
"Maksud Abang nggak begitu dek..!!"
"Abang ngaku aja, Nindy terlalu kurus dan nggak pantas di lihat" protes Nindy.
"Abang nggak ada niat bilang begitu, Abang hanya mau kamu makan banyak biar badan sehat." Jawab Bang Ricky menenangkan Nindy sebisanya.
"Jadi Nindy nggak sehat??" Nindy melirik Bang Ricky dengan pandangan jengkel plus jemu. Nindy segera melangkah meninggalkan tempat.
"Deeekk..!! Bang Ricky berusaha mencegahnya namun semua nampak sia-sia belaka.
'Duuuuhh.. mulut si Ega benar-benar ya.. lagipula kenapa beberapa hari ini istriku marah terus."
Flashback Bang Ricky on.
Hari ini aku tidak peduli lagi, batin ku sudah begitu tersiksa. Bukankah wajar jika aku melampiaskan rasa rindu pada istriku.
Sebagai seorang suami tentu saja aku yang harus lebih agresif. Jujur, tidak munafik.. aku sangat menginginkan buah hati dari Nindy. Aku paham resiko yang akan di hadapi tapi ia pun tidak mampu lagi menolak gairah yang sering bermunculan tiba-tiba.
"Abang bosan hampir setiap hari harus mandi besar dengan alasan yang tidak jelas, belum lagi kalau malam hari membayangkan kamu, bisa masuk angin Abang terguyur air sedingin es" ucapku tanpa ada yang ku tutupi lagi.
"Katanya nggak suka sama Nindy? Berarti Abang harus sikap tobat di bawah tiang bendera donk..!!"
Aku melempar senyum, tidak ada lagi alasan dari bibirku. Pasrah tak berkutik jika memang Nindy memintaku untuk jungkir balik. "Terserah apa katamu Bu Danki..!! Abang kalah"
"Nanti Abang sikap tobat ya..!!" Pinta istriku Nindy. Suaranya lembut manja dan mendayu di telingaku.
"Kayang juga boleh dek. Nggak akan pernah Abang nolak" ucapku nakal dan semakin liar tak tentu arah. Aku menjilat ludahku sendiri, setelah beberapa waktu aku menahan perasaan ku, percobaan ku yang sempat gagal benar-benar membuatku nyaris gila.
Flashback Bang Ricky off.
Bang Ricky memilih membaca Al-Quran kecil di sela kegiatan yang sangat padat untuk penyambutan panglima.
:
Beberapa saat kemudian Bang Brigas masuk ke dalam masjid. Emosinya stabil melihat Bang Ricky tengah khusyuk membaca Al-Qur'an. Memang batinnya masih bertanya-tanya tentang kejadian yang pernah di alami Nindy, tapi melihat seniornya yang terkenal anti senyum itu tidak terlihat seperti pria jahat yang akan tega menyakiti wanita nya.
__ADS_1
"Bang..!!" Sapa Bang Brigas.
Bang Ricky menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada arah suara yang menyapanya.
"Ada apa Bri?"
"Apa ada sesuatu yang Abang sembunyikan dari saya selaku Abangnya Nindy?" Akhirnya rasa penasaran itu akhirnya mencuat juga.
"Kamu tau adikmu terlibat penggunaan obat terlarang??"
"Iya Bang, saya tau dan pengobatan itu masih berjalan hingga saat ini dan Abang meminta pindah ke tempat ini juga karena mengingat riwayat hidup Nindy" jawab Bang Brigas.
"Benar, dan itu salah satu alasannya. Alasan selanjutnya adalah orang yang menyebabkan Nindy jadi seperti ini, ada disini"
"Apa Bang???? Siapa dia???" Seketika itu juga reaksi Bang Brigas tak terkendali terpancing emosi.
