-hati sekali Bang Hara membahas soal Yani karena Bang Ricky sangat sensitif jika sudah membicarakan tentang Yani.


"Ada apa?"


"Yani tidak bisa di proses hukum karena dia sakit dan mentalnya terganggu" lapor Bang Hara.


"Nggak mungkin Har, dia waras.. hanya sifatnya saja yang licik. Itu memang wataknya." Bang Ricky terpancing emosi mendengar kabar dari Bang Hara.


"Maka dari itu Bang, sepertinya dia ada backing. Karena tanpa backing.. dia tidak akan berani berulah" jawab Bang Hara.


"Siap laksanakan Bang..!!"


\=\=\=


Siang hari usai Nindy dan Tisha melaksanakan kegiatan rutin, mereka duduk dengan para istri anggota yang lain yang bertindak sebagai pengurus ranting.


"Kaki ku sakit sekali Tisha" Nindy memercing merasakan kakinya. Ia menunduk hendak melepas sepatunya tapi perutnya yang sudah berusia tujuh bulan membuatnya kesulitan untuk menunduk.


"Aduuuhh.. maaf, aku tidak bisa banyak membantu. Perutku juga sudah mengganjal.


Saat itu ada sosok yang berjongkok di samping Nindy dan melepas sepatunya. "Abang sudah bilang pakai sandal saja. Kakimu bengkak" kata Bang Ricky kemudian memijat kaki Nindy.


"Jangan begitu Bang. Banyak ibu-ibu" Nindy menarik kakinya. Ia tidak ingin merendahkan harga diri suaminya di hadapan wanita lain.


"Sudahlah.. Abang tau pikiran mu, Abang tidak merasa di rendahkan. Ini rasa terima kasih Abang karena kamu sudah ikhlas susah payah mengandung buah hati Abang"

__ADS_1


Beberapa waktu ini Nindy sering terbawa perasaan dengan sikap Bang Ricky yang lebih memanjakan dirinya. "Apa jika anak kita sudah lahir nanti sikap ini akan berubah?"


"Tidak akan, malah rasa sayang Abang akan semakin besar" jawab Bang Ricky kemudian mengarahkan badan agar bisa mengecup kening Nindy.


"Aduuuhh"


"Kenapa dek?" Tanya Bang Ricky cemas.


"Anak Abang nendang" jawab Nindy memercing kesakitan.


Bang Ricky mengusap perut Nindy. Usapan lembut itu ternyata cukup efektif menenangkan bayi mereka yang masih ada dalam kandungan Nindy. "Jangan nakal sama Mama dek. Papa jewer telingamu ya..!!" Ancam Bang Ricky.


Nindy pun melirik Bang Ricky. "Jangan berani mencolek anak Nindy ya Bang..!!" Nindy balik mengancam.


"Jangan pura-pura lupa sayang, anak ini anak Abang juga. Kita khan hom pim pa" jawab Nindy.


"Harusnya Abang yang jangan pura-pura lupa. Abang belum ijin sama Nindy"


Suami istri ini asyik ribut sendiri melupakan Tisha ada di sana dan tidak menyadari sejak kapan Bang Hara juga ada disana.


"Oohh.. jadi Abang juga pakai mode tembak dalam?" Ledek Bang Hara tanpa sadar.


Bang Ricky tersenyum lembut tapi sarat akan pembalasan. "Jangan meledek..!! Atau tiang bendera menunggu..!!"


"Siap Abang..!!"


Tisha menggoyang ujung seragam Bang Hara.


"Kenapa sayang?" Bang Hara merespon Tisha yang cemberut, dirinya peka mungkin saja Tisha sedikit iri dengan perlakuan Bang Ricky. Ia pun mendekap sang istri. "Istri Abang minta apa?"


Tisha menggeleng pelan.


"Pulang yuk..!! Nanti Abang sayang di rumah..!!" Ajak Bang Hara.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2