"Menyelamatkan adikmu harus juga dengan mental yang tenang Bri..!!" Kata Bang Ricky mengingatkan. "Tidak hanya kamu yang emosi, Abang juga emosi, Nindy istri Abang.. nggak mungkin Abang biarkan orang lain menyakiti dan memanfaatkan istri Abang seperti itu, tapi semua harus dengan perhitungan yang tepat dan matang. Abang ingin dia menerima akibat dari seluruh perbuatan nya secara total."
"Katakan Bang, siapa dia??????"
...
Nindy mengangguk sembari menyingkirkan mouse laptop di tangan nya. Wajahnya mulai pucat. "Nindy pusing Bang"
"Kamu kecapekan dek. Beberapa hari ini kamu sibuk sekali" kata Bang Ricky.
"Iya Bang, Nindy handle sedikit tugas double dari Batalyon, Mbak Maurin hamil"
"Waahh.. cepat tanggap sekali Abangmu. Kalau kamu sampai hamil, seluruh kegiatanmu off. Abang nggak mau kamu ikut kegiatan" titah Bang Ricky.
"Hmm.. memangnya Abang mau Nindy hamil juga?"
"Kita sudah menikah, kita suami istri. Tentu saja pasangan suami istri pengen ada anak di tengah pernikahan." Kata Bang Ricky.
"Bisakah di tunda dulu Bang?" Tanya Nindy.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Nindy belum siap menjalaninya. Nindy masih pengen kuliah, masih pengen belajar ini dan itu." Ucap jujur Nindy. "Jadi ibu bukanlah perkara mudah. Nindy masih bodoh, sedangkan seorang ibu harus mengajarkan pada anak-anaknya, dalam hal pengetahuan, akhlak juga agamanya."
Bang Ricky tersenyum mendengar jawaban Nindy. Dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa pasalnya sejak kejadian malam kedua itu, hampir tidak pernah dirinya tidak 'menyelesaikan' tugasnya dengan tidak sempurna, tapi ia juga membenarkan perkataan sang istri dan itu adalah tanda bahwa sebenarnya Nindy adalah gadis dengan pola pikir dewasa hanya saja sering kurang tepat penjabaran karena tidak ada yang mengarahkan. "Abang pahami maksudmu dek, tapi seandainya Allah memberi kepercayaan untuk kita, janganlah kita menolak sebab di luar sana banyak sekali pasangan suami istri yang menginginkan mendapat momongan."
"Bang, Nindy pengen makan mandai" pinta Nindy.
"Mandai?? Kamu suka Mandai???" Tanya Bang Ricky.
"Nggak tau Bang, kemarin di televisi ada yang masak tumis mandai. Nindy pengen Bang"
Bang Ricky mengangguk kemudian menghubungi ajudannya.. Om Ega.
:
Nindy tersenyum melihat Om Ega datang membawa tumis mandai dan senyum Nindy itu membuat sekujur tubuh Bang Ricky terasa terbakar.
"Ada apa senyum mu itu, apa kamu sangat cantik sampai harus senyum sama laki-laki lain??" Tegur Bang Ricky.
"Apa sih Abang?? Masa Nindy harus cemberut sama Om Ega."
"Kamu nggak pernah senyum secantik itu di depan Abang." Gerutu Bang Ricky memprotes Nindy tanpa sadar dan Om Ega menjadi salah tingkah bingung memposisikan diri.
"Jadi Nindy cantik Bang?" Mata Nindy berkedip-kedip centil menggoda Bang Ricky.
"Cantik dari mananya??" Bang Ricky memalingkan wajah menyembunyikan sikap dinginnya.
"Terima kasih Om Ega.. baik banget sih Om" sengaja Nindy semakin mengerjai Bang Ricky yang gengsinya sekokoh semen tiga bo_la.
"Waahh.. berani kamu ya. Sepertinya nanti malam Abang kudu kerja lembur. Kelamaan nggak di verifikasi jadi nakal kamu ya, jangan-jangan dinamo nya sudah error"
.
.
__ADS_1
.
.